Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB


1 Comment

Obrolan dengan Istri

Obrolan dengan istri waktu akhir pekan:

Kalau dikasih umur panjang, saya tidak mau kelak tinggal bersama anak-anak. Lebih baik hidup berdua dengan istri saja sampai tua. Kami tidak mau merepotkan orang lain.

Saya ingin sampai tua seperti Bapak, sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain, walaupun itu ke anak dan istri sendiri. Kalau ada urusan dinas, saya lebih suka pergi dan pulang sendiri ke/dari stasiun/bandara/pool travel, toh taksi/uber/gojek ada banyak. Maka jangan tersinggung kalau saya tidak mau diambilkan nasi atau disiapkan baju. Saya tidak mengawini kamu supaya saya bisa mendapatkan layanan semacam itu. Jangan merasa rikuh juga kalau setelah makan saya ikut membereskan piring kotor, itu sudah sewajarnya dalam kehidupan suami istri yang egaliter (sama rata).

Continue reading


Leave a comment

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Di kampung halaman saya, setiap kali Lebaran tiba, kami punya sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan, mungkin ratusan tahun. Setelah sholat Idul Fitri, alih-alih berlebaran ke saudara-saudaranya, orang-orang mengunjungi tetangga-tetangga terdekatnya terlebih dahulu. Saya yakin, ritual yang semacam ini tidak hanya di Semboro, Jember. Melainkan pastilah banyak juga dipraktikkan di berbagai kampung di seluruh penjuru tanah air.

Begitu pula dengan keluarga saya. Sepulangnya dari sholat sunnah, biasanya kami makan lagi, karena yang dimakan sebelum berangkat sholat tidaklah terlalu mengenyangkan. Setelah itu, lengkap dengan seluruh anggota keluarga, kami berkeliling ke sekitar 15 sampai 20 rumah tetangga. Bersalam-salaman, bermaaf-maafan, dan duduk mencicipi kue yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Setelah usai, barulah kami menuju rumah saudara-saudara yang jaraknya jauh dari rumah untuk bersilaturahmi.

Continue reading


Leave a comment

Tugas dosen

Ujian di kelas

Mahasiswa kelas PTI B angkatan 2016 sedang mengikuti ujian tengah semester

Kejujuran dalam bekerja diawali dari kejujuran saat menjadi mahasiswa. Kalau masih muda sudah suka menyontek, tidak heran nanti kalau sudah berkarir gemar korupsi. Saya selalu bilang ke mahasiswa bahwa bodoh itu apa-apa, sedangkan bohong tidak boleh sama sekali.

Nilai C, D, E di transkrip, 10 tahun lagi tidak akan ada yang mempermasalahkan. Dapat straight A pun tidak selamanya dikenang orang. Namun kalau gemar menyontek, imej itu akan melekat, dan akan menjadi kebiasaan buruk seumur hidup.

Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar. Kita perlu insan yang jujur. Pinjam motto dari sekolahnya istri: knowledge is power, but character is more.

Continue reading


Leave a comment

Tetap Prima Melayani Negeri Walau Terpisah 14.000 km

Rumah yang bisa terbangun berkat pelayanan BNI yang prima.

Rumah yang bisa terbangun berkat pelayanan BNI yang prima.

Rasanya hampir putus asa saat itu. Impian sejak dulu untuk memiliki rumah sendiri kelihatannya bakal sirna seketika. Di saat kontraktor sudah sepakat dengan harga, saya terkendala untuk mengirim dananya. Uang sebesar 250 juta rupiah sudah tersedia di rekening. Namun, saat itu banyak hambatan teknis yang membuat dana tersebut sulit untuk terkirim. Padahal, tanpa adanya uang, kontraktor bisa membatalkan kesepakatan. Bukan cuma kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kontraktor berkualitas dengan harga borongan yang murah, saya pun bisa dianggap telah mempermainkan mereka, sehingga kelak sulit untuk mendapatkan kepercayaan lagi.

Kendala jarak

Saat itu, di bulan Mei 2015, saya memang sedang berada di Belanda. Sejak akhir tahun 2012 saya bersama istri tinggal di negeri kincir angin, tepatnya di kota Groningen. Saya dikirim oleh perguruan tinggi tempat saya bekerja untuk tugas belajar program doktoral. Selama itu, rekening BNI saya tetap aktif, karena sebagai seorang PNS, saya tetap mendapatkan kiriman gaji setiap bulannya.

