Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Penikmat Bisnis Digital

1 Comment

Era digital telah memunculkan berbagai pencapaian yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Hanya dalam tempo kurang dari tiga tahun sejak diluncurkan, GO-JEK berhasil menarik minat 900 ribu orang untuk menjadi pengemudi [1]. Hebatnya lagi, perusahaan teknologi berbasiskan daring ini tidak memiliki satu motor dan mobil pun. Jika ditambah dengan mitra berupa penjual makanan, pemijat, sampai dengan montir, tenaga kerja yang diserap oleh GO-JEK bisa lebih dari satu juta jiwa.

Cerita yang sama terjadi untuk Tokopedia. Berawal dari sebuah forum jual beli, saat ini e­-commerce terbesar di Indonesia ini memiliki lebih dari dua juta pelapak, dengan jumlah barang yang dijual mencapai hampir sepuluh juta unit [2]. Belum lagi jika kita membicarakan e-commerce lain yang sejenis.

Penikmat utama

Dari kacamata investasi, angka-angka tersebut jelas luar biasa. Secara kasat mata, terjadi pertumbuhan aktivitas ekonomi. Pelapak-pelapak di daerah yang sebelumnya mungkin tidak punya saluran untuk memasarkan barangnya, sekarang dengan mudah memperkenalkan barangnya ke seluruh penjuru Nusantara. Teknologi digital membuat penyampaian informasi menjadi tanpa batas. Setiap orang dapat melakukannya dengan biaya yang amat murah. Ekstensifikasi saluran pemasaran ini tentu menguntungkan. Seperti diketahui, salah satu problematika utama dari usaha kecil selama ini bukanlah pada kualitas produk, namun bagaimana dapat memperkenalkan produk-produk mereka kepada konsumen.

Sedangkan dari sisi penciptaan lapangan kerja, jumlah yang terserap dari bisnis transportasi daring saja sudah sangat besar. Tenaga kerja sebesar satu juta jiwa bahkan sudah melebihi seluruh tenaga kerja dalam sebuah sektor. Akses yang mudah terdapat industri digital juga telah memberdayakan kelas-kelas sosial yang selama ini mungkin aktivitasnya tidak teroptimalkan. Para ibu rumah tangga sekarang dapat berjualan aneka rupa barang, tanpa harus meninggalkan dapurnya, cukup dengan mendaftarkan produknya di salah satu situs e-commerce. Begitu pula dengan pebisnis mula semakin berani untuk membuka restoran/warungnya. Kecenderungan konsumen untuk menggunakan layanan pesan antar secara tidak langsung juga telah menurunkan kebutuhan luas areal tempat makan. Modal yang dikeluarkan pebisnis untuk menyewa tempat menjadi menurun.

Tentu tidak boleh pula dilupakan bahwa bisnis-bisnis ini telah mendatangkan banyak investasi ke Indonesia. Triliunan rupiah telah digelontorkan ke berbagai start-up, baik dari investor dalam negeri maupun asing. Jumlah investasi yang tidak main-main menunjukkan bahwa kegiatan usaha di era baru ini memiliki potensi bisnis yang menjanjikan.

Namun di balik segala potensinya, kita patut mendudukkan perkembangan teknologi digital secara holistik. Apakah betul bahwa perkembangan di sebuah sektor tidak menjadi predator di sektor lainnya? Apakah tenaga kerja yang terserap adalah mereka yang selama ini belum memperoleh peluang untuk direkrut industri, atau sebaliknya malah hanya perpindahan labor antarsektor saja? Lebih penting lagi, apakah triliunan investasi tersebut hanya akan menguntungkan sebagian pihak, atau pemerintah dapat memanfaatkanya untuk menciptakan daya guna yang lebih luas, dalam hal ini adalah kesejahteraan rakyat?

Berebut permintaan

Bukti nyata terpampang jelas sejak pertama kali bisnis daring bergulir. Munculnya GO-JEK dan perusahaan sejenisnya telah menyerap jutaan pengemudi. Industri otomotif pun ikut menikmati lonjakan permintaan sepeda motor dan mobil, serta industri keuangan juga mengalami lonjakan pengajuan kredit kendaraan. Namun di sisi yang lain, angkutan umum konvensial mengalami penurunan signifikan. GO-JEK tampak efisien karena mereka tidak punya aset. Sebaliknya, angkot-angkot justru mengalami inefisiensi besar-besaran dengan armadanya yang kosong, dan menunggu bangkrut.

Kasus yang serupa terjadi di Tokopedia dan bisnis e-commerce lainnya. Banyak pelapak daring yang menikmati keuntungan besar. Begitu pula, data menyebutkan bahwa volume pengiriman perusahaan kargo meningkat secara drastis [2]. Sebaliknya, banyak toko offline mengalami kemunduran. Beberapa sampai harus gulung tikar.

