Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Diberi Antrian Oleh Anak Kecil

Ketika baru mendarat di Bandara Schiphol, Belanda, di musim gugur tahun lalu, saya mampir ke La Place. Sebetulnya tidak lapar, hanya ingin bernostalgia saja. Saya hanya mengambil segelas besar jus, karena masih ada roti dari pesawat.

Waktu itu masih pagi, namun restoran sudah ramai. Maklum Schiphol adalah salah satu bandara tersibuk di Eropa. Di kasir, saya mendapatkan antrean nomor tiga. Persis di depan saya, ada seorang anak perempuan berambut pirang. Dari perawakannya, saya duga umurnya tidak lebih dari 10 tahun. Dia membawa troli penuh dengan baki-baki makanan. Rupanya dia ditugasi orangtuanya untuk mengambil makanan dan membayar di kasir. Ini adalah hal yang lazim di Belanda. Anak kecil sudah diajarkan untuk berani memikul sebuah tugas. Beberapa kali si anak melambaikan tangan ke sepasang pria dan wanita bule yang duduk di meja sebelah ujung.

Antrean pertama sudah selesai dilayani. Sekarang giliran si anak. “Goede morgen” (Selamat pagi), kasir menyapanya ramah. Saya sudah bersiap-siap untuk sabar. Anak kecil, tentu tidak secekatan orang dewasa dalam membayar. Dari tadi de kleine juffrouw (si nona cilik) sibuk menghitung uangnya. Mungkin dia mencocokkan dengan harga makanan dan minuman yang dibelinya.

Sambil kasak-kusuk, saat hendak maju, dia melihat dulu ke belakang. Melihat saya hanya membawa segelas jus, dia tersenyum, dan dengan sopan menawarkan. “Meneer, wilt u?” (Pak, apakah Anda mau duluan?). Saya juga tersenyum. “Ja, hoor. Dankje.” (Ya, tentu saja. Terima kasih.) Continue reading


Leave a comment

Mengajarkan Anak Memakai Car Seat

Kinan di car seat

Kinan di car seat

Kinan (3 tahun 4 bulan) sejak sekitar setengah tahun yang lalu kadang-kadang saya tanya.
A: Kinan, mau duduk di kursi depan?
K: Nggak mau. Di car seat aja.
A: Kenapa?
K: Di depan bahaya!
A: Kalau pakai car seat tapi di depan?
K: Nggak mau juga! Di belakang aja.

Belakangan ini, isteri saya juga sering bertanya.

B: Kinan, kalau Bunda duduk di mana?
K: Bunda di depan aja sama Ayah. Kinan sendiri di belakang.

Setiap kali naik mobil, Kinan memang duduknya di car seat, yang letaknya di jok tengah. Car seat ini kami beli sejak kembali ke tanah air di akhir tahun 2016. Alhamdulillah, dia tidak pernah berontak. Padahal, Kinan adalah anak yang sangat aktif. Bagi yang pernah ketemu, saya yakin akan membenarkan. Dia adalah tipe anak yang tidak bisa berhenti bergerak dan tidak mau diam. Setiap sudut ruangan akan dia jelajahi dan tanya. “Ini apa”, “Yang ini kenapa warnanya merah?”, “Oooh, ini buat duduk ya?”. Itu adalah beberapa dari banyak pertanyaannya. Continue reading


Leave a comment

Belajar bersama

Isteri saya bisa masak soto betawi, saya juga bisa masak kare ayam (tanpa bumbu instan). Saya bisa merakit lemari baju dan dipan, isteri saya juga bisa merakit rak buku (dari kayu). Saya bisa benerin kelistrikan rumah dan ganti ban mobil, isteri saya juga bisa betulin kran bak cuci piring dan dudukan shower. Isteri saya tiap malam bacakan buku sebelum anak kami tidur, saya juga sering cebokin setiap kali Kinan selesai BAB.

Di jaman sekarang, menurut saya bukan masanya lagi sebagian jenis pekerjaan rumah tangga itu terlalu di-stereotipkan ke perempuan/laki-laki. Semua bisa dibagi dengan rata. Saling bantu membantu. Continue reading


1 Comment

Obrolan dengan Istri

Obrolan dengan istri waktu akhir pekan:

Kalau dikasih umur panjang, saya tidak mau kelak tinggal bersama anak-anak. Lebih baik hidup berdua dengan istri saja sampai tua. Kami tidak mau merepotkan orang lain.

