Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Sabar

2 Comments

OBB Austria

Brosur dari OBB (KAI-nya) Austria

Tempo hari saya membaca sebuah artikel, yang memberitahukan bahwa Mathieu Flamini -eks gelandang Arsenal- saat ini adalah pesepakbola terkaya di dunia. Jauh melebihi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Para pecinta bola pasti sudah tahu bahwa dibandingkan Messi, Ronaldo dan para pesepabola top lainnya, karir Flamini biasa-biasa saja. Jadi logikanya, tidak mungkin kekayaannya itu berasal dari gaji, atapun endorsement di luar sepakbola.

Apakah Flamini ini berasal dari keluarga kaya seperti Andrea Pirlo, yang bapaknya punya pabrik baja? Ternyata tidak juga. Justru sebaliknya, Flamini mendapatkan kekayaannya dari perusahaan yang sedang dirintisnya bersama Pasquale Granata sejak tahun 2008 yang lalu.

Fakta bahwa seorang pesepakbola yang bermain di liga top (sampai sekarang Flamini masih aktif bermain), masih sempat membuat bisnis bernilai triliunan rupiah saja sudah mengagumkan. Saya makin salut, begitu mengetahui bahwa perusahaan Flamini, GFBiochemicals, bergerak di bidang teknologi tinggi. Mereka memproduksi levulinic acid, sebuah senyawa kimia yang berasal dari sampah-sampah organik. Acid yang satu ini memiliki potensi besar untuk menggantikan sumber energi saat ini, dengan area aplikasi yang amat luas.

Terlepas apakah perusahaan Granata dan Flamini akan berhasil (namanya juga invensi, bisa saja tidak sukses secara komersial), terdapat satu hal menarik dari berdirinya GFBiochemicals. Usaha-usaha untuk meneliti levulinic acid sudah dilakukan oleh duo partner bisnis ini sejak satu dasawarsa yang lalu. Mereka menggandeng peneliti-peneliti kimia dari Universitas Pisa.

Flamini mengklaim bahwa jutaan Euro sudah dihabiskannya untuk riset. Apakah saat berinvestasi dia sadar ada risiko gagal? Sudah pasti. Tetapi itulah sebuah pelajaran berharga yang bisa kita petik. Tidak ada sebuah kesuksesan yang instan. Kalau ingin berhasil, harus bersedia mengeluarkan dana besar. Tidak cuma dari sisi pendanaan, yang paling penting, apakah kita mempunyai cukup kesabaran sampai investasi kita itu membuahkan hasil?

Jangka panjang

Memikirkan hal ini saya jadi teringat sebuah kejadian di musim gugur tahun 2016. Ketika itu, saya dan anak isteri sedang berada di kereta api dari Wina ke Praha. Durasi perjalanan selama 4,5 jam membuat anak saya tertidur di pangkuan. Sebelah tangan saya yang bebas memegang brosur yang ditampilkan di awal artikel ini.

Saya tidak bisa berbahasa Jerman, Anda mungkin juga tidak. Lantas apakah yang menarik dari foto tersebut? Tidak lain adalah, informasi yang menyatakan bahwa OBB (PT KAI-nya) Austria akan berhasil memangkas durasi waktu tempuh dari Wina ke Klagenfurt. Rute sejauh 320 km yang sekarang ditempuh selama hampir 4 jam, di tahun 2026 bakal menjadi sekitar 2,5 jam saja.

Menurut Anda, apakah yang bisa kita simpulkan dari informasi tersebut? Percaya diri? Arogan, karena ingin pamer prestasi di bidang infrastruktur? Atau malah Anda berpikir, informasi semacam itu buang-buang waktu saja, karena toh realisasinya masih lama sekali?

Kalau saya, justru berpikir bahwa wajar jika bangsa Eropa memiliki peradaban yang unggul. Perencanaan yang mereka lakukan jangka panjang, dan visioner. Tidak kalah penting, mereka sabar dan konsisten dalam melakukannya. Bukan soal kecepatan keretanya. Jika hanya soal teknologi, sebenarnya Bandung-Cilegon (250 km) dan Surabaya-Banyuwangi (290 km) juga bisa dibikin jadi 3 jam.

Tapi yang lebih penting adalah kesabaran dan komitmen bersama untuk maju. Saya yakin rencana semacam ini sudah dipikirkan minimal sejak 5 tahun yang lalu. Kalau target selesainya tahun 2026, berarti “hanya” untuk sekelas proyek penambahan jalur kereta saja, Austria sabar menunggu selama 15 tahun!

Tidak ada suatu kemajuan yang dicapai dengan cara instan. Perlu kesabaran di dalamnya. Insinyur-insinyur tanah air juga bisa bikin terowongan dan infrastruktur kereta api yang canggih. Tapi saat proyek kereta cepat ingin diselesaikan hanya dalam 5 tahun, disitulah nyata terpampang kalau kita kurang sabar. Jepang yang maju pun, saat ini kalau ada penambahan jalur kereta cepat, masih mengambil tempo 20 tahunan. Jangankan sebuah proyek infrastruktur. Saat di tahun 2013 Jepang tahu bahwa Tokyo terpilih untuk melaksanaan Olimpiade musim panas 2020, seketika itu juga Negeri Sakura memulai usaha promosi. Bandingkan dengan Asian Games 2018, kapankah promosi dimulai?

Ini hanyalah salah satu contoh. Di bidang lain pun banyak cerita ketidaksabaran kita. Baik di pemerintahan, industri, atau universitas sama saja lebih suka yang instan. Bahkan jika kita lihat ke dalam elemen terkecil, apakah kita cukup sabar dalam mengantri? Apakah kita sudah sabar jika harus mengulang ujian praktik SIM yang gagal?

Hikmah yang lain adalah dikesampingkannya ego pribadi. Kita semua tahu bahwa proyek jangka panjang itu kurang digemari di tanah air karena tidak populer untuk jabatan pribadi.

Untuk apa saya merencanakan sebuah proyek? Walaupun bagus, baru terlihat hasilnya saat jabatan saya sudah selesai. Untuk apa saya bikin proyek yang hasilnya akan dinikmati pejabat sesudah saya?

Coba lihat kembali proyek OBB Austria ini. Kalau jangka waktunya 15 tahun, orang yang menginisiasi proyek ini (asumsinya sudah senior manager), mungkin sudah pensiun saat proyek sudah selesai (mungkin juga sudah meninggal). Tapi karena memang membawa kemaslahatan, proyek disetujui. Orang yang melanjutkan pun sama legowonya. Walaupun proyek tersebut adalah bawaan dari rezim sebelumnya, komitmen tetap dilaksanakan.

Seperti itulah harusnya sikap kita. Kepentingan bersama di atas ego pribadi. Banyak yang bilang kalau orang barat itu individualis. Benarkah demikian? Ah, jangan-jangan kita yang salah berprasangka.

Bandung, Maret 2018

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Sabar

  1. Mantabs bro. Hanya pembanding, di Indonesia yg tidak sabar mungkin itu investornya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s