Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Pengelolaan Sampah di Belanda

Leave a comment

Sampah 1

Afvalbrengstation (lit. Stasiun pembuangan sampah) di Groningen, Belanda.

Salah satu hal yang ingin saya buktikan saat tiba di Belanda dulu adalah kebersihan lingkungannya. Kalau melihat di film-film, trotoar, sungai, taman, dan jalan di negara-negara maju pada umumnya bersih.

Ternyata memang betul. Semuanya bersih! Meskipun menurut kawan saya Belanda lebih “kotor” jika dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang (saya belum pernah ke sana), menurut saya tetap saja tidak ada bungkus plastik sisa makanan di jalan, sungai yang bau, apalagi tumpukan kantong sampah di sudut jalan.

Tertib karena dipaksa

Sudah pasti saya mengira bahwa kebersihan itu diakibatkan oleh orang-orangnya yang tertib dalam membuang sampah. Maklum, kita ini sebagai orang Indonesia cenderung punya masalah inferioritas. Semua yang berbau barat dianggap top. Sampai-sampai, kadang kita berpikir bahwa orang bule itu memang unggul dari sono-nya.

Padahal tidak seperti itu. Kalau diamati, ada juga kok orang-orang Belanda yang kalau di tempat umum buang sampah tidak pada tempatnya. Apalagi yang buang puntung rokok sembarangan, jangan ditanya.

Lalu kalau orang-orangnya ternyata tidak tertib-tertib amat, bagaimana negaranya bisa rapi dan bersih? Saya baru sadar setelah isteri datang dan kami harus mengurus rumah sendiri. Ternyata, Pemerintah Belanda memang memaksa warganya untuk tunduk pada aturan soal kebersihan.

Di Belanda, membuang sampah memang “merepotkan”. Tetapi setelah kembali di Indonesia, saya lebih memilih repot dibanding mudah buang sampah. Kenapa? Karena dengan repot itu, prosedur buang sampah sangat jelas, orang-orang tertib, dan pastinya, lingkungan jadi bersih. Ketertiban dan kebersihan yang dibahas dalam hal ini adalah seragam untuk satu kota. Jadi tidak bisa kita bandingkan dengan beberapa komplek saja di tanah air.

Jadwal sampah Gemeente.png

Jadwal sampah di Groningen. Pemerintah kota (Gemeente) bertanggung jawab untuk mengelola sampah rumah tangga. Di awal tahun, setiap rumah dapat mengunduh jadwal pengambilan sampah masing-masing alamat. Baris pertama menunjukkan bahwa sampah RT dalam bak sampah besar (grijze container) harus diletakkan di tempat yang sudah ditentukan antara jam 6-8 pagi. Untuk jenis sampah yang lain, misal pohon natal (kerstboom) juga ditentukan jadwalnya. Lengkapnya dapat diunduh di sini.

Repotnya bagaimana? Yang paling jelas, biayanya mahal. Di Kota Groningen, untuk rumah dengan lima penghuni, iuran sampah sekitar 500 ribu rupiah per bulan. Dengan biaya segitu, bukan berarti kita bebas buang sampah kapan saja. Tidak! Petugas sampah hanya akan mengambil setiap dua minggu. Di hari dan (catat) jam yang ditetapkan. Lewat jadwal, tumpukan sampah di rumah Anda tanggung sendiri.

Untuk setiap rumah, pemerintah menyediakan satu buah tong sampah besar. Tong itu harus di taruh di depan rumah sebelum jadwal pengambilan. Untuk lingkungan saya dulu, kami harus geret tong di lokasi penjemputan sekitar 50 meter dari rumah. Karena bentuknya seragam, tong itu dengan mudah diangkat oleh truk, dibalik, dan ditumpahkan isinya ke truk.

Lagi-lagi, buang sampah rumah tangga di tong ini pun tidak boleh seenaknya. Hanya berupa sampah dapur, itupun harus dimasukkan ke kantong sampah yang terbungkus rapat. Sedangkan barang-barang seperti kertas, pakaian bekas, sepatu, pecah belah, bohlam harus dibuang di tempat khusus. Kita tidak perlu repot mencarinya. Pemerintah sudah menyediakan di berbagai tempat.

Lalu bagaimana dengan barang-barang besar seperi kursi bekas, lemari, atau sepeda? Jangan harap ada tukang rombeng keliling yg datang. Kita harus membawanya sendiri ke afvalbrengstation (lit. tempat kita bisa menaruh sampah). Di Groningen yang penduduknya sebanyak 200 ribu jiwa, seingat saya terdapat dua stasiun pembuangan sampah.

