Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Project done! Perpustakaan Keluarga

3 Comments

1. Perpus RTC

Dua lemari buku di perpustakaan kami.

Akhirnya, saya selesai juga membuat sebuah perpustakaan keluarga! Terus terang, saya senang sekali. Sudah menjadi cita-cita sejak dulu untuk memiliki sebuah ruang baca yang nyaman di rumah. Akhir tahun lalu, alhamdulillah proses pembangunan rumah kami selesai. Ini juga merupakan sebuah target, karena sejak mula saya dan isteri tidak mau beli rumah, kendaraan, dll dengan kredit di bank. Lain kali akan saya tuliskan.

Soal pentingnya membaca, saya sudah sering tuliskan. Maka, sebuah perpustakaan yang baik mutlak diprioritaskan saat mendesain rumah. Total ada 572 buku yang saya, Intan, dan Kinan punya sejauh ini. Daftarnya bisa dilihat di https://bit.ly/PerpusRTC.

Sarana dan prasarana

Pengalamanlah yang mendorong saya untuk mengelola buku-buku dengan baik. Ketika kecil, komik dan buku saya banyak yang hilang. Salah satu penyebabnya karena tidak tercatat. Saya menyimpulkan bahwa tidak cuma sarpras fisik (lemari), tetapi media pencatatan tidak kalah pentingnya, seperti pada gambar di bawah ini.

7. Daftar buku

Katalog perpustakaan.

Seperti pembaca dapat lihat, saya tidak membuat katalog dengan tools yang canggih-canggih. Google Spreadsheet sudah memadai.

4. Perpus RTC

Masa perakitan lemari. Saya kerjakan sendiri.

Dalam membuat katalog, yang terpenting adalah konsistensi. Total waktu yang saya perlukan untuk menata perpustakaan, termasuk dengan katalognya, hampir dua tahun. Diinisiasi sejak masih tinggal di Belanda, kemudian dilanjutkan setelah kembali ke Bandung. Sempat terkendala, karena waktu itu rumah kami belum selesai dibangun. Pembangunan perpus pun terhenti sementara. Selama hampir setahun, semua buku dari Belanda (ada dua kardus ukuran 120 liter yang dikirim dengan kapal laut), saya ungsikan ke ruang kerja di kampus. Buku-buku tersebut bergabung dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu di situ, di akhir tahun 2012, saat saya mulai studi S-3.

2. Perpus RTC

Section di rak buku favorit saya.

Saat rumah sudah jadi, kami segera mencari lemari buku. Atas pertimbangan isteri, diputuskan membeli lemari yang dilengkapi kaca. Pengalaman sudah mengajarkan, bahwa tanpa pintu, debu-debu cepat merusak buku. Sempat bimbang, apakah membeli dari IKEA atau bikin di mebel dengan desain serupa, akhirnya kami pilih alternatif kedua. Namun mengecewakan. Dengan harga yang lebih mahal, detailnya banyak yang tidak sesuai, pengerjaannya pun tidak halus. Karena kebetulan satu lemari ternyata tidak cukup. Kami membeli lemari yang kedua dari IKEA. Memang saya harus repot-repot memutar obeng dan bor untuk merakitnya. Tapi tidak masalah. Kualitas barangnya memang terbukti beda.

Manfaat

Membuat katalog memang cukup merepotkan. Harus mencari-cari waktu di tengah kesibukan bekerja. Kemudian baru menyusunnya di lemari sesuai dengan kategori.

8. Statistik buku

Statistik perpus.

Di luar kerepotannya, manfaatnya banyak. Anda bisa mengetahui, buku-buku apa yang menjadi kegemaran di keluarga. Contohnya, saya dengan cepat mengetahui bahwa yang terbanyak di perpustakaan kami adalah ‘Komik & kartun’, kemudian buku-bukunya Kinan. Soal pengkategorian, bisa memakai standar perpustakaan. Kalau saya, lebih suka menyesuaikan dengan kondisi. Contoh, karena belakangan saya makin menyukai buku-buku kumpulan cerpen, maka saya bikin kategori baru. Dulu, ‘Cerpen’ saya gabungkan bersama dengan ‘Novel’.

