Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Mewahnya Rasa di Warung Sederhana Gubeng

1 Comment

Depot Sederhana 1

Rawon asli Jatim. Nasi dicampur, dengan tauge pendek mentah dan kerupuk udang. Beberapa orang (termasuk saya) suka menambahkan tempe yang disiram kuah rawon.

Walaupun belum menjelajah seperlima hamparan bumi, saya bersyukur sudah pernah ke banyak tempat, baik di mancanegara, maupun mengelilingi bumi Indonesia. Untungnya lidah saya ini cukup adaptif, sehingga rasa kuliner lokal biasanya mudah diterima. Contohnya, kuliner laut segar dengan bumbu minimalis tidak semua orang suka, saya cocok-cocok saja. Isteri saya sangat tidak suka Ayran, minuman khas Turki dari Yoghurt ditambah garam, saya malah gemar.

Sifat adaptif saya ini malah membuat beberapa gaya kuliner asli Jatim menjadi kurang cocok.  Contohnya, saat ini saya lebih suka lalapan mentah ala Sunda dibandingkan yang direbus seperti di Jember. Sate kambing juga lebih suka yang bumbu kecap ala Jateng dibandingkan bumbu kacang khas Madura. Kalau diperingkatkan, malah sate madura sekarang posisinya agak bawah, pasalnya saya lebih gemar sate padang berkuah kental yang bagi banyak orang Jatim dihindari, karena katanya seperti umbel (Jw. ingus).

Pastilah ini diakibatkan masa perantauan yang sudah lebih dari satu dasawarsa. Tentu saja ini normal. Setelah melihat dunia yang luas, manusia akan membuat perbandingan. Soal persepsi, tidak ada yang abadi, termasuk masalah cita rasa.

Namun jika bersinggungan dengan kuliner dari daerah asal, tetap saja ada satu faktor yang walaupun kadang irasional, sulit dilepaskan. Tiada lain ialah aspek sentimentil, atau romansa. Itulah yang saya rasakan setiap kali pulang ke Jatim. Melihat orang-orang berbicara dengan dialek yang saya kenal sejak lahir, rasanya seperti membawa kembali semua memori. Meskipun “cak cuk cak cuk”, terdengarnya merdu di telinga. Tidak heran kalau perasaan melankolis itu membuat ingin kembali, termasuk soal kulinernya.

Legenda Surabaya

Depot Sederhana 2

Lokasinya kuno. Bagi yang terbiasa di Jakarta/Bandung, terus terang akan dipersepsikan sebagai cenderung kumuh.

Maka, ketika di awal bulan puasa tahun lalu menengok orangtua, saya berpikir kuliner apakah yang sebaiknya saya (kembali) cicipi. Kebetulan waktu itu saya terpaksa naik kereta, karena tiket pesawat yang sudah dibeli dibatalkan oleh maskapai. Karena malas ganti jadwal dan lain-lain, saya pun memutuskan pakai kereta saja. Hitung-hitung nostalgia.

Ingat bahwa saya akan transit di Stasiun Gubeng, saya mengajak adik yang saat itu kuliah di Universitas Airlangga, untuk buka puasa bersama. Saya putuskan untuk makan di Warung Sederhana. Ini adalah warung lama yang legendaris di Surabaya sejak puluhan tahun yang lalu. Lokasinya di Stasiun Gubeng Lama, pintu masuk sebelah selatan.

Sekitar jam 16 kereta Mutiara Timur yang saya tumpangi dari Tanggul, Jember sudah tiba di Gubeng. Masih lama menuju Maghrib, saya pun keliling stasiun dulu. Melihat Gubeng, jadi teringat jaman mahasiswa dulu. Setidaknya dua kali dalam setahun, saya pasti lewat stasiun ini untuk pulang liburan kuliah atau mudik lebaran ke Jember. Dulu sering bersama belasan bahkan puluhan teman seperantuan dari Jember yang sudah seperti saudara. Senangnya kalau ingat masa-masa itu. Sekarang sudah saling terpisah menempuh jalan hidup masing-masing.

Keluar pintu selatan, saya melangkahkan kaki ke Plaza Surabaya dulu. Sebetulnya jaraknya dekat. Saya taksir maksimal hanya satu kilometer. Tapi udara Surabaya itu, puanasee rek. Keringat pun ndrodos (Jw. bercucuran). Sepanjang perjalanan, saya akui Bu Risma ini memang hebat. Kotanya jadi rapi dan bersih. Jalan kaki pun jauh lebih nyaman dibandingkan di Bandung.

Di mall saya bertemu Aan, adik saya. Setelah keliling-keliling toko buku, saya bilang kalau mending berangkat jangan mepet maghrib. Benarlah yang diperkirakan. Lebih dari setengah jam menuju waktu berbuka, kursi-kursi sudah banyak terisi. Untung kami berdua masih dapat tempat yang cukup enak. Lima belas menit kemudian, semua kursi sudah terisi.

Depot Sederhana 3

Soto khas Jatim, dengan taburan bubuk koya yang gurih.

Hebat bukan? Padahal kalau melihat bangunannya, sama sekali tidak ada yang istimewa. Malah menurut saya cenderung kumuh, dengan asbak yang penuh puntung rokok berceceran. Saya ini orangnya sulit makan kalau melihat puntung-puntung rokok, maka terpaksa saya bereskan sendiri. Tips untuk Anda yang makan di sini, jangan lihat ke lantai.

Pelayan datang, saya memesan nasi rawon, dan Aan ingin makan nasi soto. Minumnya es jeruk nipis. Di Jatim, semua makanan yang berkuah standar bakunya adalah disajikan langsung dicampur dengan nasi. Kalau ingin dipisah, Anda harus bilang dengan eksplisit.

Rasanya tidak perlu ditanya. Maknyus. Langsung tandas dalam sekejap. Yang bikin warung ini ramai memang rasanya yang konsisten. Kalau saya amati dari penampilan dan bawaannya, mayoritas pengunjung adalah warga lokal, bukan hanya penumpang kereta. Artinya, pelanggannya memang banyak.

Ingat bahwa nanti perlu sahur di kereta, saya pesan nasi goreng. Rasanya juga sama enaknya, tapi tidak sempat terfoto. Nasgor warna merah khas Jatim. Di warung ini pilihannya beragam. Ada krengsengan, lodeh, dan juga berbagai macam pecek, lele, ayam, dan empal. Sebagai informasi, istilah ‘pecel lele’ itu salah kaprah. Yang betul adalah ‘pecek’. Artinya, lele/ayam di-pecek (setengah dipenyet) ke cobek yang berisi sambal tomat dan terasi.

Untuk tiga menu plus minum dan kerupuk, saya bayar tidak sampai seratus ribu. Perut kenyang, memori terpuaskan, kantong pun senang.

Surabaya, cerita Juni 2017

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

One thought on “Mewahnya Rasa di Warung Sederhana Gubeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s