Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Membeli Kehidupan Sosial

Leave a comment

sekolah di desaSejak kecil saya belajar dengan rajin. Menghabiskan bertahun-tahun di bangku sekolah. Dari TK sampai kuliah kita perlu waktu 18 tahun. Tujuh tahun di antaranya saya jalani dengan berjauhan dari keluarga. Banyak orang, dari SMP atau bahkan SD malah sudah merantau demi pendidikan.

Ratusan juta rupiah dikeluarkan para orangtua. Supaya kelak anak-anaknya bisa mendapatkan bekal yang baik di masa depan. Hasilnya, tentu saja tidak pernah saya keluhkan. Saya selalu bersyukur. Paling tidak jika melihat teman-teman dengan pola pendidikan serupa, hidup kami baik, lebih malah. Makan cukup, rumah layak, tidak kehujanan saat berkendara, dan kadang-kadang masih bisa liburan.

Namun kadang-kadang saya gamang. Saya dan isteri memang nyaman hidupnya. Tetapi, saya ragu kami sudah berhasil memberikan kebahagian yang sama seperti orangtua dulu memberikan ke saya semasa kecil. Makanan, kesehatan, pendidikan dan mainan tentu saja kami sudah berusaha menyediakan yang terbaik. Tetapi, apakah anak-anak pasti senang dengan itu saja?

Tempo hari saya dikirimi seorang teman foto murid-muridnya. Saya langsung teringat, seperti itulah masa kecil saya dulu.

Dengan kaki-kaki telanjang, kami menyusuri jalan setapak. Terkadang telapak kaki terkena tunggak (sisa batang pohon). Sakitnya bukan main. Tapi tak masalah. Teman-teman yang lain kadang juga kena tunggak. Katanya, kalau sakitnya bareng-bareng, lebih terasa tidak terlalu sakit.

Di depan sana ada sungai kecil, warisan saluran pengairan jaman Belanda. Di situlah tempat kami biasa menghanyutkan batang pohon pisang. Kadang-kadang malah ikut menaikinya sampai terhanyut cukup jauh. Sudah pasti ini membuat orangtua khawatir. Dekat sungai, ada sawah tempat mencari belut. Kadang-kadang kami nakal. Mengambil bunga pohon tebu untuk dijadikan anak panah.

Di rumah, anak-anak itu sudah ditunggu ibu-ibunya. Orang kampung tak selalu punya uang untuk membeli pizza dan burger (lagipula, dua puluh lima tahun yang lalu belum ada yang jual). Jadi, cemilannya tidak jauh dari singkong, biji nangka (Jw. beton), atau jeruk bali. Tapi itu pun menyenangkan. Kulit jeruk bali bisa dibuat mainan mobil-mobilan. Modalnya cuma pisau dan lidi yang diambil dari sapu.

Di tengah kesederhanaan, saya rasa orang kampung jarang mengeluh. Lagipula, untuk apa? Tetangga-tetangganya juga sama sederhananya. Manusia mengeluh setelah melakukan perbandingan.

Sedangkan anak saya tidaklah seperti mereka. Di rumahnya di kota, mainannya cukup. Tapi kadang saya merasa kasihan. Seringkali dia harus main hanya ditemani orangtuanya saja. Belum pernah dia malam-malam pulang mengaji kemudian berlari-larian mengejar kunang-kunang seperti saya dahulu. Belakangan, saya sadar kalau dia memang tidak tahu apa itu kunang-kunang! Seumur-umur belum pernah lihat langsung. Itu karena mayoritas binatang-binatang dia ketahui dari gambar di buku buku. Saat seumurnya dulu, saya tahu kumbang, kodok, yuyu, empet, setelah saya lihat dan pegang langsung. Akhirnya malah tahu perbedaan rasanya. Oleh kami makhluk-makhluk malang itu dibakar atau dipanggang.

Sebabnya anak saya bisa seperti itu, karena seringkali orangtuanya menjemputnya terlalu larut, setelah urusan pekerjaan selesai. Orangtua-orangtua yang lain juga sama. Sehingga anak-anak yang bermain bersama di waktu malam bakal menjadi beban.

Anak-anak kampung itu juga bakal heran kalau saya beri cerita. Sejak belum lancar bicara, anak kami sudah terbiasa saya bawa pergi saat persada belum sepenuhnya tersingkap dari tirai malam. Lagi-lagi karena pekerjaan. Yang imbalannya bagus, dan kami habiskan di akhir pekan di mall untuk menghibur anak kami. Di playground dia asyik bermain, dengan anak-anak lain yang tak dikenalnya.

Terkadang saya berpikir, anak-anak di kota les mengaji, musik, atau olahraga, bukan cuma untuk membangun keterampilan. Namun juga untuk membeli kehidupan sosial. Tanpanya, temannya tidak akan banyak. Bisa jadi malah tidak ada. Anak saya, kalau tidak dititipkan di day care, mau main dengan siapa? Paling banter dengan sepupunya. Itu tidak terjadi di desa. Seorang anak kecil, peluang bermainnya terbuka lebar sampai ke 5-10 rumah tetangga sekitar. Main di halaman, tidur siang, sampai kadang makan di rumah tetangga. Saat beranjak dewasa, anak-anak tetangga itu jugalah teman main ke sawah, lapangan, dan bersepeda.

Tentu saja orang Jawa bilang bahwa hidup itu sawang sinawang, saling membandingkan. Tetapi menurut saya tidak harus seperti itu, jika desain sosial kita bagus. Kalau pemerintah menata zonasi dengan baik,. transportasi menjadi lebih efisien. Orangtua pun sampai ke rumah tidak terlalu larut malam karena macet. Kultur sosial yang dibangun pemerintah dengan teliti, bakal membuat lingkungan perumahan menjadi lebih ramah.

Apakah ada komunitas yang mendekati ideal seperti itu? Tentu saja. Di Belanda, bahkan di kota besar seperti Amsterdam, lumrah bagi orangtua untuk melepas anak-anaknya bermain sendiri. Biasanya mereka bertemu teman-temannya di taman. Kebebasan seperti itu, dulu juga saya dapatkan di desa. Setelah saya refleksikan, saya bersyukur akan masa anak-anak yang menyenangkan. Kehidupan semacam itu turut membantu saya menjadi orang yang lebih peka secara sosial. Bermain dan mengunjungi rumah teman, saya di masa kecil terbiasa membuat perbandingan. Kalau ada rumah teman yang tidak sebagus rumah saya, kita akan terbiasa bersyukur.

Di kota, kebebasan seperti sulit didapatkan oleh anak saya. Melepas dia berjalan sendiri ke rumah kakek neneknya yang jaraknya tidak sampai 500 m, saya pun masih ragu-ragu. Membiarkan dia ke sungai untuk melihat ikan, saya takut dia mengalami sesuatu hal yang bahaya. Kehidupan sosialnya, saya rasakan banyak yang artifisial. Saya masih tetap kasihan dengannya. Semoga kelak tidak lagi.

Bandung, Januari 2019

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s