Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Akhlak dan Agama

Leave a comment

Tempo hari saya membaca sebuah artikel menarik dari seorang teman yang penulis beken. Isinya menceritakan bagaimana budaya tepat waktu di Belanda adalah sebuah bawaan. Namun itu bukanlah sebuah bawaan lahir (nature), melainkan sebuah dampak dari pengajaran (nurture). Bisa juga kita sebut sebagai an experimented nature. Pemerintah, dalam hal ini melalui lembaga pendidikan (sekolah), melakukan rekayasa sosial. Supaya kelak saat dewasa, warga negara Belanda memiliki sifat yang kurang lebih sama dalam hal tijden; tepat janji, tidak ngaret, dan menghargai waktu orang lain.

Artikel tersebut mengantarkan saya ke sebuah kontradiksi yang sudah terpikirkan sejak cukup lama. Jadi begini, jumlah orang yang tidak beragama (irreligious) sudah lebih dari separuh populasi Belanda. Namun, dalam hal akhlak ke sesama manusia dan ke alam, menurut saya mereka jauh lebih beradab dibandingkan dengan warga Indonesia, yang notabene hampir semuanya adalah insan yang terikat dengan afiliasi agama. Tentu Anda boleh tidak percaya, tetapi, saya empat tahun tinggal di negeri kincir angin, dan saya punya alasan-alasan kuat akan hal ini.

Sebetulnya kita tidak perlu heran, karena ini adalah fenomena yang makin jamak ditemui di negara-negara maju. Keyakinan saya berpangkal pada logika sederhana. Jepang, Jerman, negara-negara Skandinavia, dan banyak lagi yang lainnya, boleh sudah banyak yang tidak beragama. Namun tanpa akhlak yang mulia dari mayoritas warganya, tidak mungkin negaranya bisa maju. Akhlak mulia ini kan membicarakan perilaku manusia yang mau diatur, mengesampingkan ego pribadi, menghargai hak orang lain, dan tidak mencuri uang negara. Tanpa ada warga negara dengan sifat-sifat tersebut, niscaya sebuah negara akan seperti Indonesia saat ini, sulit diatur, berantakan.

Mengamalkan dan mengajarkan

Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin jutaan jiwa yang tidak pergi ke tempat ibadah, dan tidak pernah belajar berbaris di saf, bisa sabar mengantri? Apakah mungkin orang-orang yang tidak percaya dengan pembalasan di hari akhir, tidak bersedia mengambil yang bukan haknya? Toh andaikata korupsi, mereka percaya urusan mereka akan selesai begitu mati. Beda dengan kita yang (mestinya) selalu dihantui ketakutan akan panasnya api neraka kelak. Dengan cara apa, penduduk yang tidak mengimani kewajiban berzakat, tidak berontak saat harus membayar asuransi kesehatan yang mahal? Padahal mereka sadar, mahalnya asuransi itu bukanlah untuk mereka, melainkan sebagai subsidi silang bagi biaya kesehatan para manula yang ongkosnya besar.

Semua itu sangat bertolak belakang, tetapi, jawaban akan hal ini sebenarnya telah tersedia sejak empat belas abad yang lalu. Pertama, akhlak memang tidak bergantung kepada status ber-Tuhan seseorang. Kedua, akhlak bukanlah sebuah dogma yang bisa melekat begitu saja, ia harus diajarkan, dicontohkan, dan diamalkan.

Mari kita tengok sejarah. Saat masih menjadi musuh utama Islam, Umar bin Khattab terkenal sebagai seorang dengan perangai kasar. Dia adalah jagoan gulat Quraisy dan seorang pemabuk. Suatu saat, Umar berdagang ke Damaskus. Mitra dagangnya, seorang Arab-Syam (waktu itu Syam dikuasai oleh Romawi) menghampirinya dan meminta Umar melakukan kecurangan dagang, dengan potensi keuntungan yang tidak sedikit.

Umar menolak, dan mitranya itu bertanya, kejujuran semacam itu, apakah berhala-berhala Quraisy yang mengajarkan? Pertanyaan itu adalah sebuah sindiran, karena dia tahu bahwa bangsa Arab-Quraisy terkenal dengan kebiasaannya dalam mengurangi timbangan, dan berbagai praktik dagang lain yang buruk. Umar menjawab, “Aku tidak belajar dari siapa pun, kejujuran adalah sifat dasar dari setiap manusia.”

Apa yang bisa kita petik? Setiap orang sudah dibekali Tuhan dengan sifat-sifat baik, tergantung bagaimana cara kita memanfaatkan. Tidak perlu seseorang harus beragama dahulu baru berakhlak mulia. Makanya, dalam kebengisan Umar yang pernah mengubur hidup-hidup bayi perempuannya, masih terbersit seberkas akhlak untuk tidak mencurangi pelanggannya.

Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu fokus utama dari Nabi Muhammad S.A.W dalam dakwah Islam. Sedari awal, sudah barang tentu Nabi mengimpikan kelak negeri Islam akan membentang megah di seluruh penjuru dunia. Namun, untuk membangun negeri, terlebih dahulu sumber daya manusia yang unggul harus disiapkan.