Mengapa ini terjadi? Karena pada dasarnya, baik GO-JEK maupun Tokopedia tidak menciptakan permintaan yang baru. Padahal dalam kegiatan ekonomi, yang terpenting adalah adanya permintaan. Jumlah orang yang membutuhkan transportasi tidak berbeda terlalu signfikan sebelum dan sesudah era daring. Pesatnya permintaan GO-JEK hanyalah mekanisme pasar yang normal, di mana konsumen menginginkan layanan yang lebih bagus dari saat ini.

Begitu pula, permintaan konsumen untuk produk-produk retail tidak melompat drastis sebelum dan sesudah Tokopedia beroperasi. Adanya toko-toko daring praktis hanya memindahkan transaksi dari sebelumnya di pasar ke dalam dunia maya. Permintaannya sendiri akan cenderung konstan, selama daya beli masyarakat belum beranjak dari titik sekarang.

Perlu dicermati pula bahwa mayoritas bisnis e-commerce didominasi aktivitas jual-beli/retail. Kegiatan retail menghubungkan antara produsen dengan konsumen (warna kuning). Jika permintaan konsumen tidak meningkat, maka seluruh pelaku dalam rantai pasok, produsen, pemasok, dan penyedia bahan baku pun akan stagnan aktivitasnya. Sehingga, rantai nilai dari industri tidak tumbuh.

Payung hukum dan rencana pemerintah

Dalam hal ini, peran dari pemerintah, adalah memastikan bahwa perkembangkan teknologi digital akan membuat seluruh tarikan rantai nilai tumbuh. Dalam akvititas ekonomi, jika daya beli konsumen lokal belum meningkat, maka salah satu cara untuk menumbuhkan ekonomi negara adalah dengan menciptakan kelebihan produksi, untuk diekspor.

Bagaimana kemudian teknologi daring bisa mendorong kelebihan produksi? Jika didominasi oleh aktivitas e-commerce retail seperti saat ini, tujuan itu tidak akan pernah tercapai. Retail hanya berputar di dalam negeri. Untuk menciptakan kelebihan produksi, teknologi digital harus dipandang sebagai sebuah mekanisme untuk membuat aktivitas produksi menjadi lebih efisien. Sehingga, penghematan anggaran dapat dipakai untuk menciptakan produksi yang lebih banyak.

Di negara-negara maju, teknologi digital telah didorong untuk tidak hanya menumbuhkan retail, namun juga sektor-sektor lain. Di Belanda telah banyak diciptakan komunikasi digital, sehingga saat di rumah terjadi kerusakan listrik, gas, ataupun internet, prosedur perbaikan dapat diselesaikan hanya dengan bermodalkan percakapan antara konsumen dengan operator. Dengan cara ini, operator tidak perlu datang ke rumah, biaya transportasi nihil, bahkan mungkin jumlah operator bisa dikurangi.

Sekilas tidak masuk akal, bagaimana masyarakat bisa berdaya jika tenaga kerja jsutru berkurang? Tentu saja mind set yang dipakai adalah perluasan aktivitas ekonomi. Tenaga kerja terampil dapat dialihkan ke sektor industri baru yang akan diciptakan. Sebaliknya yang terjadi di Indonesia, banyak pelapak di e-commerce yang sebetulnya adalah mereka yang sudah bekerja mapan di kantor. Artinya, tidak terjadi penciptaan nilai tambah untuk tenaga kerja yang selama ini memang belum pernah terserap.

Tak boleh dilupakan juga bahwa menjelang masifnya era industri 4.0, data dan digitalisasi akan membawa banyak perubahan. Pabrik-pabrik pun mulai menyadarinya. Daripada membayar sejumlah UMR hanya untuk pekerja yang tugasnya adalah mendorong palet hilir-mudik, akan lebih murah kalau membeli sebuah robot.

Untuk mewadahi berbagai perkembangan ini, payung hukum dari pemerintah sangatlah penting. Pemerintah harus memiliki rencana, seperti apakah kelak industri tanah air di era digital. Jangan seperti saat ini, berbagai peraturan yang dikeluarkan adalah tindakan reaktif. Pemetaan setiap industri, dan bagaimana perkembangannya di masa yang akan datang, mutlak diperlukan.

Hal-hal ini harus kita pikirkan bersama. Jangan sampai di saat negara-negara lain sudah menikmati keuntungan besar dari berjualan data digital, kita masih berkutat di jual-beli/retail daring. Memang tampak ramai dan menggiurkan. Namun hanya bagi sebagian kalangan. Bagi seluruh rakyat, rasanya tidak bisa terlalu diharapkan sebagai pengungkit untuk membuat sejahtera.

Referensi

  1. K. Bohang, “Berapa Jumlah Pengguna dan Pengemudi Go-Jek?”, https://tekno.kompas.com/read/2017/12/18/07092867/berapa-jumlah-pengguna-dan-pengemudi-go-jek, diakses pada 16 Maret 2018.
  2. Idris, “Tokopedia Raup Rp 1 Triliun Per Bulan”, https://inet.detik.com/business/d-3585265/tokopedia-raup-rp-1-triliun-tiap-bulan, diakses pada 16 Maret 2018.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

One thought on “Penikmat Bisnis Digital

  1. saya catat: hanya pemindahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s