3. Perpus RTC

Section-section yang lain.

Mengapa saya memilih Google Spreadsheet, kraena banyak fungsi Excel yang bisa dimanfaatkan. Contoh, statistik buku bisa secara otomatis terbaharui dengan fungsi sederhana seperti ‘countif‘. Dengan filter, kita juga dapat mengetahui, buku-buku apa saja yang sudah kita punya dari pengarang yang sama. Contohnya, saya bisa tahu dengan cepat, buku-buku Pramoedya apa saja yang saya punya. Masih dengan filter, saya juga tahu buku-buku apa saja yang sedang dipinjam, dan sudah berapa lama. Untuk pengembangan perpustakaan di rumah kami, saya ingin menambahkan variabel waktu di setiap data. Sehingga saya akan tahu, akhir-akhir ini, buku-buku apa saja yang sedang kami suka untuk beli/baca, buku yang belum dibaca, buku yang lama bacanya (berarti kurang menarik), dll.

Baca, kerja, main

5. Perpus RTC

Saya paling suka bekerja melihat matahari terbit, di jendela yang mengarah ke timur.

Saya punya visi bahwa perpustakaan harus menjadi tempat yang menyenangkan. Ia bukanlah sudut ruangan membosankan yang hanya menarik bagi kutu-kutu buku yang tak pandai bergaul. Saya begitu terkesan dengan perpustakaan-perpustakaan di Belanda, begitu menyenangkan bagi anak-anak.

Bagaimana supaya bisa seperti itu? Seperti di Belanda, anak-anak itu tidak ke perpus sendirian. Mereka ditemani oleh orangtuanya. Para orangtua itu juga menunjukkan antusiasme yang serupa. Contoh paling sederhana, mereka tidak sibuk dengan ponselnya saat sedang di perpus. Mereka membacakan buku dan melayani anaknya.

6. Perpus RTC

Buku adalah jendela dunia.

Di perpustakaan keluarga kami, Kinan (dan adik-adiknya kelak) juga boleh membawa mainannya. Anak-anak terkadang belum bisa fokus seperti orang dewasa. Saat dia bosan dengan bacaannya, dia bisa bermain dengan kereta kayunya. Kami sediakan juga papan tulis untuk corat-coret.

Saya pun suka bekerja di perpustakaan. Waktu favorit saya adalah selepas subuh. Saat menggambar desain rumah, saya sengaja membuat jendela ruang di lantai dua menghadap ke timur, agar saya dapat melihat matahari terbit saat bekerja.

Saya yakin bahwa membuat perpustakaan keluarga yang bagus bukanlah sebuah investasi yang sia-sia. Buku, lemari, dan katalognya, dapat digunakan oleh anak cucu kita. Saya selalu ingat slogan perpustakaan Kerajaan Belanda, “lezen is dromen met je ogen open.” Ya betul, membaca adalah bermimpi dengan kedua matamu yang terbuka. Ketika kecil dulu, saya pun selalu penasaran. Apakah betul bentuk rumah, ladang, pasar dan hubungan antartetangga di luar negeri itu seperti yang diceritakan di buku dan komik? Ternyata semua terverifikasi ketika saya tinggal di Eropa. Banyak lagi pengetahuan yang saya dapatkan dari bacaan ketika kecil.

Di akhir artikel ini, saya mengundang semua yang suka dengan ilmu pengetahuan, untuk datang ke perpustakaan di rumah kami.

Bandung, Agustus 2018

 

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

3 thoughts on “Project done! Perpustakaan Keluarga

  1. Keren skali Pak😍😊

  2. Inspiring, Mas! Nanti aku bisa jadikan referensi untuk membuat kategori buku hehe.. Kapan-kapan diskusi dan sharing sama Mas Rully ah. Dan semoga ada rezeki juga buat silaturahim ke Bandung dan mampir ke perpusnya. 🙂

  3. MasyaAllah, salam kenal pak dosen, saya selalu baca tulisan anda, semoga saya dan suami bisa mendidik anak2 kami agar cinta buku, aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s