Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Pendidikan Kesehatan

Leave a comment

olahragaPagi itu, di bulan Desember tahun lalu, sembari berlari di bawah birunya langit Kuta, saya berpikir. Seharusnya eberhasilan pendidikan tidaklah sesempit tingginya rata-rata nilai yang dicapai peserta kelas. Mestinya dampaknya diukur secara jangka panjang.

Ambil contoh mata pelajaran olahraga, atau di jaman saya sekolah dulu disebut sebagai pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes). Adakah dampak penjaskes yang terasa sampai sekarang? Kalau buat saya, tidak banyak. Malah cukup banyak memori kurang menyenangkan. Lari di tengah terik matahari dan ujian senam yang saya tidak lancar gerakannya adalah beberapa di antaranya. Kalau ada kesenangan main sepakbola dan bulutangkis, itu saya dapatkan di luar sekolah. Pada akhirnya, penjaskes tidak lebih sebuah formalitas, yang penting lulus dengan nilai cukup.

Padahal, penjaskes harusnya ukuran keberhasilannya jelas. Setelah lulus sekolah, setiap orang tidak harus menjadi ahli olahraga atau atlet. Tujuan yang terpenting adalah kita bisa punya kesadaran yang tinggi akan pentingnya hidup sehat. Pendidikan penjaskes yang berhasil, bakal membuat para lulusan sekolah, tanpa perlu disuruh, latihan (exercise) dengan sendirinya. Begitu pula terhadap makanan-makanan yang kurang sehat, akan bisa mengontrol agar tak melebihi batas. Apalagi terhadap substansi tak berfaedah seperti narkoba, dengan sendiri akan menghindari.

Itulah yang terjadi di negara-negara maju. Dua bulan terakhir di tahun 2018 saya dinas di Belanda, Jerman dan Singapura, di pagi hari sudah banyak tua dan muda jogging (dengan kecepatan yang mengagumkan). Orang-orangnya pun tidak terlalu banyak yang out of shape (gemuk) seperti di Indonesia. Saat mengakhiri dinas tahun 2018 di Bali, pemandangan sebaliknya yang terlihat. Di sepanjang pantai kuta, yang paling rajin berolahraga pagi hari adalah bule. Orang domestik asyik berswafoto.

Orang-orang asing bisa seperti itu, pastilah ada kontribusi keberhasilan pendidikan olahraganya. Sejak kecil sudah ditanamkan dan dipraktikkan pentingnya hidup sehat. Di Belanda, bahkan jika bekal makan siang siswa SD kurang sehat (yang sebetulnya kalau di Indonesia masih dianggap wajar), orangtua murid akan ditegur. Pada umumnya siswa hanya boleh membawa makanan roti dengan isi keju atau selai buah/kacang. Roti dengan selai coklat pun dilarang. Sedari kecil, siswa sangat didorong untuk suka buah dan sayur. Tentu saja tidak hanya diberitahu, gurunya ikut mencontohkan makan makanan yang sehat. Tidak heran, dulu teman-teman saya sesama mahasiswa lumrah jika hanya makan siang dengan apel, pisang, dan buah pir.

Tidak cuma penjaskes, di mata pelajaran yang lain harusnya indikator keberhasilannya sama. Kita tidak perlu bangga ada 0,01% siswa Indonesia yang juara matematika, tapi kasir-kasir menghitung jumlah transaksi perlu pakai kalkulator (di Belanda, para pramuniaga cekatan menghitung transaksi secara manual). Belajar matematika, seharusnya juga membuat masyarakat cermat dalam memperkirakan waktu perjalanan, sehingga tidak sampai terlambat datang ke sebuah janji. Belajar ilmu hayati, tidak perlu menargetkan murid untuk hafal nama-nama latinnya terlebih dahulu. Bawalah ke pinggir sungai atau tepi kebun. Supaya nanti saat dewasa bisa membedakan mana pohon mangga dan rambutan.

Kembali ke penjaskes. Mengajarkan olahraga dan hidup sehat sampai ke esensinya memang tidak mudah. Selain guru yang berkualitas, juga harus menyediakan fasilitas. Kalau tidak ada taman, lapangan dan kolam, tentu saja murid-murid malas praktik. Membangun taman, trek lari, dan lapangan sepakbola memang mahal. Tapi kalau dipikir-pikir, manfaatnya jauh lebih besar dari biayanya. Dengan sendirinya, prestasi olahraga di ajang multicabang bakal datang dengan sendirinya.

Kalau masyarakat hidup sehat, tentu waktu kerja produktifnya lebih panjang. Ditunjang dengan harapan hidup yang lebih lama. Maka tidak mengherankan kan jika angka harapan hidup di negara maju lebih tinggi dibandingkan di Indonesia? Begitu pula penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh gaya hidup, bakal lebih bisa dihindari. Anggaran pemerintah untuk membiayai orang-orang sakit akibat gaya hidup yang tidak sehat, bisa dialihkan untuk hal lain, misal infrastruktur atau pendidikan.

Umur dan kesehatan memang di tangan Tuhan. Namun kalau kita bisa mengusahakan hidup yang lebih berkualitas, sehingga waktu kita di dunia lebih panjang manfaatnya, saya rasa itu pun merupakan bentuk amal ibadah.

Bandung, Januari 2019

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s