Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Tidak Mengambil Keputusan di Tengah-Tengah

Bagi yang sering naik kereta api jaman dulu, apa kesan Anda? Jadwalnya tidak handal, gerbongnya kumuh, dan berantakan. Saya tambahkan satu lagi, tidak punya orientasi servis. Merasa tidak ada saingan, dan menganggap penumpang yang butuh, maka menjadi jumawa.

Saya dulu pelanggan KA jarak jauh, Bandung-Surabaya, kemudian lanjut ke Jember. Kehandalannya buruk sekali. Jadwalnya sampai Gubeng jam 5.00, bisa sampainya jam 7.30. Di tengah perjalanan, tiba-tiba berhenti di tengah sawah selama dua jam. Tanpa ada satu pun petugas KA yang berinisiatif menjelaskan apa yang terjadi. Belum lagi pedagang asongan yang lebih punya kuasa masuk kereta dibanding penumpang, copet, dsb.

Kemudian datanglah Ignasius Jonan. Selama menjabat sebagai Dirut PT KAI, tidak ada yang memungkiri bahwa dia telah membawa perubahan besar. Operasi kereta api menjadi lebih handal, rapi, dan bersih. Namun, usahanya itu tidak tanpa tantangan. Salah satunya datang dari pedagang asongan. Mereka menganggap bahwa Jonan telah menghilangkan mata pencaharian para pedagang. Pasalnya, setelah puluhan tahun dengan bebas berjualan, sekarang akses tidak diberikan sama sekali. Continue reading


4 Comments

Project done! Perpustakaan Keluarga

1. Perpus RTC

Dua lemari buku di perpustakaan kami.

Akhirnya, saya selesai juga membuat sebuah perpustakaan keluarga! Terus terang, saya senang sekali. Sudah menjadi cita-cita sejak dulu untuk memiliki sebuah ruang baca yang nyaman di rumah. Akhir tahun lalu, alhamdulillah proses pembangunan rumah kami selesai. Ini juga merupakan sebuah target, karena sejak mula saya dan isteri tidak mau beli rumah, kendaraan, dll dengan kredit di bank. Lain kali akan saya tuliskan.

Soal pentingnya membaca, saya sudah sering tuliskan. Maka, sebuah perpustakaan yang baik mutlak diprioritaskan saat mendesain rumah. Total ada 572 buku yang saya, Intan, dan Kinan punya sejauh ini. Daftarnya bisa dilihat di https://bit.ly/PerpusRTC. Continue reading


1 Comment

Resensi Buku: Orang-Orang Bloomington (Budi Darma)

Buku Orang-Orang BloomingtonKarya sastra yang menurut saya bagus, adalah yang bisa membuat pembacanya merenungi maknanya. Saat membaca “Orang-Orang Bloomington” karangan Prof. Budi Darma, saya tidak hanya merenung, bahkan sampai terpekur. Dalam enam cerita pendek yang ada di buku ini, tidak ada yang latarnya istimewa. Biasa-biasa saja. Sepintas nampak seperti problematika manusia pada umumnya, yang tak perlu mendapat perhatian lebih.

Apa yang membuat pembaca harus bertahan dengan cerita-cerita seputar konflik antartetangga, kisah asmara, atau dinamika dalam keluarga? Lagipula, walaupun cerita-cerita ini ditulis saat pengarangnya sedang tugas belajar di Amerika Serikat, tidak banyak yang diceritakan Budi tentang keadaan di sana. Kita tidak terlalu bisa membayangkan seperti apa keadaan di Amerika, musimnya, kulturnya, kondisi sosial masyarakatnya. Gaya berceritanya pun cenderung datar, tanpa letupan-letupan peristiwa yang betul-betul memikat. Continue reading


Leave a comment

Diberi Antrian Oleh Anak Kecil

Ketika baru mendarat di Bandara Schiphol, Belanda, di musim gugur tahun lalu, saya mampir ke La Place. Sebetulnya tidak lapar, hanya ingin bernostalgia saja. Saya hanya mengambil segelas besar jus, karena masih ada roti dari pesawat.

Waktu itu masih pagi, namun restoran sudah ramai. Maklum Schiphol adalah salah satu bandara tersibuk di Eropa. Di kasir, saya mendapatkan antrean nomor tiga. Persis di depan saya, ada seorang anak perempuan berambut pirang. Dari perawakannya, saya duga umurnya tidak lebih dari 10 tahun. Dia membawa troli penuh dengan baki-baki makanan. Rupanya dia ditugasi orangtuanya untuk mengambil makanan dan membayar di kasir. Ini adalah hal yang lazim di Belanda. Anak kecil sudah diajarkan untuk berani memikul sebuah tugas. Beberapa kali si anak melambaikan tangan ke sepasang pria dan wanita bule yang duduk di meja sebelah ujung.