Muhammad tidak membangun akhlak umatnya semata dengan khotbah agama. Bayangkan, bangsa Arab di abad 7 M peradabannya amat terbelakang. Tidak mungkin mengubah cara berpikir masyarakat yang sudah berkarat puluhan tahun dengan dogma. Nabi mencontohkan. Islam memerintahkan untuk menyantuni fakir miskin, Nabi mendatangi mereka yang tidak mampu. Islam mengharuskan kita bersikap sopan, Nabi adalah orang yang paling halus tutur katanya. Kejujuran adalah harga mati dalam Islam, Muhammad sudah dikenal sebagai Al-Amin (the truthful) sejak masa mudanya.

Relevansi agama

Melihat contoh nyata terpampang di hadapannya, umatnya pun meniru, dan dalam tempo lima puluh tahun sejak syiarnya yang pertama, Islam sudah menguasai seperempat dunia. Sejarah kemudian mencatat, ratusan tahun kemudian, bangsa Eropa yang tekun menggali zaman keemasan Islam, mulai menerapkan konsep-konsep mulia itu ke dalam sendi-sendi kehidupannya.

Apa yang terjadi? Mereka sukses besar. Eropa sadar bahwa pondasi sebuah peradaban adalah karakter manusianya. Maka pendidikan betul-betul diperhatikan. Sedari kecil, seperti di pembuka tulisan ini, insan-insan belia disiapkan agar kelak memiliki karakter unggul.

Anak-anak yang sejak kecil dicontohkan langsung pentingnya waktu, sampai mereka dewasa ajaran itu akan melekat. Khalifah Umar dulu pernah menyita aset pribadi seorang sahabat ke kas negara. Pasalnya, si sahabat tidak mampu mengolah tanah yang sedemikian luas. Daripada tidak bermanfaat, lebih baik negara yang mengolahnya. Sekarang di beberapa negara Eropa, jika seseorang memiliki properti lebih dan tidak ditinggali, maka ada kemungkinan dikenakan pajak yang jumlahnya tidak menyenangkan. Islam memungut pajak untuk dikelola baitul maal. Eropa juga menarik pajak tinggi, untuk kemaslahatan masyarakat. Pada prinsipnya tidak berbeda. Semua harus tunduk ke negara, untuk kepentingan bersama.

Eropa berhasil, karena akhlak masyarakatnya dibina dengan baik. Sayangnya, seiring waktu berjalan, aspek spiritual ditinggalkan, tetapi nyatanya mereka tetap menjadi negara maju. Sementara Indonesia yang religius, masih menjadi negeri yang semenjana. Di sini kita kembali dihadapkan pada sebuah kontradiksi. Masihkah agama relevan? Perlukah agama jika secara statistika jelas terbukti bahwa yang peradabannya maju itu adalah yang irreligious?

Dikotomi semacam ini saya sebut sebagai pelemahan kemampuan berpikir. Saya jelas tidak sependapat. Mengapa harus meninggalkan agama? Dari sejarahnya, zaman keemasan Islam dapat mencapai kesetimbangan antara kesuksesan duniawi dan spiritual. Ilmuwan-ilmuwan banyak yang menghasilkan penemuan brilian, sementara ulama-ulama jempolan juga banyak berkibar.

Kalau Indonesia yang religius tidak maju, mestinya kesalahan ada pada penerapan agama. Masyarakat tidak beranjak dari pemaknaan agama dari sekedar tataran ekstrinsik. masyarakat yang ada di tingkatan ini memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, bukan untuk kehidupan. Mereka sholat, zakat, puasa, tetapi hanya di luarnya, tidak mengerti bahwa agama adalah juga untuk membuat kehidupan yang lebih manusiawi. Terkadang orang bisa memiliki sebuah kepercayaan, bahwa menyembah sujud Tuhan lebih bisa mengubah nasib, dibandingkan membanting tulang supaya anaknya bisa bersekolah.

Dalam aspek pengajaran yang lain pun kurang lebih sama. Dalam pelajaran PPKn banyak ditemui pertanyaan tentang hak-hak pengguna jalan, tetapi kita tidak dicontohkan bagaimana cara menyeberang di jalan. Mahasiswa diharapkan untuk turut mengentaskan kemiskinan, padahal mereka tidak pernah mengerti apa definisi miskin. Mengunjungi rumah tukang cuci di kos-nya pun mungkin tak pernah. Akhirnya, perilakunya jauh dari ideal. Jangankan mengentaskan kemiskinan, ujian pun menyontek (Nah!)

Menurut saya, agama tidaklah pernah salah. Kalau dengan menerapkan sebagian saja Eropa bisa sukses, apalagi kalau diterapkan semuanya. Namun kita juga tidak boleh malu mengakui bahwa mengajarkan dan mengamalkan akhlak yang baik tidak kalah pentingnya. Yang jelas kita harus ingat. Negara yang maju itu tidak dibangun semata dengan doa. Ada kerja keras dan perilaku mulia masyarakat di baliknya.

Bandung, April 2018

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s