Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Pasar Tradisional di Belanda

Leave a comment

Vismarkt 1

Vismarkt dilihat dari De Korenbeurs. Di kejauhan tampak Martinitoren.

Rasanya tidak ada habisnya hal yang saya rindukan tentang Belanda. Saya rasa bukan karena aspek nostalgia, atau romantisme semata. Tetapi memang kualitas banyak aspek kehidupan di sana jauh lebih baik dari di Indonesia. Wajar kalau dikangeni.

Salah satunya adalah berbelanja di pasar. Di Indonesia saya juga sering ke pasar, paling tidak seminggu sekali. Soalnya harga untuk beberapa komoditas memang jauh lebih murah dibandingkan dengan di supermarket. Kita semua tahu, pasar di tanah air pada umumnya identik dengan kesan kotor dan tidak nyaman. Meskipun saya juga tidak terlalu mengeluh (karena memang gimana lagi), tetap saja rindu dengan pasar-pasar di Belanda yang bersih dan menyenangkan.

Pasar keliling

Saat ini pada umumnya orang-orang Belanda berbelanja di supermarket, yang punya segmentasinya masing-masing. Albert Heijn (AH) adalah retail chain asli Belanda yang jumlah tokonya paling banyak. Produk-produk di AH juga paling lengkap, termasuk soal makanan siap saji yang tinggal dipanggang atau dipanaskan di microwave. Sudah bisa ditebak, harga di AH paling mahal. Kalau saya dulu lebih sering belanja di Aldi atau LIDL. Keduanya adalah supermarket impor dari Jerman. Barang-barangnya tidak selengkap AH, penataan tokonya pun kalah. Tetapi harganya jauh lebih murah, terutama produk-produk dasar seperti minyak, gula, dan telur.

Vismarkt 2

Penjual ikan langganan. Di sini juga menjual kibbeling, semacam gorengan ikan a la Belanda.

Selain tiga yang sudah disebutkan, masih ada beberapa jaringan supermarket yang lain. Hebatnya, pengaturan supermarket ini bagus. Tidak ada kita jumpai dua minimarket hanya terpisah jarak 500 meter seperti di Indonesia. Biasanya supermarket ada winkelcentrum (pusat pertokoan), atau kalau di pusat kota cukup banyak tersebar di beberapa titik. Tentang supermarket di Belanda, lain kali akan saya ceritakan dalam artikel lain.

 

Selain supermarket, di Belanda juga masih ada pasar tradisional. Di kota Groningen, pasar ini bergantian di beberapa lokasi. Di pusat kota, lokasi jualannya ada di Vismarkt (lit. Jalan Ikan). Mungkin dulu memang banyak penjual ikan di sini. Di Vismarkt mereka berjualan hanya tiga hari dalam sepekan, Selasa, Jum’at, dan Sabtu. Selebihnya, sebagian pedagang berpindah-pindah antar winkelcentrum yang biasanya ada di setiap wjik (kira-kira setara dengan kecamatan). Kalau di dekat rumah saya dulu, di winkelcentrum Lewenborg, mereka jualannya di hari Rabu.

Vismarkt 3

Suasana pasar dengan gerimis yang sangat sering turun di Kota Groningen. Foto ini diambil di bulan Februari, sedang cukup dingin.

Sejak pertama kali, saya teringat dengan pasar keliling yang juga terdapat di daerah saya dulu, di Jember, Jawa Timur. Sepertinya fenomena pasar keliling juga terdapat di banyak tempat dengan kebudayaan Jawa. Di kampung saya dulu pasar juga bergiliran. Namun penandanya adalah hari-hari pasaran Jawa; Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Jadi, kalau satu kampung kebagian satu hari pasaran, pasar keliling akan mampir ke situ setiap lima hari sekali.

Saya tidak ingat, dulu di Semboro pasarnya di hari apa, tetapi rasanya kebagian dua hari pasaran. Apakah pasar keliling di Belanda terpengaruh oleh yang di Jawa? Kalau menurut saya sebaliknya. Kebudayaan kita saling bertukar sekian ratus tahun. Biasanya yang mempengaruhi adalah yang lebih maju.