Antrean pertama sudah selesai dilayani. Sekarang giliran si anak. “Goede morgen” (Selamat pagi), kasir menyapanya ramah. Saya sudah bersiap-siap untuk sabar. Anak kecil, tentu tidak secekatan orang dewasa dalam membayar. Dari tadi de kleine juffrouw (si nona cilik) sibuk menghitung uangnya. Mungkin dia mencocokkan dengan harga makanan dan minuman yang dibelinya.

Sambil kasak-kusuk, saat hendak maju, dia melihat dulu ke belakang. Melihat saya hanya membawa segelas jus, dia tersenyum, dan dengan sopan menawarkan. “Meneer, wilt u?” (Pak, apakah Anda mau duluan?). Saya juga tersenyum. “Ja, hoor. Dankje.” (Ya, tentu saja. Terima kasih.) Continue reading


Leave a comment

Mengajarkan Anak Memakai Car Seat

Kinan di car seat

Kinan di car seat

Kinan (3 tahun 4 bulan) sejak sekitar setengah tahun yang lalu kadang-kadang saya tanya.
A: Kinan, mau duduk di kursi depan?
K: Nggak mau. Di car seat aja.
A: Kenapa?
K: Di depan bahaya!
A: Kalau pakai car seat tapi di depan?
K: Nggak mau juga! Di belakang aja.

Belakangan ini, isteri saya juga sering bertanya.

B: Kinan, kalau Bunda duduk di mana?
K: Bunda di depan aja sama Ayah. Kinan sendiri di belakang.

Setiap kali naik mobil, Kinan memang duduknya di car seat, yang letaknya di jok tengah. Car seat ini kami beli sejak kembali ke tanah air di akhir tahun 2016. Alhamdulillah, dia tidak pernah berontak. Padahal, Kinan adalah anak yang sangat aktif. Bagi yang pernah ketemu, saya yakin akan membenarkan. Dia adalah tipe anak yang tidak bisa berhenti bergerak dan tidak mau diam. Setiap sudut ruangan akan dia jelajahi dan tanya. “Ini apa”, “Yang ini kenapa warnanya merah?”, “Oooh, ini buat duduk ya?”. Itu adalah beberapa dari banyak pertanyaannya. Continue reading


Leave a comment

Pasar Tradisional di Belanda

Vismarkt 1

Vismarkt dilihat dari De Korenbeurs. Di kejauhan tampak Martinitoren.

Rasanya tidak ada habisnya hal yang saya rindukan tentang Belanda. Saya rasa bukan karena aspek nostalgia, atau romantisme semata. Tetapi memang kualitas banyak aspek kehidupan di sana jauh lebih baik dari di Indonesia. Wajar kalau dikangeni.

Salah satunya adalah berbelanja di pasar. Di Indonesia saya juga sering ke pasar, paling tidak seminggu sekali. Soalnya harga untuk beberapa komoditas memang jauh lebih murah dibandingkan dengan di supermarket. Kita semua tahu, pasar di tanah air pada umumnya identik dengan kesan kotor dan tidak nyaman. Meskipun saya juga tidak terlalu mengeluh (karena memang gimana lagi), tetap saja rindu dengan pasar-pasar di Belanda yang bersih dan menyenangkan. Continue reading


Leave a comment

Doa untuk Surabaya

Rasanya sulit membayangkan perasaan teman-teman non-Muslim. Ibaratnya seperti saya hendak sholat Jum’at, tetapi takut pergi ke masjid. Seperti kalau ingin sekali mendengar ceramah seorang ustadz yang ditunggu-tunggu, tapi takut berada di masjid. Bahkan kalau sekadar memenuhi kebutuhan administratif seperti mentoring kuliah agama, saya pun tetap takut melangkah ke masjid.

Bagaimana tidak takut? Tempat ibadah saya setiap saat bisa diledakkan. Saya bisa pulang tinggal nama. Meninggalkan isteri dan anak yang masih kecil. Menyedihkan. Tidak bertemu dengan pacar saja kita sedih. Apalagi tidak menjenguk rumah Tuhan, yang bagi umat beragama, seharusnya menjadi yang paling dicintai. Continue reading