Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Doa untuk Surabaya

Leave a comment

Rasanya sulit membayangkan perasaan teman-teman non-Muslim. Ibaratnya seperti saya hendak sholat Jum’at, tetapi takut pergi ke masjid. Seperti kalau ingin sekali mendengar ceramah seorang ustadz yang ditunggu-tunggu, tapi takut berada di masjid. Bahkan kalau sekadar memenuhi kebutuhan administratif seperti mentoring kuliah agama, saya pun tetap takut melangkah ke masjid.

Bagaimana tidak takut? Tempat ibadah saya setiap saat bisa diledakkan. Saya bisa pulang tinggal nama. Meninggalkan isteri dan anak yang masih kecil. Menyedihkan. Tidak bertemu dengan pacar saja kita sedih. Apalagi tidak menjenguk rumah Tuhan, yang bagi umat beragama, seharusnya menjadi yang paling dicintai.

Itu baru yang kasat mata. Kalau skalanya makin membesar, tentu dalam kehidupan sehari-hari saya takut menjadi incaran. Jaman sekarang apa sulitnya mencari data agama seseorang. Sekali ketahuan, saya bisa dihabisi.

Seperti itulah saya duga rasanya. Hanya, saya tidak pernah terlalu punya perasaan mencekam semacam itu, karena saya adalah seorang yang agamanya mayoritas di negeri ini. Saya merasa aman. Saudara-saudara saya yang lain, tidak.

Apakah yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka yang tidak seiman merasa aman? Tunjukkan dengan perilaku. Buktikan bahwa umat Islam memang toleran dan penuh kasih sayang. Jaga lingkungan sekitar. Jika ada yang dengan mudah mengkafir-kafirkan pemerintah/orang yang tidak sepaham, ingatkan, atau laporkan ke yang berwajib.

Ajari anak-anak kita bahwa Indonesia ini majemuk. Kita senang dengan kekayaan alam yang melimpah. Kita juga harus menerima bahwa ada orang Indonesia yang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Karena pekerjaan saya adalah seorang dosen, yang bisa saya lakukan adalah mengingatkan para mahasiswa. Saya bilang bahwa kalaupun satu angkatan ini bekerja seumur hidupnya, belum tentu bisa mencapai prestasi para founding fathers kita, dalam menyatukan tanah air yang beraneka warna latar belakangnya. Jadi jangan kalian rusak, rawatlah.

Saya ingat saat Kekhalifah Islam menaklukkan Jerusalem di abad ke-7. Waktu itu Khalifah Umar bin Khattab R.A. datang langsung ke Palestina. Saat menerima penyerahan kota dari pemuka gereja, Umar menyampaikan bahwa umat Kristen di Jerusalem telah menjadi ‘dhimmi’ kaum Muslimin. Bagi bangsa Arab, dhimmi adalah kehormatan yang harus dijaga. Kalau seorang dhimmi terluka, seluruh kaum akan terluka dan harus membela. Maka Umar menyatakan bahwa hak bernegara dan masyarakat umat Kristen di Jerusalem juga setara dengan orang Islam. Tidak boleh ada yang mencurangi di pengadilan, di pasar, apalagi memaksakan Islam ke mereka. Umat Muslim harus menjaga gereja dan salib para Kristiani.

Ini adalah contoh toleransi yang amat tinggi dari seorang yang kadar imannya tak diragukan lagi. Semoga kita semua dapat meneladani. Semoga orang-orang yang sedang salah jalan itu kelak dapat mengerti.

Kita semua turut berdukacita atas korban-korban yang berjatuhan. Kita kutuk keras terorisme.

Bandung, Mei 2018

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s