Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru

Menginap gratis di hotel saat di Belanda

Leave a comment

Photo 27-06-2019, 9 57 31 pmSetiap kali lewat hotel ini saya ada perasaan haru. Isteri saya pun mungkin demikian.

Saya dan Intan pernah menginap di hotel ini seminggu lebih. Kejadiannya di musim dingin tahun 2015. Ketika itu, di akhir bulan Januari, anak pertama kami lahir dengan kondisi gawat darurat. Jadilah Kinan dirawat di NICU (neonatal intensive care unit) di rumah sakit UMCG, Groningen sejak hari pertama dia lahir.

Isteri saya juga ada di rumah sakit yang sama. Karena lahirannya normal, dia cepat pulih. Di hari ketiga, kami didatangi dokter dan pegawai administrasi rumah sakit.

D: Kamu sudah sembuh?

I: Ya, saya sudah bisa berjalan dan beraktivitas ringan.

D: Kalian berdua kami berikan kamar di NH hotel ya? Yang persis di seberang UMCG itu.

R: Untuk apa? Rumah kami cuma 5 km dari sini. Naik bis juga 20 menit sampai.

(Sebetulnya saya mikir, berat juga kalau mengeluarkan 130 Euro per malam untuk bayar hotel)

D: Iya, kami tahu. Tapi peraturan Pemerintah Belanda menyatakan bahwa untuk bayi-bayi yang dirawat di NICU, orangtua, terutama ibunya, harus diberi fasilitas sehingga dia bisa sedekat mungkin dengan anaknya selama dia dalam kondisi kritis.

R: Oh, maksudnya kamar hotel untuk kami itu gratis?

D: Ya, asuransi yang bayar. Asuransi bakal berat kalau bayar biaya kamar isteri Anda di rumah sakit. Kamar hotel lebih murah. Lagipula, seperti yang dia bilang, dia sudah sembuh. Makanya tidak perlu di rumah sakit. Kalau ada kejadian darurat dengan Ny. Intan, perawat akan datang ke hotel. Bagaimana, kalian setuju?

Sampai sekarang saya dan isteri sangat terkesan dengan kejadian ini. Pemerintah Belanda dengan konkrit menunjukan bahwa kesehatan sangatlah penting. Apalagi untuk anak-anak. Sehatnya anak-anak adalah aset di masa depan. Tidak ada aset negara yang lebih penting selain unggulnya sumber daya manusia.

Belanda membuktikan bahwa keadilan sosial memang diterapkan. Kami yang bukan warga negara Belanda pun mendapatkan pelayanan yang sama. Tidak dibeda-bedakan. Semua gratis, tidak cuma hotel, tapi semua biaya pengobatan Kinan gratis.

Kemudian, pendekatan orang Belanda untuk penanganan bayi yang lahir dengan kritis sangatlah humanis. Di hari-hari pertama menengok Kinan ke NICU, suster selalu mengajak mengobrol dengan ramah.

S: Kalian besok mau menengok Kinan kapan saja?

I&R: Sama seperti sekarang mungkin, pagi, atau siang.

S: Kenapa tidak lebih sering? Mungkin pagi, siang, dan malam.

I&R: Apakah wajib?

S: Oh, tentu tidak. Kalau kalian tidak mau ke NICU pun, dia pasti bisa kami rawat dengan sangat baik. Tapi, kalian orangtuanya. Ada baiknya kalian mengenalnya sejak awal.

I&R: Maksudnya?

S: Maafkan saya. Tentu saya tahu, setiap orangtua tidak akan mudah melihat anaknya dalam kondisi seperti ini. Tapi kalau tidak kenal, kalian bakal sulit untuk menyayangi toh?

(Waktu itu Kinan kulitnya sedang mengelupas sekujur tubuh)

I&R: Anda sangat bijaksana. Tentu saja kami mau.

S: Bukan begitu. Memang prosedur kami begitu. Keterlibatan orangtua sangat penting, dan juga diharapkan.

I&R: Di Indonesia, tidak begitu. Bayi di NICU seperti di kurungan kaca.

S: Dulu pun kami begitu, sekarang kami lebih percaya dengan metode seperti ini. Alasannya, seperti yang sudah saya bilang.

Maka selama sepuluh hari ke depan, itulah rutinitas kami. Di tengah dingin dan melewati jalan bekas salju, saya mendorong Intan di kursi roda setiap pagi, siang, dan malam. Kadang lebih dari tiga kali sehari.

Setiap kali datang kami dibimbing dari mulai sekedar mengobrol, memegang jari-jari mungil, mengusap kepala, mengganti popok, mengoleskan salep, sampai akhirnya berani menggendong anak kami, yang masih selalu tersambung selang infus dari inkubator.

Pendekatan itu memang benar. Kami menyayangi anak kami tanpa terlalu melihat seperti apa kondisinya yang lain dari anak kebanyakan.

Hebatnya, pencapaian kami itu tidak bisa dimungkiri adalah hasil dari sebuah prosedur sistematis dari pemerintah. Sebuah pemerintah yang begitu memperhatikan well-being dari penduduknya. Tentu tidak mengherankan kalau negaranya pun damai dan makmur.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s