Gratiskah membuang sampah-sampah besar di afvalbrengstation? Ya, tetapi maksimal hanya empat kali per tahun. Selebihnya, harus bayar sesuai dengan volume sampah yang dibuang.

Saya beberapa kali ke afvalbrengstation, seperti terlihat di foto. Lokasinya jauh dari bayangan sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) yang kumuh. Di situ, sudah terdapat beberapa kontainer sesuai dengan jenis sampah, logam, kayu, elektronik, dll.

Repot tapi teratur

Repot ya urusan sampah di negeri Belanda? Memang iya, tetapi dampak positifnya amat banyak. Lingkungan menjadi bersih, karena sudah jelas sampah dibuang kemana. Service level dari tukang sampah amat jelas. Membuat warga tidak berinisiatif sendiri, seperti saya di Indoensia yang kadang bingung karena berhari-hari tukang sampah tidak datang.

Sampah 3

Sampah dibagi berdasarkan jenis. Ini adalah kontainer untuk barang-barang dari logam. Di afvalbrengstation semua harus mandiri. Petugas hanya mengarahkan.

Kalau mau jujur, sebetulnya peraturan di Belanda juga tidak ketat-ketat amat. Artinya, kalau mau nakal tidak memisahkan sampah dan semua dimasukkan ke sampah dapur, peluang ketahuannya kecil. Tetapi dengan ikatan kebiasaan yang sedemikian ketat, orang bakal malu melakukannya.

Selain itu, dampak positif yang baru saya sadari selama di sana adalah kita jadi lebih bijaksana dalam membeli barang. Karena sadar bahwa buang sampah itu merepotkan, kalau mau beli barang, terutama yang besar mikir berkali-kali. Barang yang lama bisa dibuang tidak ya? Apakah benar sudah perlu ganti? Dll. Secara tidak langsung, ini mengajari warga supaya tidak boros.

Lalu bagaimana dengan urusan persampahan di Indonesia? Terus terang saya tidak tahu jawabannya. Di negara kita, yang bertanggung jawab mengelola sampah siapa, kita pun tidak jelas. Di Belanda, yang mengelola adalah Gemeente (pemerintah kita). Warga bayar afvalbelasting (pajak sampah) ke mereka. Jadi kalau ada yang tidak beres, protesnya mudah. Sementara di tanah air, di setiap lingkungan punya tukang sampah sendiri. Apakah semua tukang sampah ada di bawah organisasi yang sama? Saya tidak mengerti.

Sebetulnya kita punya peraturan yang mengatur masalah persampahan, dalam UU No. 18 tahun 2008. Kapan-kapan kalau sempat akan saya baca secara rinci dan dibuatkan ringkasannya. Namun yang jelas, di negara kita tampaknya komitmen memang belum terlalu tinggi. Dari lima aspek pengelolaan sampah, yang masih lemah memang di willingness to pay, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Anggaran untuk mengurus sampah ini memang besar. Ambil komponen terkecil saja, di mana di setiap rumah tangga harus disediakan bak sampah ukuran gede. Asumsi di Bandung ada 600 ribu rumah tangga, dan 1 bak harganya Rp 500 ribu, maka total dana pengadaannya sebesar Rp 300 miliar. Sudah 5% dari APBD Kota Bandung setahun. Rasanya Pemkot Bandung bakal sulit menyediakan dana sebegitu besar. Hendak meminta masyarakat yang menyediakan, saya pun tak yakin kita bersedia.

Menurut saya, di Indonesia bisnis pengelolaan sampah sepertinya belum terlalu menarik secara bisnis, terlihat dari keterlibatan swasta yang minim. Sementara mengandalkan pemerintah/BUMD, hasilnya masih begini-begini saja.

Bukannya saya skeptis. Tapi urusan sampah menurut saya sangat signifikan. Saya sangat tidak nyaman kalau di pinggir jalan ada tumpukan kantong-kantong sampah. Apalagi kalau melihat tumpukan sampah di sungai. Seperti di jaman pra-Renaisans yang belum mengenal sanitasi saja.

Apapun itu, ini merupakah pekerjaan besar. Satu hal yang bisa kita petik dari Belanda, kalau ingin masalah sampah tertib, warga harus mau diatur, harus mau terlibat aktif, dan tidak boleh seenaknya sendiri. Memang repot. Tapi di mana-mana, tidak ada negara yang maju tanpa kedisiplinan warganya.

Bandung, April 2018

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s