Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Tidak Mengambil Keputusan di Tengah-Tengah

Leave a comment

Bagi yang sering naik kereta api jaman dulu, apa kesan Anda? Jadwalnya tidak handal, gerbongnya kumuh, dan berantakan. Saya tambahkan satu lagi, tidak punya orientasi servis. Merasa tidak ada saingan, dan menganggap penumpang yang butuh, maka menjadi jumawa.

Saya dulu pelanggan KA jarak jauh, Bandung-Surabaya, kemudian lanjut ke Jember. Kehandalannya buruk sekali. Jadwalnya sampai Gubeng jam 5.00, bisa sampainya jam 7.30. Di tengah perjalanan, tiba-tiba berhenti di tengah sawah selama dua jam. Tanpa ada satu pun petugas KA yang berinisiatif menjelaskan apa yang terjadi. Belum lagi pedagang asongan yang lebih punya kuasa masuk kereta dibanding penumpang, copet, dsb.

Kemudian datanglah Ignasius Jonan. Selama menjabat sebagai Dirut PT KAI, tidak ada yang memungkiri bahwa dia telah membawa perubahan besar. Operasi kereta api menjadi lebih handal, rapi, dan bersih. Namun, usahanya itu tidak tanpa tantangan. Salah satunya datang dari pedagang asongan. Mereka menganggap bahwa Jonan telah menghilangkan mata pencaharian para pedagang. Pasalnya, setelah puluhan tahun dengan bebas berjualan, sekarang akses tidak diberikan sama sekali.

Sontak banyak yang geger. Jonan menghilangkan mata pencaharian para pedagang. Jonan tidak memikirkan perut anak dan isteri pedagang-pedagang asongan. Jonan pro kapitalis, karena diduga dia ingin memberikan kesempatan lebih bagi para peritel besar di bidang makanan, untuk membuka gerai-gerainya di stasiun. Tidak hanya pedagang, LSM pun banyak yang berteriak.

Jika disederhanakan, ketika itu terdapat dua alternatif tindakan Jonan:

  1. Membenahi KAI dan menggusur pedagang asongan.
  2. Membenahi KAI sambil mempertahankan pedagang asongan, dan pelan-pelan mencari solusi yang memuaskan berbagai pihak.

Kita semua tahu, alternatif pertama yang diambil, dan bertahun-bertahun setelah itu, semua masih puas. Kita senang stasiun menjadi tertib, bersih, dan aman.

Setelah melihat hasilnya, terbukti bahwa keputusan pertama memang baik. Tetapi bagaimana jika kita ada di posisi Jonan ketika itu? Bagaimana kita berani mengambil tindakan yang berani semacam itu? Apakah keputusannya itu bisa dikuantifikasi, sehingga dia yakin, alternatif pertama pasti lebih baik dari yang kedua?

Di sini saya akan memaparkan sebuah analisis sederhana. Perlu dipahami, bahwa saya tidaklah mendewakan Jonan. Saya menulis ini, karena reformasi KAI tersebut menurut saya adalah sebuah peristiwa yang bisa diambil hikmahnya. Peristiwa tersebut juga mengajarkan kita, supaya jika dihadapkan dalam dilema yang sejenis, mengambil keputusan yang tegas akan lebih baik hasilnya dibandingkan berada di tengah-tengah, demi tidak menyakiti salah satu pihak.

Harus membela siapa?

Dari mana harus mengawali analisis? Mudah, siapa yang harus kita bela? Siapa yang menderita kerugian terbesar? Supaya mudah, mari kita batasi obyek hanya pada jalur kereta Bandung ke Jakarta (pp) saja.

Jumlah pedagang asongan KA di masa lalu, anggaplah 50 orang di setiap stasiun. Dulu setiap kali berhenti di stasiun, di setiap gerbong saya selalu temui 4-5 pedagang. Maka saya rasa angka 50 itu cukup valid.

Di jalur Bandung-Gambir, kereta Argo Parahyangan saat ini paling tidak melewati stasiun Bandung, Cimahi, Purwakarta, Bekasi, Jatinegara, dan Gambir. Dengan sistem yang lama, kereta akan berhenti lagi (secara tiba-tiba) di stasiun-stasiun yang lain, misal Padalarang, Cikampek, Manggarai, dll. Jadi taruhlah 10 stasiun singgah. Maka, bakal ada 50×10 = 500 pedagang asongan sepanjang Bandung ke Jakarta. Asumsinya pedagang asongan itu akan bergantian selama tiga hari sekali, maka dalam satu bulan, bakal terdapat 5.000 pedagang di jalur tersebut. Banyak? Ya. Menihilkan akses bagi mereka, tentu saja sama dengan merugikan 5.000 orang tersebut.