Bersih dan teratur

Vismarkt 4

Los penjual sayur

Di pasar terdapat berbagai macam penjual. Di satu sisi, terdapat tiga atau empat los penjual ikan. Tentu jangan mencari ikan kembung di Vismarkt. Adanya adalah ikan-ikan dari laut Eropa seperti kabeljauw, sarden, makarel dan tilapia. Yang disebut terakhir ini dulu saya sering beli, rasanya mirip-mirip ikan nila. Salah satu makanan favorit di pasar adalah kibbeling. Ini mirip sekali dengan gorengan, namun isinya adalah fillet dari ikan kabeljauw.

Selebihnya sama seperti pasar-pasar di Indonesia. Ada penjual sayur dan buah. Saya masih ingat, kalau musim panas, yang ditunggu adalah manisnya buah kersen (ceri). Murah loh, sekilo kadang cuma 2 Euro (Rp 35.000). Bandingkan dengan di toko-toko impor di tanah air. Dengan harga segitu mungkin tidak dapat 100 gram ceri. Sedangkan di musim gugur, segarnya pruimen (plum) menanti. Yang saya sesalkan, saya tidak terlalu banyak mencoba jenis sayur-sayur di Belanda. Hanya ada satu favorit, boerenkool di musim dingin. Rasanya mirip dengan daun singkong.

Vismarkt 5

Penjual berbagai macam jenis kacang-kacangan.

Satu juga yang jadi favorit di tukang buah adalah jus jeruk (sinaasappelsap) yang segar, langsung diperas dari buahnya. Tanpa gula pun sudah terasa manis. Bahkan mungkin rasanya jadi kurang enak kalau pakai gula. Saya jadi ngiler membayangkan segarnya buah-buah di sana. Masih ada juga anggur (druiven) yang kalau lagi musim harganya cuma 1 Euro per pak 500 gram. Menurut saya buah-buah (sub-tropis) di Belanda memang murah. Harganya pun jauh lebih stabil dibanding fluktuasi harga di Indonesia yang kadang gila-gilaan. Apalagi jika dibandingkan dengan pendapatan di sana, bakal makin terasa murah.

Vismarkt 6

Penjual ikan olahan. Saya paling suka makarel asap. Rasanya mirip iwak pe, atau ikan pari yang diasap.

Di pasar kita tidak bisa menawar. Penjual sudah memasang harga dari setiap barang dagangannya. Keunikan di pasar adalah harga-harga itu ditulis dengan tangan, mengikuti perkembangan harga harian. Dulu waktu SD, saya ingat betul pernah membaca komik Donal Bebek saat dia jualan sayur. Harganya juga ditulis dengan tangan. Ternyata di Belanda sama persis dengan itu.

Berbelanja di pasar amat nyaman, soalnya bersih dan teratur. Tidak ada bau-bau tidak sedap. Pedagang pun dengan tertib membuah sampah-sampah dagangannya. Saya yakin, kalau tidak tertib, mereka akan kena denda. Sebagai negara maju, Belanda juga peduli dengan kebersihan. Untuk barang-barang olahan seperti ayam panggang atau ikan asap, biasanya diletakkan di dalam rak kaca yang tertutup.

Pasar dimulai jam 8 (atau jam 9?). Saat itu rombongan mobil-mobil penjual berdatangan. Truk-truk berukuran sedang itu kemudian disusun sedemikian rupa untuk lapak jualan. Nanti jam 17, pedagang akan berkemas-kemas. Mereka sangat tertib dengan jadwal. Saya pernah datang jam 17, dan mereka menolak melayani, karena sudah tutup katanya. Menjelang tutup, banyak pedagang akan saling meneriakkan dagangannya yang sudah turun harga. Mobil-mobil yang sama akan pergi. Setelahnya, mobil kebersihan dari Gemeente (pemerintah kota) akan menyemprotkan air di area pasar yang berbatu-batu kuno itu. Bersih dan rapi dalam sekejap.

Ah, jadi rindu Belanda.

Bandung, Mei 2018

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s