Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB


Leave a comment

Pelajaran dari Utara

Photo 08-06-2017, 4 48 17 pmMungkin warna kulit kita tidaklah sama, norma yang kita anut beraneka rupa, bahkan Tuhan yang kita sembah pun berbeda. Namun, negara ini tidak berdiri atas dasar kesamaan lahiriah. Indonesia dilahirkan atas perasaan sebangsa, senasib dan sepenanggungan. Identifikasi itu sudah jelas terdefinisi sejak jaman Majapahit, Sriwijaya, yang kemudian ditegaskan dalam Sumpah Pemuda, hampir seratus tahun yang lalu.

***

Di saat tidak sampai seperlima pemuda-pemudi tanah air yang berkesempatan untuk mencicipi sehari pun bangku kuliah, saya cukup beruntung untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi lebih dari satu dekade. Namun, itu tidak boleh membuat saya besar kepala, merasa tahu segalanya, serta menganggap diri ini paling bijaksana. Terkadang, masyarakat akar rumput memiliki kearifannya sendiri yang tidak pernah diajarkan di kelas oleh guru-guru sekolah.

Continue reading


Leave a comment

Merindukan pelayanan kesehatan di Belanda

Kinan di UMCG

Kinan di UMCG, salah satu rumah sakit di Groningen.

Empat tahun tinggal di negeri kincir angin, satu kalimat yang bisa mendeksripsikan pelayanan kesehatan disana adalah: “Pelayanan kesehatan di Belanda itu (strict) satu pintu.”

Karena selama di Belanda, anak saya Kinan hampir 100 kali bertemu dokter, saya cukup punya pengalaman untuk bercerita.

Di Belanda, seorang pasien tidak bisa serta merta datang ke dokter untuk diperiksa. Harus bikin janji dulu dengan dokter keluarga (huisarts/General Practitioner). GP ini kira-kira mirip dengan dokter umum, walaupun tidak setara, karena di Belanda, GP adalah salah satu jalur spesialis.

Tanpa adanya janji, pasien bakal ditolak dokter. Jangan kaget kalaupun Anda sudah berhari-hari meriang, batuk pilek, atau muntah-muntah, janji ketemu dokter baru dibikinkan 2-5 hari kemudian. Continue reading


Leave a comment

Mensyukuri Persatuan

Persatuan bangsa Indonesia mungkin tidak terlalu sering kita syukuri. Lahir sebagai generasi yang jauh dari masa perang kemerdekaan, dan jarang membuka sejarah, membuat persatuan kita anggap sebagai hal yang datang dengan cuma-cuma.

Selama jalan-jalan di Eropa, saya sering berpikir. Benua Eropa ini luasnya tidak beda jauh dengan Indonesia, tapi terbagi ke dalam lebih dari 50 negara.

Austria dan Hungaria hanya terpisah 4 jam perjalanan darat. Ceko dan Slovakia malah cukup ditempuh selama 3 jam. Beda bahasa, beda budaya, dan beda orientasi politik membuat empat negara yang dahulu pernah bersatu-padu itu sekarang berdiri sendiri-sendiri, dan bubarlah Kekaisaran Austria-Hungaria yang dulu megah.

Bahkan yang bahasanya sama, juga berdiri sendiri sebagai dua negara terpisah. Contohnya adalah Belanda dan Belgia yang jaraknya hanya setengah perjalanan dari Yogya ke Bandung.

Continue reading


Leave a comment

Andai

Kalau Anda adalah orang terkaya di Indonesia dan punya kuasa untuk melakukan apa saja, bakal dipakai apa uang itu untuk memperbaiki Indonesia?

Kalau saya adalah orang terkaya di tanah air, maka saya punya sekitar 200 triliun rupiah, setara dengan keluarga Hartono. Banyak? Pasti. Tetapi jelas tidak akan cukup untuk membenahi Indonesia secara instan. Dengan APBN 2.000 triliun saja, setiap tahunnya ada jutaan rakyat kelaparan. Apalagi kalau diberikan sebagai bantuan langsung. Setiap orang memperoleh hanya sekitar sejuta rupiah. Bisa dipastikan bakal segera ludes dalam tempo kurang dari sebulan.

