Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Resensi Buku Sukarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia: Bung Besar, Pengorbanan Besar

Leave a comment

Buku Sukarno

Referensi gambar klik di sini.

Saat berkunjung ke California, Amerika Serikat, Presiden Sukarno minta diantarkan ke toko pakaian dalam. Isterinya minta dibelikan BH. Ternyata, Sang Pemimpin Besar Revolusi lupa berapa ukuran BH isterinya. Tentu saja di jaman itu berkomunikasi sangatlah sulit. Bung Karno tidak kehilangan akal. “Bisakah dikumpulkan ke sini semua pramuniaga, agar aku bisa menentukan ukuran mangkok daging ini?”

Setelah semua pramuniaga berbaris, presiden meneliti dengan hati-hati, sambil berkata, “Tidak, engkau terlalu kecil… oh, engkau kebesaran… ya, engkau pas sekali.” Ternyata ukurannya memang pas dengan BH isterinya (tidak disebutkan isteri yang mana).

Kecintaan Sukarno terhadap perempuan memang diakuinya sendiri dalam buku yang ditulis oleh Cindy Adams, “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Selain jumlah perempuan yang pernah dinikahinya sebanyak delapan, dia sendiri dalam banyak kesempatan tidak malu-malu mengungkapkan sifatnya yang satu ini.

Di masa-masa akhir jabatannya sebagai Presiden, Sukarno pernah mendongkol ke tim dokternya. Pasalnya, dokter menjanjikan akan memberikan perawat yang berpengalaman, supaya ia cepat sembuh. “Aku akan lebih cepat sembuh dengan perawat yang tidak berpengalaman, karena yang berpengalaman paling tidak sudah berumur 55 tahun!”

Kegemarannya akan perempuan banyak dimanfaatkan (terutama oleh media asing) untuk menyerangnya. Padahal, Sukarno sendiri bukanlah seorang womanizer. Dalam satu waktu yang sama, isteri-isterinya berjumlah empat, sesuai dengan syariat Islam yang dianutnya. Dalam hal ini, ia lebih beradab dibandingkan dengan sultan-sultan jawa.

Pun tidak boleh kita lupakan, bahwa dibalik segala kekurangannya, jasa sang proklamator terhadap nusa dan bangsa amatlah besarnya. Dunia mengakui bahwa Sukarno adalah motor utama yang menarik Indonesia dari belenggu penjajahan. Menjelang 107 tahun setelah kelahirannya, ada baiknya bagi generasi muda untuk mengenang dan meneladani sejarah hidupnya.

Berkorban sejak belia

Alasan mengapa Sukarno begitu mencintai rakyatnya, dan keinginannya yang menggebu untuk membawa bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, mestinya tidak lain adalah karena ia adalah bagian dari rakyat itu sendiri. Rakyat yang miskin, melarat, dan tertindas.

Meskipun berasal dari keluarga ningrat, ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo hanyalah seorang bangasawan kelas bawah tanpa jabatan mentereng. Pekerjaannya adalah guru sekolah dasar, dan di jaman itu gajinya amat kecil, sehingga sepanjang hidupnya Sang Putera Fajar -ibunya, Ida Ayu, yang memberinya julukan ini- tidak memiliki kasur.

Sejak kecil terlihat bahwa Sukarno berbakat. Beruntunglah kita, ayahnya adalah seorang nasionalis pembenci Belanda, menunjukkannya ke jalan perjuangan. Sejak mula Raden Soekemi mengarahkan anaknya itu untuk sekolah tinggi. Menurutnya pendidikan akan membuka jalan untuk menumpas penjajahan. Sukarno dikirimnya ke Horgere Burgerschool (HBS) di Surabaya, sekolah menengah elit di jaman itu.

Di Surabaya Sukarno mondok di rumah kawan bapaknya, HOS Cokroaminoto, Ketua Sarekat Islam, yang pada jamannya adalah organisasi massa terbesar di Hindia Belanda. Melahap banyak buku dan mendengarkan berbagai diskusi politik antara bapak kosnya dengan tamu-tamunya, benih-benih nasionalisme Sukarno mendapatkan pupuk yang subur.

Layaknya pemuda lulusan HBS di masa itu, setelah lulus Sukarno ingin melanjutkan studi ke Negeri Belanda. Sayangnya, orangtuanya bukanlah seperti keluarga besar Hatta dan Syahrir yang kaya-raya. Dia “hanya” dapat melanjutkan studinya ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB). Saat berangkat ke Bandung, Sukarno sudah beristri Oetari, puteri Pak Tjokro.

Di kampus yang dibangun pemerintah kolonial untuk mencetak tenaga kerja di negeri jajahannya, cakrawala nasionalisme Sukarno justru makin tumbuh subur. Banyak berinteraksi dengan rakyat, dia melihat bahwa kaum kawula berada dalam kondisi yang mengenaskan. Tidak hanya miskin, mereka juga memiliki perasaan rendah diri setelah ratusan tahun Belanda mendoktrin bahwa hanya yang berbau Eropa yang unggul di dunia ini.

Di kota kembang pula Sukarno pertama kali merumuskan Marhaenisme. Seorang petani miskin bernama Marhaen ditemuinya di pinggiran Bandung. Petani itu bekerja di sawahnya sendiri, hasilnya dimakan untuk keluarga sendiri, namun tetap saja hasilnya tidak cukup. Tipikal semacam itu menurut Sukarno mencerminkan kondisi rakyat Hindia Belanda di masa itu.

Gotong royong

Saat menjadi mahasiswa ITB, Sukarno aktif di Partai Nasional Indonesia (PNI). Orasi-orasinya selalu dihadiri banyak massa. Sukarno pun makin bersemangat. Namun tidak bagi Belanda, PNI dianggap sebagai bahaya nomor satu. Saat menghadiri rapat partai di Yogyakarta, Sukarno dan rekan-rekannya ditangkap.

