Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Belajar untuk hidup

Leave a comment

Saya sering ditanya, kapan saya akan mengajarkan Kinan membaca dan berhitung. Jawaban saya selalu sama. Saya tidak pernah memusingkannya. Bahkan andaikata teman-teman seumurnya pun sudah pandai mengeja dan menghafal angka, dan sementara Kinan belum, saya akan bergeming.

Kecintaan akan membaca dan berhitung, menurut saya jauh lebih penting. Sedangkan keterampilan, akan menyusul dengan sendirinya. Bahkan, kecintaan terhadap proses belajar itulah yang terpenting.

Maka dari itu, sejak masih umur 1 bulan Kinan selalu kami bacakan buku. Sampai sekarang, setiap malam sebelum tidur dia akan dengan sendirinya mengambil 3-4 buku, dan tidak akan bersedia tidur sebelum dibacakan.

Sekarang begini. Umur tiga atau empat tahun sudah lancar membaca, tetapi kelak di usia tiga puluh tahun tidak pernah membaca satu pun buku dalam tempo dua tahun, apakah faedahnya?

Sebagai seorang dosen, saya cukup terkejut dengan kemampuan umum mahasiswa yang kurang. Padahal, notabene saya mengajar mahasiswa ITB, yang secara kemampuan intelektual tidak dipertanyakan lagi.

Di sebuah kelas Statistika, saya bertanya, “Saya punya teka-teki, menurut Anda, 1) Penduduk Jawa Barat itu 40 jutaan atau 4 jutaan? 2) Penduduk Kota Bandung apakah 2,5 juta atau 8 juta? 3) Jika saya bilang bahwa GDP Indonesia dan Belanda tidak berbeda terlalu jauh, apakah kalian percaya? 5, Jelaskan kepada saya, bagaimana bisa data BPS menyebutkan bahwa rata-rata orang di Jakarta mendapatkan pendapatan lebih dari 12 juta rupiah per bulan? 5) Kalau saya berikan peta buta Indonesia, dengan hanya berbekal penggaris, bisakah kalian memperkirakan waktu tempuh antara Semarang-Bandung, Surabaya-Yogya, atau Medan-Banda Aceh?”

Bagaimakah hasilnya? Sebagian besar salah! Mengherankan sekali. Bisa menggunakan metode dan software statistika yang canggih, tetapi tidak bisa menebak hal sesederhana seperti jumlah penduduk Jabar?

Hal ini tidaklah masuk ke dalam logika saya. Pasalnya, informasi semacam itu adalah pengetahuan umum. Apakah mereka tidak pernah baca koran, atau setidaknya berita online? Bukankah secara nalar juga bisa dianalisis dengan mudah. Penduduk Indonesia itu ada 250 juta. Jika dibagi rata ke 30-an provinsi, maka setiap daerah akan punya setidaknya 8 juta penduduk. Jabar ini terletak di Pulau Jawa, yang kita ketahui sebagai pulau terpadat. Mana mungkin penduduknya hanya 4 jutaan?

Bukankah pemuda dan pemudi itu telah belajar dan lulus Geografi (IPS), serta Matematika? Tentu saja dengan nilai memuaskan, karena mereka diterima di ITB. Untuk apakah belajar yang semacam itu. Hanya mengejar keterampilan, atau mungkin malah cuma ingin nilai. Namun pengetahuan umumnya terlupakan sama sekali.

Saya pun menjadi tidak heran kalau pertanyaan terakhir tidak bisa dijawab. Lha wong kota-kota besar di manakah letaknya di peta Indonesia, mungkin tidak ada bayangan sama sekali. Kemudian untuk apa dulu jam-jam yang dihabiskan ketika mendengar guru IPS saat SD menjelaskan peta tanah air kita.

Apakah ini adalah sebuah masalah? Menurut saya iya. Cara belajar semacam ini tidaklah baik. Sibuk sekolah, sibuk belajar, tetapi untuk apa? Hanya tahu kulitnya tanpa mengerti esensi.

Membaca buku sejarah karena takut dapat nilai jelek. Latihan soal matematika karena takut tidak naik kelas. Menekuni peta Indonesia karena takut terhadap guru. Belajar seperti robot, tanpa ada rasa suka.

Saat kelas 4 SD dulu, saya rajin membaca buku-buku sejarah kelas 5 dan 6, begitu pula dengan pelajaran geografi. Bukan karena ingin dapat nilai bagus, tapi karena memang suka. Semata ingin tahu. Saya pun tak pernah setekun itu membuku buku-buku matematika, karena memang saya tidak tertarik.

Jika dengan hal-hal yang kasat mata saja tidak punya pemahaman yang baik, bagaimana dengan halusnya kepekaan panca indera terhadap masalah di masyarakatnya? Jadinya adalah seperti yang Rendra tuturkan. Sekolah bagaikan mesin. Individu bisa saja sukses. Tetapi apakah akan berdampak terhadap lingkungan, kita tidaklah tahu.

Saya tidak mau mendidik anak saya dengan cara seperti itu. Biarlah dia bermain. Biarlah dia belajar yang suka. Karena cinta akan belajar jauh lebih penting dibanding bisa hafal angka dan aksara.

Saya selalu yakin dengan pepatah sejak ratusan tahun yang lalu. “Non scholae sed vitae discimus.” Kita itu belajar tidak untuk ijazah (sekolah), kita belajar untuk hidup.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s