Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Kuliner Jawa di Lampung

Leave a comment

Mas Yanto. 1

Burung dara goreng

Sejak semester lalu saya ditugaskan mengajar di Institut Teknologi Sumatera (ITERA), di Bandar Lampung. ITERA bersama dengan Institut Teknologi Kalimantan (ITEKA) adalah proyek pemerintah untuk memperbanyak perguruan tinggi teknik di luar Jawa. ITERA di bawah binaan ITB, dan ITEKA diasuh oleh ITS. Sebelum kampusnya jadi, mahasiswa ITERA sempat kuliah tahun pertama (TPB) di kampus ITB Jatinangor.

Saya rasa ini adalah program yang bagus dari pemerintah. Majunya industri sebuah negara tergantung dari ketersediaan dan kualitas SDM di bidang teknik dan sains. Siapa yang membangun pabrik dan jembatan kalau bukan orang teknik. Begitu juga, kita selalu ketinggalan berinovasi karena kekurangan peneliti bermutu di bidang sains.

Singkat cerita, ITERA baru saja memiliki program studi teknik industri di tahun 2017. Sebagaimana umumnya di dunia pendidikan tinggi, TI ITERA belum bisa berdiri sendiri. Kaprodinya masih dari TI ITB, Pak Herman Soetisna, kolega saya. Dosen-dosennya masih dicangkokkan ke staf-staf akademik TI ITB yang rutin berkunjung ke Lampung sebagai dosen tamu. Saya kebagian mengajar Penelitian Operasional. Senang juga mengajar di luar ITB. Jadi mengerti seperti apa tantangan pendidikan di luar Pulau Jawa.

Berburu kuliner

Mas Yanto. 2Kalau tidak salah ingat, saya sudah empat kali ke Bandar Lampung untuk mengajar. Seperti yang sudah-sudah kalau dinas ke luar kota, tentu saja tidak lupa untuk berburu kuliner. Masalahnya, di Lampung kurang ada santapan yang khas. Isteri saya menitip pempek (setelah dibeli memang enak rasanya). Di sepanjang jalan juga banyak yang jual pindang ikan. Keduanya, jelas makanan Sumatera Selatan.

Paling mencolok justru kuliner Jawa yang melimpah. Mulai dari pecel lele, soto, sampai bakso solo. Sebetulnya ini tidak mengherankan. Provinsi Lampung memang dulu banyak didatangi oleh transmigran Jawa, bahkan sejak masa kolonial di awal abad ke-20. Konon, transmigran generasi pertama di Lampung adalah sisa-sisa laskar Diponegoro. Daripada memberontak lagi di Jawa, mereka diberi lahan garapan di daerah yang waktu itu belum terjamah.

Mas Yanto. 3

Terong penyet

Kembali ke soal kuliner. Pertama kali datang ke Bandar Lampung, supir Grab bilang kalau lalapan di Lampung itu beda. Katanya, sambalnya pakai ranti, tidak cuma tomat. Wah, saya jadi penasaran. Saya tahu ranti memang bikin sambal cita rasanya unik. Tetapi di Jember saja sekarang sudah jarang. Saya makin terprovokasi saat dia menyatakan bahwa di Lampung juga lalapannya sepiring penuh, tidak cuma sepotong kecil seperti layaknya di Jawa.

Pak supir merekomendasikan lalapan Mas Haji Yanto Lamongan. Dari namanya saja sudah ketahuan kalau ini masakan Jawa. Rupanya bisnis mas Yanto sukses. Cabangnya ada tiga. Kalau tidak salah, pertama kali makan saya di cabang yang kedua.

Waktu terakhir kali ke Bandar Lampung, saya putuskan untuk makan di Mas Yanto lagi. Repotnya, ITERA terletak di Way Hui, sekitar 10 kiolmeter dari pusat kota. Setelah lihat di Google Maps, ternyata cabang ketiga yang paling dekat. Saya niatkan kesana sekalan jogging dari Wisma ITERA. Jaraknya pas sekali, lima kilometer lebih sedikit.

Lalapan

Mas Yanto. 4Rumah Makan Mas Haji Yanto Lamongan 3 sesuai dengan reviu yang saya baca di Google Maps. Cabang ini dapat nilai tertinggi dan ulasan terbanyak dibanding dua cabang lainnya. Jadilah di sore hari sekitar jam 18 WIB waktu itu restoran dalam kondisi cukup ramai. Namun tetap nyaman, karena luas dan disediakan banyak meja dan kursi. Keadaan pun cukup bersih. Hanya di bagian cuci tangan yang agak jorok, banyak sisa-sisa tisu keluar dari tempat sampah.

Seperti terlihat di menu, jenis makanan yang disajikan beraneka ragam. Menurut saya seperti di depot-depot Jawa Timur. Salah satunya karena ada soda gembira, minuman yang hampir selalu tersedia di rumah makan jawa timuran. Tidak tersedianya harga makanan di daftar menu juga merupakan ciri khas.

Saya pilih lalapan burung dara goreng dan penyet terong, minumnya jeruk peras. Di Jawa Timur, cukup mudah menemukan kuliner burung dara, entah kenapa sulit dicari di Bandung.

Mas Yanto. 5

Menu

Tidak berapa lama makanan datang, dan langsung disikat. Maklum, perut lapar setelah berolahraga. Burung daranya gurih. Sambalnya segar, memang betul pakai ranti. Namun buat saya terasinya terlalu banyak. Kalau pedasnya pas. Penyet terongnya juga enak, tetapi cukup berminyak. Kalau yang ini saya bias, karena memang dari dulu lebih suka terong yang dikukus, rasanya belum pernah menemukan menu ini di rumah makan.

Selesai makan, jeruk peras dingin diseruput. Manis dan segar. Perut kenyang, lidah puas, saatnya membayar. Total harganya sekitar 70 ribu rupiah. Mahal juga. Seingat saya burung daranya saja 30an ribu rupiah. Menurut saya harganya sepadan. Ukurannya lumayan, dan rasanya juga nikmat. Kalau ke Bandar Lampung lagi, jadi ingin kemari lagi, mencoba mencicipi menu-menu yang lain.

Bandar Lampung, Februari 2019

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s