Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Doa untuk Surabaya

Rasanya sulit membayangkan perasaan teman-teman non-Muslim. Ibaratnya seperti saya hendak sholat Jum’at, tetapi takut pergi ke masjid. Seperti kalau ingin sekali mendengar ceramah seorang ustadz yang ditunggu-tunggu, tapi takut berada di masjid. Bahkan kalau sekadar memenuhi kebutuhan administratif seperti mentoring kuliah agama, saya pun tetap takut melangkah ke masjid.

Bagaimana tidak takut? Tempat ibadah saya setiap saat bisa diledakkan. Saya bisa pulang tinggal nama. Meninggalkan isteri dan anak yang masih kecil. Menyedihkan. Tidak bertemu dengan pacar saja kita sedih. Apalagi tidak menjenguk rumah Tuhan, yang bagi umat beragama, seharusnya menjadi yang paling dicintai. Continue reading


Leave a comment

Akhlak dan Agama

Tempo hari saya membaca sebuah artikel menarik dari seorang teman yang penulis beken. Isinya menceritakan bagaimana budaya tepat waktu di Belanda adalah sebuah bawaan. Namun itu bukanlah sebuah bawaan lahir (nature), melainkan sebuah dampak dari pengajaran (nurture). Bisa juga kita sebut sebagai an experimented nature. Pemerintah, dalam hal ini melalui lembaga pendidikan (sekolah), melakukan rekayasa sosial. Supaya kelak saat dewasa, warga negara Belanda memiliki sifat yang kurang lebih sama dalam hal tijden; tepat janji, tidak ngaret, dan menghargai waktu orang lain.

Artikel tersebut mengantarkan saya ke sebuah kontradiksi yang sudah terpikirkan sejak cukup lama. Jadi begini, jumlah orang yang tidak beragama (irreligious) sudah lebih dari separuh populasi Belanda. Namun, dalam hal akhlak ke sesama manusia dan ke alam, menurut saya mereka jauh lebih beradab dibandingkan dengan warga Indonesia, yang notabene hampir semuanya adalah insan yang terikat dengan afiliasi agama. Tentu Anda boleh tidak percaya, tetapi, saya empat tahun tinggal di negeri kincir angin, dan saya punya alasan-alasan kuat akan hal ini. Continue reading


Leave a comment

Pengelolaan Sampah di Belanda

Sampah 1

Afvalbrengstation (lit. Stasiun pembuangan sampah) di Groningen, Belanda.

Salah satu hal yang ingin saya buktikan saat tiba di Belanda dulu adalah kebersihan lingkungannya. Kalau melihat di film-film, trotoar, sungai, taman, dan jalan di negara-negara maju pada umumnya bersih.

Ternyata memang betul. Semuanya bersih! Meskipun menurut kawan saya Belanda lebih “kotor” jika dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang (saya belum pernah ke sana), menurut saya tetap saja tidak ada bungkus plastik sisa makanan di jalan, sungai yang bau, apalagi tumpukan kantong sampah di sudut jalan. Continue reading


1 Comment

Penikmat Bisnis Digital

Era digital telah memunculkan berbagai pencapaian yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Hanya dalam tempo kurang dari tiga tahun sejak diluncurkan, GO-JEK berhasil menarik minat 900 ribu orang untuk menjadi pengemudi [1]. Hebatnya lagi, perusahaan teknologi berbasiskan daring ini tidak memiliki satu motor dan mobil pun. Jika ditambah dengan mitra berupa penjual makanan, pemijat, sampai dengan montir, tenaga kerja yang diserap oleh GO-JEK bisa lebih dari satu juta jiwa.

Cerita yang sama terjadi untuk Tokopedia. Berawal dari sebuah forum jual beli, saat ini e­-commerce terbesar di Indonesia ini memiliki lebih dari dua juta pelapak, dengan jumlah barang yang dijual mencapai hampir sepuluh juta unit [2]. Belum lagi jika kita membicarakan e-commerce lain yang sejenis. Continue reading


2 Comments

Sabar

OBB Austria

Brosur dari OBB (KAI-nya) Austria

Tempo hari saya membaca sebuah artikel, yang memberitahukan bahwa Mathieu Flamini -eks gelandang Arsenal- saat ini adalah pesepakbola terkaya di dunia. Jauh melebihi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Para pecinta bola pasti sudah tahu bahwa dibandingkan Messi, Ronaldo dan para pesepabola top lainnya, karir Flamini biasa-biasa saja. Jadi logikanya, tidak mungkin kekayaannya itu berasal dari gaji, atapun endorsement di luar sepakbola.

Apakah Flamini ini berasal dari keluarga kaya seperti Andrea Pirlo, yang bapaknya punya pabrik baja? Ternyata tidak juga. Justru sebaliknya, Flamini mendapatkan kekayaannya dari perusahaan yang sedang dirintisnya bersama Pasquale Granata sejak tahun 2008 yang lalu. Continue reading


Leave a comment

Kolonialisasi Hindia Belanda dan Kita

Saya membaca sebuah artikel yang sangat bagus dari Ignas Kleden, berjudul “Sejarah Kolonial dan Kita“. Artikel ini terbit di Kompas cetak, tanggal 10 Maret 2018. Pembahasan di sini panjang, namun menurut saya yang paling menarik adalah di bagian terakhir. Saya tuliskan kembali di sini, dan semoga pembaca dapat mngambil hikmahnya.

***

Dalam refleksi tentang Hindia Belanda tampak bahwa Belanda juga menerapkan beberapa pola kolonialisasi yang dipertahankannya selama tiga abad. Pertama, sebagai negara kecil dia tak punya kemampuan militer cukup untuk menaklukkan semua wilayah di Nusantara yang diincarnya. Jalan yang ditempuh adalah mencoba mengadu domba satu kerajaan dengan kerajaan lain, atau pihak-pihak yang bersaing dalam satu kerajaan yang sama. Perang dilakukan secara terpaksa kalau ada perlawanan besar dari pihak penduduk pribumi sepreti Perang Diponegoro dan Perang Aceh.

Continue reading


Leave a comment

Belajar untuk hidup

Saya sering ditanya, kapan saya akan mengajarkan Kinan membaca dan berhitung. Jawaban saya selalu sama. Saya tidak pernah memusingkannya. Bahkan andaikata teman-teman seumurnya pun sudah pandai mengeja dan menghafal angka, dan sementara Kinan belum, saya akan bergeming.

Kecintaan akan membaca dan berhitung, menurut saya jauh lebih penting. Sedangkan keterampilan, akan menyusul dengan sendirinya. Bahkan, kecintaan terhadap proses belajar itulah yang terpenting.

Maka dari itu, sejak masih umur 1 bulan Kinan selalu kami bacakan buku. Sampai sekarang, setiap malam sebelum tidur dia akan dengan sendirinya mengambil 3-4 buku, dan tidak akan bersedia tidur sebelum dibacakan.

Sekarang begini. Umur tiga atau empat tahun sudah lancar membaca, tetapi kelak di usia tiga puluh tahun tidak pernah membaca satu pun buku dalam tempo dua tahun, apakah faedahnya?

Continue reading