Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Menikmati Rahang Tuna di Bitung

Leave a comment

Photo 08-06-2017, 6 46 32 pm

Rahang tuna bakar. Sambal dabu-dabu dan tumis bayam.

Bulan puasa tahun lalu saya ke Bitung, untuk melaksanakan tugas dari kantor. Bitung adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Utara. Kira-kira 1,5 jam di sebelah timur Manado. Ini adalah pengalaman pertama ke Sulawesi Utara, dan kunjungan pertama ke Pulau Sulawesi dalam lima tahun terakhir.

Sebetulnya saya sempat agak menyesal, kenapa tugasnya harus di saat bulan puasa. Biasa, di setiap kunjungan ke daerah, saya ingin mencicipi kuliner lokal sebanyak-banyaknya. Saya termasuk orang yang gemar mencoba, dan cenderung tidak mudah percaya dengan apa yang orang bilang, sebelum membuktikan sendiri.

Produsen makanan laut

Untuk mengefisiensikan waktu, saya bertanya ke teman-teman yang sudah pernah ke Bitung. Semuanya merekomendasikan yang berkaitan dengan tuna. Maklum, Bitung terletak di pinggir pantai. Ikan-ikan segar banyak terdapat di kota kedua terbesar di Sulawesi ini. Namun yang paling populer adalah tuna.

Photo 08-06-2017, 6 21 33 pm

Menu warung makan spesialis tuna di Bitung.

Seperti yang lumrah terjadi di negeri ini, tuna kualitas terbaik ditangkap, diolah dan langsung dikirimkan untuk pasar di luar negeri. Menurut teman-teman Pemkot Bitung yang mengundang kami, produksi tuna terbaik dikirimkan ke Jepang. Dugaan saya, mungkin untuk sashimi. Jadi kalau suatu saat Anda ke Jepang dan menikmati segarnya sashimi di sana, jangan terkagum-kagum dulu. Bisa saja itu adalah hasil tangkapan dari tanah air.

Sisa produksi tuna-lah yang dikonsumsi orang lokal. Tuna adalah ikan berukuran besar, jadi banyak terdapat potongan yang masih bisa dimakan. Kalau memang hasil utama dikirim ke Jepang, kemungkinan besar mereka membutuhkan fillet-nya saja. Sedangkan tulang-tulangnya, mereka tidak mau. Tetapi sebetulnya, daging-daging yang melekat di tulang masih ada cukup banyak. Sama seperti daging sapi. Di Indonesia, semua bisa dimanfaatkan. Tulang untuk kaldu, daging-daging kecil untuk tetelan. Bahkan organ seperti telinga, mata dan hidung juga dimakan.

Orang Bitung pun kreatif. Rahang tuna yang bagi Jepang tidak memiliki nilai ekonomis, diolah menjadi santapan yang lezat. Salah satu pelopornya adalah Warung Desa Sederhana, yang terletak di pinggiran kota Bitung. Sayang saya lupa nama bapak pemilik warung ini. Dapat dilihat di gambar menu, yang ditawarkan mayoritas adalah makanan laut. Namun saya sempat heran juga ada menu ikan mujari. Setelah saya pikir, pada prinsipnya di dunia ini serba relatif. Kita di Bandung yang jauh dari laut bosan makan ikan tawar, dan ingin mencoba makanan laut. Orang Bitung sebaliknya. Mereka dekat dengan laut dan seafood berlimpah, namun ingin juga rupanya mencoba mujair.

Minimalis dan nikmat

Waktu itu kami sampai di warung sudah lewat jam delapan malam. Maklum, sebelumnya terlebih dahulu harus menghadiri jamuan dari Wakil Walikota Bitung. Kondisi warung masih cukup ramai. Kami berempat (saya, Pak Senator, Ando, dan Gerry) sama-sama memesan rahang tuna bakar.

Rupanya penyajian memakan waktu yang cukup lama. Saya mengintip ke dapur, ternyata sedang dilakukan proses pembakaran. Rahang tuna yang berukuran besar dibolak-balik di atas api membara. Saya tidak mencium baru arang. Dugaan saya, bahan bakarnya mungkin adalah kayu atau batok kelapa yang sepertinya tersedia banyak di pesisir pantai seperti Bitung.

Pesanan kami pun tersaji seperti pada gambar di awal tulisan ini. Rasanya… nyam-nyam.  Bumbu yang dipakai minimalis, tetapi tetap gurih dan tidak ada jejak rasa amis di lidah. Daging ikan yang menempel pada tulang rahang ternyata masih banyak, meskipun harus kita korek-korek sampai di bagian dalam. Rahang tuna yang segar membuat ikan keluar dengan cita rasa aslinya yang gurih. Makin nikmat disajikan dengan sambal dabu-dabu dan tumis bayam.

Kami pun membawa pulang untuk dibungkus di Bandung. Harganya pun murah sekali. Untuk satu porsi rahang tuna dengan nasi dan sayur, hanya 25 ribu rupiah. Bahkan satu menu di warung ikan dekat kampus ITB pun jauh lebih mahal.

Kalau Anda sedang ke Sulawesi utara, rahang tuna sangat layak dicoba.

Bandung, April 2018

 

 

 

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s