Di pengadilan, Sukarno membacakan pembelaannya yang kemudian dikenal sebagai “Indonesia Menggugat”. Pidato politik yang cemerlang ini disampaikan saat usianya baru 29 tahun. Di hadapan para penuntut, sang pejuaang yang tak kenal lelah memaparkan bahwa proses yang dihadapinya tidaklah adil. Justru pemerintah kolonial yang telah sekian ratus tahun merampas dan merusak tanah Indonesia.

Pembelaan itu tidak berhasil. Sukarno dijebloskan ke Penjara Banceuy. Ia mengakui bahwa selama mendekam di penjara adalah masa-masa yang amat sulit. Sipir penjara memperlakukannya dengan baik. Namun tanpa buku, tanpa koran, dan tanpa orasi, dia kehilangan semangat. Beruntunglah isterinya saat itu, Inggit Garnasih dengan tak kenal lelah selalu mendukungnya. Tidak hanya menjenguk, ia pun menyelundupkan koran, dan berita-berita partai ke Sukarno. Saat di Bandung, Sukarno menceraikan Oetari, untuk kemudian mengawini Inggit yang belasan tahun lebih tua.

Selang setahun, Sukarno bebas, dan ia kembali sibuk dengan urusan partai. Tak berselang lama, pemerintah kembali menjebloskannya ke penjara, kali ini ke Sukamiskin. Pengadilan memutuskan untuk membuangnya ke Ende. Konon, di Flores inilah ia merumuskan dasar-dasar Pancasila.

Menurut Sukarno, satu sifat yang unik dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah gotong-royong. Seorang yang sedang ketamuan dan tidak punya makanan, tidak akan bingung. Tetangganya akan saling memberinya makanan, supaya dapat menghormati tamunya itu. Seorang yang akan membangun rumah, akan menerima bantuan cuma-cuma dari tetangganya baik dalam bentuk bahan bangunan, maupun tenaga. Kalau mendengar cerita orang-orang tua, dulu di desa memang seperti ini. Sayangnya, gotong-royong seperti ini sekarang sangat langka, mungkin malah sudah punah.

Malaria membuat Belanda tertekan untuk memindahkannya ke tempat yang lebih baik. Bengkulu menjadi tempat pembuagan selanjutnya. Terdapat kejadian menarik di sana. Belanda memintanya untuk merancang sebuah monumen, karena Sukarno adalah satu-satunya insinyur di Bengkulu. Sukarno menjawab, bagaimana mungkin Anda (Belanda) meminta saya yang Anda buang, untuk membuat monument, yang merayakan imperialisme. Maka disusunlah olehnya tiga buah batu, itulah monument yang diberikannya untuk si penjajah.

Sang proklamator

Bengkulu adalah tempat runtuh dan berdirinya rumah tangga Sukarno. Hubungannya dengan Inggit memburuk, karena isterinya itu tidak bisa memberinya anak. Saat itu pula cinta bersemi untuk Fatmawati, anak seorang pengurus Muhammadiyah. Inggit tidak bersedia dimadu. Sukarno dan Inggit bercerai saat mereka tiba kembali di Jawa. Ketika itu Perang Pasifik pecah dan setelah bersusah payah, Sukarno tidak kembali menjadi tawanan Belanda, yang berniat membawanya ke Australia.

Kita tahu, Sukarno memanfaatkan pendudukan Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Keputusannya ini sempat mendapatkan tentangan, terutama dari golongan muda yang dibina oleh Syahrir. Sejarah mencatat, Sukarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia setelah Jepang menyerah kepada Sekutut.

Cerita di buku ini ditulis beberapa tahun sebelum peristiwa pemberontakan PKI di tahun 1965. Selama itu pula kita dapat membaca bahwa bahkan setelah merdeka pun, Sukarno masih terus merasakan berbagai kepahitan. Pertama adalah perang revolusi melawan Belanda yang ingin mengembalikan status quo di Indonesia. Tidak hanya berpindah-pindha tempat, nyawanya pun saat itu ada di ujung tanduk. Kalau Indonesia tidak dapat memenangkan perang, pengadilan internasional akan menghukumnya sebagai seorang penjahat perang.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia di tahun 1949, Sukarno masih harus menghadapi berbagai gerakan separatis. Hal ini bisa dimaklumi. Kondisi Indonesia melarat dan kacau-balau setelah ratusan tahun penjajahan, perang revolusi, dan utang Belanda yang harus kita bayar. Selama itu pula, sang presiden tidak pernah merasakan kenikmatan duniawi. Sampai akhir hayatnya, Sukarno tidak memiliki rumah. Pernah rakyat hendak mengumpulkan uang supaya presidennya bisa membeli rumah, Sukarno menolaknya.

Buku ini memang tidak sempurna. Menurut saya, terlalu self-centered. Di luar hal-hal yang kasat mata, Sukarno tidak banyak membahas mengenai kekurangannya. Misalnya mengenai perbedaan pendapatnya dengan Hatta, atau keputusan-keputusan di bidang ekonomi yang buruk.

Namun demikian, buku ini tetap layak dibaca oleh generasi saat ini. Sebagai tonggak sejarah. Untuk mengajarkan kita bahwa kemerdekaan harus tetap diisi dengan perjuangan. Juga mengingatkan kita bahwa arus yang bertentangan dengan cita-cita hendaknya diabaikan saja. Kita ingat ucapan Bung Karno, “Bebek berjalan beramai-ramai di sawah, tetapi burung elang terbang sendirian di angkasa.”

Bandung, Mei 2018

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s