Lantas bisa diapakan uang itu sehingga dampaknya bisa maksimal? Saya akan untuk membenahi pendidikan dasar. Barangkali ini dianggap bukan prioritas utama. Sebagai seorang jutawan mungkin saya juga diharapkan untuk membuka lapangan pekerjaan, atau menyiapkan calon-calon pengusaha. Sehingga di negeri ini tidak ada lagi orang miskin.

Continue reading


Leave a comment

Meng-Tionghoa-kan Kaum Pribumi

Beberapa waktu yang lalu saya dibuat kesal oleh bangsa saya sendiri, atau dalam bahasa sehari-hari kita sebut sebagai “kaum pribumi”. Perkaranya terjadi saat transaksi pembelian barang, dimana saya merasa kualitas sikap (attitude) dari pribumi kalah jauh dari saudara sebangsa dan setanah air, yang sering kita sebut sebagai “Cina/Tionghoa”.

Kejadian pertama adalah saat saya perlu membeli plastik pembungkus makanan. Di Bandung, pedagang-pedagang plastik banyak ditemui di Cibadak, dekat dengan alun-alun. Walaupun dari dulu Bapak saya bilang, “kalau beli sesuatu, belilah ke toko orang Cina, karena umumnya mereka tidak nggedabrus (Jawa: membual/berbohong)”, selama ini saya tidak punya preferensi. Begitu pula waktu itu, saya menuju ke sembarang toko yang parkir motornya cukup lega.

Tiba di toko, yang ternyata pemilik dan pegawainya adalah pribumi, saya bertanya apakah mereka punya plastik vacuum, dijawab ada, tapi untuk menutup plastiknya perlu mesin vacuum yang harganya paling murah dua juta rupiah. Karena memang tidak ada niat untuk membeli mesin semahal itu, spontan saya nyeletuk, “wah, mahal ya”.

Continue reading


Leave a comment

Kinerja Transportasi Semenjana Tanggung Jawab Siapa

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Sebagai warga Kota Bandung, keinginan untuk berangkat ke kantor di Jalan Ganesha dari rumah di Ciwastra, Bandung Timur secara cepat itu baru menjadi sebatas mimpi. Untuk disebut sebagai cita-cita pun masih terlalu jauh. Pasalnya, untuk menempuh jarak sekitar dua belas kilometer, dengan kendaraan pribadi saja perlu waktu minimal satu setengah jam. Itu juga jauh dari kata nyaman, harus berdesak-desakan dalam macet, dan juga panas, bagi yang tidak punya mobil. Apalagi kalau menggunakan kendaraan umum, bakal lebih tidak mengenakkan lagi.

Profil kota-kota lain juga kurang lebih sama. Ambil contoh Jakarta. Bukan hanya karena ibukota adalah tolok ukur bagi daerah-daerah lain, tugas kantor ke Jakarta yang bisa datang sebulan dua kali membuat saya cukup hafal dengan kota berhutan beton itu. Setiap orang umumnya tidak menyukai transportasi Jakarta, karena ketidakpastiannya yang tinggi. Pernah saya menempuh rute dari Pancoran ke Senayan selama dua jam. Sungguh waktu yang terbuang percuma untuk jarak tempuh kurang dari sepuluh kilometer.

Continue reading


Leave a comment

Pergeseran Peran Perhimpunan Indonesia

pergerakan-indonesiaDibandingkan dengan Budi Utomo ataupun Sumpah Pemuda, peran Perhimpunan Indonesia cenderung dilupakan dalam Kebangkitan Nasional. Padahal ditinjau dari dampak yang diberikan terhadap persiapan kemerdekaan Indonesia, posisi PI amatlah strategis.

Lewat tulisan dan kaderisasi

PI yang awalnya didirikan sekedar untuk menyelenggarakan pesta dansa dan berbagai aktivitas sosial lain bagi diaspora Indonesia di Belanda, mulai memasuki babak baru sejak para eksil dari Indische Partij aktif di dalamnya. Pelan namun pasti, Tjipto Mangoenkoesumo dan Soewardi Soerjaningrat mulai bisa menanamkan kesadaran akan pentingnya nasionalisme ke dalam organisasi. Di periode yang sama, PI yang waktu itu masih bernama Indische Vereeniging juga menerbitkan buletin “Hindia Poetra”, walaupun isinya belum secara eksplisit membahas politik.

Continue reading