Saya ingin sampai tua seperti Bapak, sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain, walaupun itu ke anak dan istri sendiri. Kalau ada urusan dinas, saya lebih suka pergi dan pulang sendiri ke/dari stasiun/bandara/pool travel, toh taksi/uber/gojek ada banyak. Maka jangan tersinggung kalau saya tidak mau diambilkan nasi atau disiapkan baju. Saya tidak mengawini kamu supaya saya bisa mendapatkan layanan semacam itu. Jangan merasa rikuh juga kalau setelah makan saya ikut membereskan piring kotor, itu sudah sewajarnya dalam kehidupan suami istri yang egaliter (sama rata).

Continue reading


Leave a comment

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Di kampung halaman saya, setiap kali Lebaran tiba, kami punya sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan, mungkin ratusan tahun. Setelah sholat Idul Fitri, alih-alih berlebaran ke saudara-saudaranya, orang-orang mengunjungi tetangga-tetangga terdekatnya terlebih dahulu. Saya yakin, ritual yang semacam ini tidak hanya di Semboro, Jember. Melainkan pastilah banyak juga dipraktikkan di berbagai kampung di seluruh penjuru tanah air.

Begitu pula dengan keluarga saya. Sepulangnya dari sholat sunnah, biasanya kami makan lagi, karena yang dimakan sebelum berangkat sholat tidaklah terlalu mengenyangkan. Setelah itu, lengkap dengan seluruh anggota keluarga, kami berkeliling ke sekitar 15 sampai 20 rumah tetangga. Bersalam-salaman, bermaaf-maafan, dan duduk mencicipi kue yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Setelah usai, barulah kami menuju rumah saudara-saudara yang jaraknya jauh dari rumah untuk bersilaturahmi.

Continue reading


Leave a comment

Tugas dosen

Ujian di kelas

Mahasiswa kelas PTI B angkatan 2016 sedang mengikuti ujian tengah semester

Kejujuran dalam bekerja diawali dari kejujuran saat menjadi mahasiswa. Kalau masih muda sudah suka menyontek, tidak heran nanti kalau sudah berkarir gemar korupsi. Saya selalu bilang ke mahasiswa bahwa bodoh itu apa-apa, sedangkan bohong tidak boleh sama sekali.

Nilai C, D, E di transkrip, 10 tahun lagi tidak akan ada yang mempermasalahkan. Dapat straight A pun tidak selamanya dikenang orang. Namun kalau gemar menyontek, imej itu akan melekat, dan akan menjadi kebiasaan buruk seumur hidup.

Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar. Kita perlu insan yang jujur. Pinjam motto dari sekolahnya istri: knowledge is power, but character is more.

Continue reading


Leave a comment

Tetap Prima Melayani Negeri Walau Terpisah 14.000 km

Rumah yang bisa terbangun berkat pelayanan BNI yang prima.

Rumah yang bisa terbangun berkat pelayanan BNI yang prima.

Rasanya hampir putus asa saat itu. Impian sejak dulu untuk memiliki rumah sendiri kelihatannya bakal sirna seketika. Di saat kontraktor sudah sepakat dengan harga, saya terkendala untuk mengirim dananya. Uang sebesar 250 juta rupiah sudah tersedia di rekening. Namun, saat itu banyak hambatan teknis yang membuat dana tersebut sulit untuk terkirim. Padahal, tanpa adanya uang, kontraktor bisa membatalkan kesepakatan. Bukan cuma kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kontraktor berkualitas dengan harga borongan yang murah, saya pun bisa dianggap telah mempermainkan mereka, sehingga kelak sulit untuk mendapatkan kepercayaan lagi.

Kendala jarak

Saat itu, di bulan Mei 2015, saya memang sedang berada di Belanda. Sejak akhir tahun 2012 saya bersama istri tinggal di negeri kincir angin, tepatnya di kota Groningen. Saya dikirim oleh perguruan tinggi tempat saya bekerja untuk tugas belajar program doktoral. Selama itu, rekening BNI saya tetap aktif, karena sebagai seorang PNS, saya tetap mendapatkan kiriman gaji setiap bulannya.

Bukannya bermaksud untuk menyombongkan diri, sejak awal bekerja di tahun 2011, saya jarang sekali mengurus rekening di BNI. Pasalnya, gaji dan berbagai honor dosen yang terkirim kesitu selama ini sengaja saya perlakukan sebagai “uang mati”. Bukannya tidak perlu uang, justru dana di BNI saya persiapkan sebagai tabungan, yang hanya boleh dipakai kalau keadaan amat mendesak. Artinya, saya harus bisa disiplin untuk mencukupkan kebutuhan dari sumber pendapatan yang lain, misalnya dari proyek konsultansi, investasi, atau honor menulis di media.

Continue reading