Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Sutan Sjahrir Sang Demokrat Sosialis

Leave a comment

Buku SyahrirKenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Mestinya kita semua bahwa baris-baris di atas adalah penggalan puisi “Karawang-Bekasi”, yang ditulis sang legenda, Chairil Anwar, di tahun 1948. Mungkin kebetulan bahwa Chairil masih terhitung kemenakan Sjahrir. Namun kalaupun tidak, si Bung Kecil, demikian ia disebut karena perawakannya yang pendek, memang di masa perang kemerdekaan amat populer di kalangan angkatan muda yang berjuang melawan Belanda yang kembali datang untuk menancapkan kembali kukunya di tanah air setelah kita merdeka.

Demokrat yang sosialis

Berbeda dengan Soekarno dan Hatta, Sjahrir tidak selalu muncul di permukaan. Oleh karena itu, bagi generasi yang terpisahkan jarak lebih dari setengah abad, namanya tidak langsung muncul di pikiran seperti kalau kita membicarakan sang dwitunggal. Pun sesungguhnya tidak ada konsensus mengenai peran Sjahrir. Ada yang memuji, tetapi yang mencela juga tidak kurang banyak. Bagi yang kontra, pendapatnya akan mendapatkan bukti legitimasi yang mudah. Di akhir hidupnya, Sjahrir adalah seorang tahanan negara.

Namun, apakah memang betul bahwa Sjahrir adalah orang yang tidak pro ke republik? “Hasil karyanya” dalam Perjanjian Linggarjati, yang membuat Indonesia kehilangan banyak daerah, bisa menguatkan dugaan ini. Apakah tidak ada buah pikirannya yang bisa diteladani oleh politikus saat ini? Serta bagaimanakah sebetulnya pandangan ideologisnya dalam bernegara? Hal-hal inilah yang sepertinya coba diangkat oleh Rosihan Anwar dalam buku ini, “Sutan Sjahrir, Negarawan Humanis, Demokrat Sejati, Yang Mendahului Jamannya.”

Dengan gaya penceritaan yang disebutnya seperti babak-babak dalam drama, Rosihan menceritakan perjalanan hidup Sjahrir. Seperti layaknya kaum terpelajar di masa itu, Sjahrir bisa sekolah karena kedudukan bapaknya, yang merupakan jaksa kepala di Medan, sebuah jabatan mentereng di masa itu. Selepas pendidikan menengah di AMS Bandung (M. Natsir adalah teman sekolahnya), Sjahrir pergi ke Negeri Belanda, mengambil jurusan hukum di Universitas Leiden.

Di Belanda mulai terlihat minatnya yang tinggi terhadap masalah sosial politik. Berada di Eropa pada periode yang sama dengan Moh. Hatta, Sjahrir mencurahkan waktunya untuk Perhimpunan Indonesia. Saat inilah pula putera Minang ini mulai bersentuhan dengan kaum kiri, tepatnya organisasi buruh. Kekiriannya ini pula yang kelak menyebabkan sebagian orang mencibir. Kedekatannya dengan Perdana Menteri Belanda yang juga kiri, Prof. Willem Schermerhorn, yang dari Partai Buruh, memunculkan anggapan bahwa Bung Kecil menguntungkan Belanda dalam perundingan-perundingan di masa perang kemerdekaan.

Ironisnya, kaum kiri jugalah yang menyingkirkan Sjahrir (dan juga Hatta) dari PI yang semakin banyak ditunggangi golongan komunis. Sjahrir pun pulang ke tanah air tanpa pernah sempat untuk menyelesaikan studinya.

Di sini terdapat relasi yang menarik. Walaupun kiri, Sjahrir tidak pernah menjadi komunis. Dia menentang perampasan aset seperti lazimnya di Uni Sovyet. Bagi Sjahrir, sosialisme adalah wadah untuk membuat harkat seluruh rakyat menjadi sama rata. Demokrasi tetap menjadi elemen terpenting, karena tidak boleh ada satu golongan yang menindas golongan yang lain, termasuk penindasan oleh pemerintah.

