Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Sutan Sjahrir Sang Demokrat Sosialis

Buku SyahrirKenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Mestinya kita semua bahwa baris-baris di atas adalah penggalan puisi “Karawang-Bekasi”, yang ditulis sang legenda, Chairil Anwar, di tahun 1948. Mungkin kebetulan bahwa Chairil masih terhitung kemenakan Sjahrir. Namun kalaupun tidak, si Bung Kecil, demikian ia disebut karena perawakannya yang pendek, memang di masa perang kemerdekaan amat populer di kalangan angkatan muda yang berjuang melawan Belanda yang kembali datang untuk menancapkan kembali kukunya di tanah air setelah kita merdeka. Continue reading


Leave a comment

Menikmati Rahang Tuna di Bitung

Photo 08-06-2017, 6 46 32 pm

Rahang tuna bakar. Sambal dabu-dabu dan tumis bayam.

Bulan puasa tahun lalu saya ke Bitung, untuk melaksanakan tugas dari kantor. Bitung adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Utara. Kira-kira 1,5 jam di sebelah timur Manado. Ini adalah pengalaman pertama ke Sulawesi Utara, dan kunjungan pertama ke Pulau Sulawesi dalam lima tahun terakhir.

Sebetulnya saya sempat agak menyesal, kenapa tugasnya harus di saat bulan puasa. Biasa, di setiap kunjungan ke daerah, saya ingin mencicipi kuliner lokal sebanyak-banyaknya. Saya termasuk orang yang gemar mencoba, dan cenderung tidak mudah percaya dengan apa yang orang bilang, sebelum membuktikan sendiri. Continue reading


Leave a comment

Akhlak dan Agama

Tempo hari saya membaca sebuah artikel menarik dari seorang teman yang penulis beken. Isinya menceritakan bagaimana budaya tepat waktu di Belanda adalah sebuah bawaan. Namun itu bukanlah sebuah bawaan lahir (nature), melainkan sebuah dampak dari pengajaran (nurture). Bisa juga kita sebut sebagai an experimented nature. Pemerintah, dalam hal ini melalui lembaga pendidikan (sekolah), melakukan rekayasa sosial. Supaya kelak saat dewasa, warga negara Belanda memiliki sifat yang kurang lebih sama dalam hal tijden; tepat janji, tidak ngaret, dan menghargai waktu orang lain.

Artikel tersebut mengantarkan saya ke sebuah kontradiksi yang sudah terpikirkan sejak cukup lama. Jadi begini, jumlah orang yang tidak beragama (irreligious) sudah lebih dari separuh populasi Belanda. Namun, dalam hal akhlak ke sesama manusia dan ke alam, menurut saya mereka jauh lebih beradab dibandingkan dengan warga Indonesia, yang notabene hampir semuanya adalah insan yang terikat dengan afiliasi agama. Tentu Anda boleh tidak percaya, tetapi, saya empat tahun tinggal di negeri kincir angin, dan saya punya alasan-alasan kuat akan hal ini. Continue reading


Leave a comment

Pengelolaan Sampah di Belanda

Sampah 1

Afvalbrengstation (lit. Stasiun pembuangan sampah) di Groningen, Belanda.

Salah satu hal yang ingin saya buktikan saat tiba di Belanda dulu adalah kebersihan lingkungannya. Kalau melihat di film-film, trotoar, sungai, taman, dan jalan di negara-negara maju pada umumnya bersih.

Ternyata memang betul. Semuanya bersih! Meskipun menurut kawan saya Belanda lebih “kotor” jika dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang (saya belum pernah ke sana), menurut saya tetap saja tidak ada bungkus plastik sisa makanan di jalan, sungai yang bau, apalagi tumpukan kantong sampah di sudut jalan. Continue reading


1 Comment

Penikmat Bisnis Digital

Era digital telah memunculkan berbagai pencapaian yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Hanya dalam tempo kurang dari tiga tahun sejak diluncurkan, GO-JEK berhasil menarik minat 900 ribu orang untuk menjadi pengemudi [1]. Hebatnya lagi, perusahaan teknologi berbasiskan daring ini tidak memiliki satu motor dan mobil pun. Jika ditambah dengan mitra berupa penjual makanan, pemijat, sampai dengan montir, tenaga kerja yang diserap oleh GO-JEK bisa lebih dari satu juta jiwa.

Cerita yang sama terjadi untuk Tokopedia. Berawal dari sebuah forum jual beli, saat ini e­-commerce terbesar di Indonesia ini memiliki lebih dari dua juta pelapak, dengan jumlah barang yang dijual mencapai hampir sepuluh juta unit [2]. Belum lagi jika kita membicarakan e-commerce lain yang sejenis. Continue reading


Leave a comment

Belajar bersama

Isteri saya bisa masak soto betawi, saya juga bisa masak kare ayam (tanpa bumbu instan). Saya bisa merakit lemari baju dan dipan, isteri saya juga bisa merakit rak buku (dari kayu). Saya bisa benerin kelistrikan rumah dan ganti ban mobil, isteri saya juga bisa betulin kran bak cuci piring dan dudukan shower. Isteri saya tiap malam bacakan buku sebelum anak kami tidur, saya juga sering cebokin setiap kali Kinan selesai BAB.

Di jaman sekarang, menurut saya bukan masanya lagi sebagian jenis pekerjaan rumah tangga itu terlalu di-stereotipkan ke perempuan/laki-laki. Semua bisa dibagi dengan rata. Saling bantu membantu. Continue reading


2 Comments

Sabar

OBB Austria

Brosur dari OBB (KAI-nya) Austria

Tempo hari saya membaca sebuah artikel, yang memberitahukan bahwa Mathieu Flamini -eks gelandang Arsenal- saat ini adalah pesepakbola terkaya di dunia. Jauh melebihi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Para pecinta bola pasti sudah tahu bahwa dibandingkan Messi, Ronaldo dan para pesepabola top lainnya, karir Flamini biasa-biasa saja. Jadi logikanya, tidak mungkin kekayaannya itu berasal dari gaji, atapun endorsement di luar sepakbola.

Apakah Flamini ini berasal dari keluarga kaya seperti Andrea Pirlo, yang bapaknya punya pabrik baja? Ternyata tidak juga. Justru sebaliknya, Flamini mendapatkan kekayaannya dari perusahaan yang sedang dirintisnya bersama Pasquale Granata sejak tahun 2008 yang lalu. Continue reading