Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Resensi Buku: Olenka

Leave a comment

Buku. Olenka‘Olenka’ memberikan pengalaman baru yang mengasyikkan. Ceritanya sederhana, namun memberikan makna yang begitu dalam. Sering dipuji sebagai salah satu karya sastra terbaik di Indonesia, saya rasa itu tidaklah berlebihan.

Seperti dalam ‘Orang-Orang Bloomington’, Prof. Budi Darma menggali sisi terdalam dari kehidupan manusia dalam novelnya ini. Hanya terdapat tidak lebih dari lima karakter pokok. Ceritanya pun tidak menwarkan letupan-letupan peristiwa yang mendebarkan hati. Justru cenderung datar, dan menuntut kita untuk ikut merenung. Di situlah malah daya tariknya dari buku setebal 426 halaman.

Hubungan terlarang

Cerita berawal dari pertemuan Fanton Drummond, dengan seorang perempuan di lift gedung apartemennya, yang belakangan diketahui bernama Olenka. Fanton yang masih muda, segera tertarik ke Olenka. Ketertarikannya membuatnya mencari-cari berbagai cara untuk menelusuri perempuan misterius tersebut. Akhirnya dia mengetahui bahwa Olenka sudah bersuami Wayne Danton. Pernikahan itu malah telah menghasilkan seorang anak bernama Steven.

Kontradiksi tersebut tidak menyurutkan deru dalam hati Fanton. Walaupun dia tahu bahwa salah mendekati seorang perempuan yang sudah bersuami, petualangannya tetap dilanjutkan. Sedari awal dia bukannya tidak mengalami paradoks moral. Dalam sebuah kisah, Drummond dan Olenka membahas sebuah cerpen. Tokoh utama dalam cerita tersebut tidak kuasa menahan dirinya untuk terseret ke perbuatan dosa yang disadarinya secara penuh. Saya rasa, seperti inilah Budi Darma menggambarkan pertempuran dalam hati nurani sang tokoh utama.

Sayangnya, Wayne sama sekali tidak menghalangi niat pria yang mendekati isterinya. Dia malah mengejek Olenka sebagai seorang perempuan bebas dan bohemian. Hubungan antara suami isteri tersebut tidak kalah unik. Wayne, seorang pengarang yang kurang berhasil, merasa Olenka adalah sumber inspirasinya. Sebaliknya (menurut Wayne), Olenka membutuhkan dirinya untuk memenuhi kebutuhan badaniah.

Pernikahan yang hampir tanpa arti membuat Fanton tidak ragu-ragu untuk menjalin hubungan dengan Olenka. Diceritakan bahwa setiap kali bertemu, keduanya telah menjadi sepasang binatang. Bagi Fanton, Olenka adalah sebuah eksplorasi tanpa batas. Dia perlakukan tubuh Olenka seperti peta dunia, yang kadang-kadang juga digantung dan dibentangkan seperti seonggok pakaian.

Terombang-ambing

Tiba-tiba Olenka pergi. Dalam kebingungannya, sang tokoh utama mulai tersadar bahwa sebetulnya hidupnya kurang memiliki makna yang berarti. Diceritakan dalam sebuah kisah balik, Fanton Drummond adalah seorang yatim piatu, yang kemudian juga ditinggalkan oleh kedua orangtua angkatnya dalam sebuah kecelakaan. Meskipun tidak pernah serius dalam sekolah, peruntungannya dalam pekerjaan cukup baik. Sebagai seorang kru film, uang mudah didapatkannya. Materi yang cukup nyatanya tidak membuat hatinya tenang. Dalam kegelisahannya, Fanton diibaratkan menggelinding dari satu tempat ke tempat lain, tanpa arah, tanpa tujuan.

Di salah satu perjalanannya, dari Bloomington ke Indianapolis, Fanton berkenalan dengan Mary Carson (M.C.). Perempuan itu menarik hatinya, dan membuatnya berani untuk mengajukan pinangan. M.C. menolak pinangan tersebut, merasa bahwa Drummond hanya menjadikannya pelarian. Di perjalanan pulang, nasib nahas menimpa M.C. Pesawat yang ditumpanginya terjatuh, dan dia menjadi cacat. Merasa bertanggungjawab, Fanton kembali mengajukan lamaran, yang juga kembali ditolak.

Terus terombang-ambing, Fanton menerima surat panjang dari Olenka. Perempuan itu berkisah, meninggalkan Drummond karena tak mau terus-menerus melanggar kodrat. Dia tidak pernah merasa sebagai isteri yang berbakti, dan juga ibu yang baik bagi Steven. Olenka menceritakan bahwa masa lalunya kelam. Saat itu dia berhubungan dengan seorang perempuan bernama Winifred, dan sadar bahwa perbuatannya telah tak sesuai dengan suratan alam.

Kabar terakhir tentang Olenka yang diperoleh Fanton Drummond adalah dari cerpen-cerpen Wayne Danton. Di situ Wayne mengibaratkan baik Olenka dan Fanton sebagai orang-orang yang berpenyakit. Fanton tidak terima dengan tudingan itu, walaupun pada akhirnya ia menyerah dan mengakui, bahwa yang dipaparkan Wayne tidak kurang benarnya.

Dalam sebuah fragmen terakhir, Fanton membaca sebuah berita di surat kabar. Dikabarkan bahwa Olenka telah tersangkut kasus penipuan lukisan. Fanton mencoba menengok Olenka yang sedang di rawat di rumah sakit. Namun, perempuan itu tetap meninggalkan misteri, setelah hanya tersisa jejaknya yang telah kabur dari bangsal perawatannya.

Mencari makna

Dalam kisah ini, Budi Darma membahas hal-hal yang kurang lebih sama dalam ‘Orang-Orang Bloomington’, dan juga cerpen-cerpennya yang sering saya baca di Kompas hari Minggu. Kegelisahan, kegamangan manusia dalam mencari jati dirinya dikisahkan melalui potongan-potongan cerita yang sederhana, namun menggugah pikiran terdalam kita.

Manusia-manusia yang senang dan sibuk dengan kehidupannya masing-masing, seperti Fanton Drummond dan Olenka, ternyata tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya mereka cari. Dalam salah satu rasa frustrasinya yang terpendam, Olenka seolah-seolah menggugat Sang Pencinta Hidup. Bagaimana hidup, termasuk perkawinan menjadi sesuatu yang memusingkan. Orang harus membuat keputusan besar dalam kawin. Mengapa tidak seperti lahir saja, yang tinggal dijalani tanpa memilih.

Sebagai novel yang berlatarbelakang di Amerika Serikat, tentu saja Budi Darma mengamati masyakarat dan lingkungan tempatnya studi tersebut. Saya rasa, Olenka adalah sebuah kritik akan masyarakat berperadaban maju, namun hampir-hampir tanpa makna.

Dalam kegamangannya, Fanton Drummond berusaha berkali-kali mencari jawabannya. Melalui jalan yang berliku, jalan pikirannya memberikan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang harus dijawabnya. Untuk menciptakan hidup yang bermakna, manusia harus kembali ke Sang Penciptanya. Dia pun tersadar, manusia tidak semata bisa bersenang-senang. Jika begitu, dia akan hilang bentuk, remuk. Maka, di akhir cerita, sang tokoh utama berujar, “Tuhanku, dalam termangu, aku ingin menyebut nama-Mu.”

Bandung, Februari 2018

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s