Bukannya bermaksud untuk menyombongkan diri, sejak awal bekerja di tahun 2011, saya jarang sekali mengurus rekening di BNI. Pasalnya, gaji dan berbagai honor dosen yang terkirim kesitu selama ini sengaja saya perlakukan sebagai “uang mati”. Bukannya tidak perlu uang, justru dana di BNI saya persiapkan sebagai tabungan, yang hanya boleh dipakai kalau keadaan amat mendesak. Artinya, saya harus bisa disiplin untuk mencukupkan kebutuhan dari sumber pendapatan yang lain, misalnya dari proyek konsultansi, investasi, atau honor menulis di media.

Continue reading


Leave a comment

Kebetulan?

Di sekitar saya saja, banyak sekali “kebetulan” yang terjadi.

Saya

Bulan September 2008, tugas akhir (TA) saya sudah selesai setelah dua bulan berkutat dengan notasi matematis dan Visual Basic. Saya sudah mendapat tanggal untuk sidang sarjana. Saat itu, saya sudah mempunyai beberapa alternatif setelah lulus:

  1. Bekerja di perusahaan Fast-moving consumer goods (FMCG) yang menjadi salah satu destinasi kerja favorit lulusan Teknik Industri (TI). Saya sudah melewati tahap wawancara akhir.
  2. Bekerja di salah satu perusahaan konsultan asing yang juga menjadi favorit anak TI. Saya masih harus wawancara dengan user.
  3. Bekerja di BUMN regulator pangan yang salah satu kasusnya menjadi topik TA saya. Saya malah sudah disodori kontrak lengkap dengan rincian gajinya.

Tidak disangka-sangka, tiga hari sebelum sidang saya sakit. Rupanya kerja terus-menerus sepanjang bulan Ramadhan ditambah pola hidup yang kurang baik selama kuliah membuat organ dalam bermasalah. Usus dan lambung saya pecah. Jadilah saya harus bed-rest selama empat bulan penuh.

Continue reading


1 Comment

Dari Rumah ke Kampus

Jarak dari rumah saya ke kampus Zernike itu jauh, sekitar 8 km. Dulu memilih lokasi itu dengan berbagai pertimbangan; ketersediaan, harga, ketenangan lingkungan, dan fasilitas di dekat rumah. Untuk faktor yang terakhir, ternyata tinggal di Lewenborg itu pilihan tepat. Selain winkelcentrum (pusat pertokoan), di dekat rumah juga dekat dengan dokter, apotek, dan posyandu. Selain itu, transportasi umum ke UMCG (rumah sakit) juga langsung, cukup 17 menit saja. Mengingat Kinan sering kontrol ke rumah sakit, ini cukup membantu.

Overloop. Jalan di dekat Danau Kardinge.

Overloop. Jalan di dekat Danau Kardinge.

Continue reading


1 Comment

Pentingnya Zakat dan Shodaqoh

Pagi ini terjadi diskusi yang cukup seru tentang besaran zakat dan shodaqoh di grup BBM alumni SMP. Diskusi ini membuat saya jadi merenungkan beberapa hal.

Saya tidak bermaksud untuk riya’. Di keluarga, kami selalu diajarkan untuk membagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan. Mas Hari yang paling banyak mencontohkan (baca: Anak sulung yang ideal). Selayaknya orang Jawa, saya tidak pernah secara langsung diberitahu harus begini-begitu. Hikmah kehidupan diberikan secara implisit dan harus dipelajari sendiri. Dari kecil saya sering sekali melihat Mas Hari, Mbak Eni, dan orangtua datang ke saudara-saudara dan tetangga-tetangga yang tidak mampu. Mereka silaturahim sekaligus memberikan sedikit uang, sebagai bagian dari zakat dan shodaqoh.

Kejadian-kejadian itu terekam baik di otak saya. Ketika sudah besar, saya pun berusaha mencontoh. Penghasilan saya sebagai seorang dosen itu tidak menentu seperti pekerja kantoran yang lain. Selain gaji yang datang tiap bulan, kadang turun honor dari proyek konsultansi, riset penelitian, atau honor saat diundang menjadi narasumber di kantor pemerintah. Setiap kali dapat uang, saya langsung potong minimal 2,5%. Uang perjalanan (SPPD) pun saya potong. Tidak lupa juga saat investasi saya berupa sapi, kambing, ikan gurame, dan angkot menghasilkan uang, langsung saya sisihkan alokasi untuk zakat. Supaya tenang dan tidak tercecer.

Continue reading