Untuk menciptakan sebuah masyarakat yang egaliter, Sjahrir menekankan pada pendidikan. Kepulangannya ke Indonesia -kemudian disusul Hatta- diisi dengan menahkodhai PNI baru, setelah PNI yang lama dilarang pemerintah kolonial, bersamaan dengan ditangkapnya pemimpinnya, Sukarno. Haluan politik Syahrir jelas berbeda dengan Sukarno yang menekankan di agitasi massa. Baginya mengkader anggota partai adalah yang terpenting. Para kader tersebut dengan sendirinya kemudian diharapkan untuk mendidik rakyat. Pola pendidikan tetap dilanjutkannya di masa pendudukan Jepang. Sukarno dan Hatta muncul di permukaan, Sjahrir bernapas di bawah tanah, dengan mengkader revolusioner-revolusioner muda.

Bagi sebagian pengamat, arah politik Sjahrir mendahului jamannya. Saya lebih suka menyebutkan sebagai tidak realistis. Mengingat tingkat pendidikan masyarakat Indonesia di masa itu, serta ambisi besar rakyat Indonesia untuk lepas dari belenggu penjajahan, usaha-usaha Sjahrir baru akan berhasil setelah puluhan tahun. Walaupun saya juga percaya, kalau dilakukan dengan konsisten, hasilnya akan lebih baik dari kondisi republik saat ini.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, praktis Sjahrir berada di luar pemerintahan. Pemikirannya sepenuhnya dicurahkan untuk Partai Sosialis Indonesia (PSI). Namun sayangnya, ideologi partai yang mungkin “ketinggian” bagi orang awam, membuat PSI hanya mendapatkan dua persen kursi parlemen di Pemilu 1955.

Prasangka dalam cerita

Rosihan mengungkapkan banyak sisi menarik dari perdana menteri pertama Indonesia. Namun sayangnya, saya merasa bahwa penulisan di buku ini tidak mengalir. Penulisan cenderung datar, seperti layaknya berita di koran. Tidak ada latar belakang yang kuat atas berbagai tindakan Sjahrir. Misalnya mengapa ia menjadi seorang sosialis, tidak tampak jelas bagi saya seperti saat Cindy Adams menceritakan proses marhaenisasi Soekarno, yang sepanjang hidupnya merasakan kemiskinan. Tidak dijelaskan pula mengenai berbagai perkembangan serta polemik dalam PSI, yang seharusnya menjadi salah satu intisari dari lakon hidup Sjahrir sebagai seorang sosialis.

Namun yang lebih kentara, adalah prasangka-prasangka di buku ini. Rosihan mengungkapkan hubungan yang buruk antara Sjahrir dengan Soekarno, yang berujung kepada penangkapannya, karena dituduh makar. Tidak ada penjelasan dan bukti-bukti yang rinci. Karena Rosihan sudah mengangkat topik ini, akhirnya tersisa sebuah kegamangan dalam diri saya sebagai pembaca.

Terlepas dari segala kekurangannya, buku ini tetaplah layak dibaca. Membacanya kita akan tersadar bahwa peran Sjahrir bagi berdirinya republik tidak boleh dikecilkan. Paling mudah, kalau bukan merupakan orang yang penting, Belanda tidak akan sampai mengasingkannya di Digul dan Banda Neira.

Rosihan menggarisbawahi, bahwa salah satu karya terbesar Sjahrir adalah kadernya. Beberapa di antaranya adalah T.B. Simatupang, dan Soemitro Djojohadikusumo, loyalis PSI, yang juga bapak dari Prabowo Subianto. Menurut saya, ini seharusnya menjadi renungan bagi generasi muda. Sangat tidak relevan memojokkan sebuah calon pemimpin, karena alasan ideologi orangtuanya. Bukankah Soemitro juga seorang sosialis? Tetap saja sang begawan ekonomi adalah nasionalis tulen. Murid-muridnya, kelak menjadi para guru besar ekonomi yang memotori pembangunan di masa Orde Baru.

Lagipula, apa salahnya menjadi seorang sosialis? Negara ini mempunyai tujuan mulia, keadilan dalam hal sosial, politik, ekonomi, kesehatan, dan semua lapisan kehidupan, bagi seluruh rakyat. Sesuatu yang sejak dulu diimpikan oleh Sjahrir. Sudah (kapan)kah kita mencapainya?

Bandung, April 2018

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s