Namun, supaya adil, kita juga harus menghitung kerugian dari sisi penumpang. Setelah perbaikan, orang baru sadar bahwa naik kereta itu nyaman, dan lebih reliabel dari sisi waktu. Tidak heran banyak yang beralih dari moda mobil/bus ke kereta api. Untuk rute Bandung ke Jakarta, hipotesis ini telah terbukti. Sempat mati saat tol Cipularang booming, kereta Argo Parahyangan saat ini bangkit kembali. Apalagi sekarang sedang ada pembangunan di Karawang s/d Cikampek, yang membuat perjalanan darat dari Bandung ke Jakarta bisa mencapai lima jam.

Setelah diperbaiki, terbukti pasar potensial kereta api sangatlah besar. Saat ini terdapat 30 kali perjalanan Argo Parahyangan dari Bandung-Jakarta pp. Jika satu kereta terdapat 4 gerbong eksekutif dan 4 gerbong ekonomi, maka kapasitasnya adalah 4×60 + 4×80 = 560 penumpang/kereta. Bagi yang sering naik kereta ini, pasti setuju bahwa okupansinya sangatlah tinggi. Jika beli belinya mepet, bisa dipastikan tiket kereta tidak akan didapatkan. Anggaplah setiap kali perjalanan membawa 300 penumpang, maka dalam sehari, bakal terdapat 300×30 = 9.000 penumpang/hari, atau 270.000 penumpang per bulan.

Apakah kita rindu sistem yang lama?

Mana yang harus kita pilih, reduksi kerugian 5.000 pedagang asongan, atau 270.000 penumpang? Pak Jonan telah memilih untuk membela penumpang. Tepatkah keputusan itu? Kita bisa menjawabnya sendiri. Apakah kita (termasuk yang dahulu berteriak) ada yang ingin kembali ke KAI jaman sebelum perubahan? Saya yakin, mayoritas akan menjawab tidak.

Apakah keputusan PT KAI waktu itu kejam? Tergantung dari mana Anda melihatnya. Jika berargumen bahwa aktivitas ekonomi 5.000 pedagang telah dibahasmi (eradicated), bisa kita hitung. Anggaplah omset seorang pedagang asongan Rp 300.000 per hari. Ada 500 pedagang sepanjang jalur Bandung-Jakarta per hari. Maka, dalam satu hari, total omset pedagang adalah Rp 150.000.000, atau 4,5 M per bulan. Sebaliknya, dari hitungan di atas, jumlah penumpang KA Argo Parahyangan adalah 270.000 per bulan. Jika harga tiket rata-rata adalah Rp 100.000, maka dalam sebulan total omsetnya 27 M per bulan. Dari sisi ekonomi, keputusan Jonan waktu itu valid.

Kita bisa berargumen lagi bahwa pedagang asongan menumbuhkan ekonomi kecil. Asumsi ini mudah dipatahkan. Memangnya 270.000 penumpang itu tidak bisa menumbuhkan ekonomi? Jika banyak yang ke Bandung, maka bisnis transportasi, makanan, dan hotel juga akan tumbuh.

Paling penting dari semua argumen tersebut, Jonan, adalah representasi dari PT KAI. Tugas utama dari KAI adalah menyediakan transportasi kereta yang bermutu. Frankly speaking, dari sisi tupoksi, dia tidak punya tanggung jawab sama sekali terhadap nasib rakyat kecil yang mencari nafkah dengan mengasong di stasiun.

Tanggung jawab siapakah untuk mengurusi pedagang-pedagang yang kehilangan pekerjaan tersebut? Tentu saja urusan pemerintah yang terkait. Jika pemerintah cukup pintar, mereka bakal bisa memprediksi perubahan. Lonjakan 270.000 penumpang, bakal menumbuhkan berbagai aktivitas ekonomi sampingan. Jika disiapkan dengan serius, bisnis makanan, penginapan, dll bisa difasilitasi pemerintah untuk para pedagang tersebut. Kalau sekarang bisnis-bisnis tersebut menjadi ladangnya pemain-pemain besar, tentu saja bukan salahnya PT KAI.

Jonan ketika itu sudah mengambil keputusan sesuai porsinya. Tegas dan tidak berada di tengah-tengah, karena memang tidak semua pihak bisa (harus) kita puaskan. Hasilnya terlihat, yang tegas, bakal membawa hasil yang lebih signfikan, dibandingkan dengan posisi yang mengambang. Keputusan semacam ini, banyak penerapannya di bidang lain. Misal mengurusi Pak Ogah di persimpangan jalan, angkot, pengusuran hunian kumuh, dan juga pembatasan kendaraan pribadi.

Terus terang, kadang-kadang saya juga kangen beli makanan-makanan tradisional dari asongan di stasiun yang disinggahi. Tapi kalau berpikir lagi dampaknya secara menyeluruh, saya buang jauh-jauh pikiran itu. We can’t (or stay) back to the past, just because it’s familiar, yet, it’s tempting.

Jakarta, September 2018

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s