Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


1 Comment

Penikmat Bisnis Digital

Era digital telah memunculkan berbagai pencapaian yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Hanya dalam tempo kurang dari tiga tahun sejak diluncurkan, GO-JEK berhasil menarik minat 900 ribu orang untuk menjadi pengemudi [1]. Hebatnya lagi, perusahaan teknologi berbasiskan daring ini tidak memiliki satu motor dan mobil pun. Jika ditambah dengan mitra berupa penjual makanan, pemijat, sampai dengan montir, tenaga kerja yang diserap oleh GO-JEK bisa lebih dari satu juta jiwa.

Cerita yang sama terjadi untuk Tokopedia. Berawal dari sebuah forum jual beli, saat ini e­-commerce terbesar di Indonesia ini memiliki lebih dari dua juta pelapak, dengan jumlah barang yang dijual mencapai hampir sepuluh juta unit [2]. Belum lagi jika kita membicarakan e-commerce lain yang sejenis. Continue reading


2 Comments

Sabar

OBB Austria

Brosur dari OBB (KAI-nya) Austria

Tempo hari saya membaca sebuah artikel, yang memberitahukan bahwa Mathieu Flamini -eks gelandang Arsenal- saat ini adalah pesepakbola terkaya di dunia. Jauh melebihi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Para pecinta bola pasti sudah tahu bahwa dibandingkan Messi, Ronaldo dan para pesepabola top lainnya, karir Flamini biasa-biasa saja. Jadi logikanya, tidak mungkin kekayaannya itu berasal dari gaji, atapun endorsement di luar sepakbola.

Apakah Flamini ini berasal dari keluarga kaya seperti Andrea Pirlo, yang bapaknya punya pabrik baja? Ternyata tidak juga. Justru sebaliknya, Flamini mendapatkan kekayaannya dari perusahaan yang sedang dirintisnya bersama Pasquale Granata sejak tahun 2008 yang lalu. Continue reading


Leave a comment

Kolonialisasi Hindia Belanda dan Kita

Saya membaca sebuah artikel yang sangat bagus dari Ignas Kleden, berjudul “Sejarah Kolonial dan Kita“. Artikel ini terbit di Kompas cetak, tanggal 10 Maret 2018. Pembahasan di sini panjang, namun menurut saya yang paling menarik adalah di bagian terakhir. Saya tuliskan kembali di sini, dan semoga pembaca dapat mngambil hikmahnya.

***

Dalam refleksi tentang Hindia Belanda tampak bahwa Belanda juga menerapkan beberapa pola kolonialisasi yang dipertahankannya selama tiga abad. Pertama, sebagai negara kecil dia tak punya kemampuan militer cukup untuk menaklukkan semua wilayah di Nusantara yang diincarnya. Jalan yang ditempuh adalah mencoba mengadu domba satu kerajaan dengan kerajaan lain, atau pihak-pihak yang bersaing dalam satu kerajaan yang sama. Perang dilakukan secara terpaksa kalau ada perlawanan besar dari pihak penduduk pribumi sepreti Perang Diponegoro dan Perang Aceh.

Continue reading


Leave a comment

Belajar untuk hidup

Saya sering ditanya, kapan saya akan mengajarkan Kinan membaca dan berhitung. Jawaban saya selalu sama. Saya tidak pernah memusingkannya. Bahkan andaikata teman-teman seumurnya pun sudah pandai mengeja dan menghafal angka, dan sementara Kinan belum, saya akan bergeming.

Kecintaan akan membaca dan berhitung, menurut saya jauh lebih penting. Sedangkan keterampilan, akan menyusul dengan sendirinya. Bahkan, kecintaan terhadap proses belajar itulah yang terpenting.

Maka dari itu, sejak masih umur 1 bulan Kinan selalu kami bacakan buku. Sampai sekarang, setiap malam sebelum tidur dia akan dengan sendirinya mengambil 3-4 buku, dan tidak akan bersedia tidur sebelum dibacakan.

Sekarang begini. Umur tiga atau empat tahun sudah lancar membaca, tetapi kelak di usia tiga puluh tahun tidak pernah membaca satu pun buku dalam tempo dua tahun, apakah faedahnya?

Continue reading


Leave a comment

Pelajaran dari Utara

Photo 08-06-2017, 4 48 17 pmMungkin warna kulit kita tidaklah sama, norma yang kita anut beraneka rupa, bahkan Tuhan yang kita sembah pun berbeda. Namun, negara ini tidak berdiri atas dasar kesamaan lahiriah. Indonesia dilahirkan atas perasaan sebangsa, senasib dan sepenanggungan. Identifikasi itu sudah jelas terdefinisi sejak jaman Majapahit, Sriwijaya, yang kemudian ditegaskan dalam Sumpah Pemuda, hampir seratus tahun yang lalu.

***

Di saat tidak sampai seperlima pemuda-pemudi tanah air yang berkesempatan untuk mencicipi sehari pun bangku kuliah, saya cukup beruntung untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi lebih dari satu dekade. Namun, itu tidak boleh membuat saya besar kepala, merasa tahu segalanya, serta menganggap diri ini paling bijaksana. Terkadang, masyarakat akar rumput memiliki kearifannya sendiri yang tidak pernah diajarkan di kelas oleh guru-guru sekolah.

Continue reading


Leave a comment

Merindukan pelayanan kesehatan di Belanda

Kinan di UMCG

Kinan di UMCG, salah satu rumah sakit di Groningen.

Empat tahun tinggal di negeri kincir angin, satu kalimat yang bisa mendeksripsikan pelayanan kesehatan disana adalah: “Pelayanan kesehatan di Belanda itu (strict) satu pintu.”

Karena selama di Belanda, anak saya Kinan hampir 100 kali bertemu dokter, saya cukup punya pengalaman untuk bercerita.

Di Belanda, seorang pasien tidak bisa serta merta datang ke dokter untuk diperiksa. Harus bikin janji dulu dengan dokter keluarga (huisarts/General Practitioner). GP ini kira-kira mirip dengan dokter umum, walaupun tidak setara, karena di Belanda, GP adalah salah satu jalur spesialis.

Tanpa adanya janji, pasien bakal ditolak dokter. Jangan kaget kalaupun Anda sudah berhari-hari meriang, batuk pilek, atau muntah-muntah, janji ketemu dokter baru dibikinkan 2-5 hari kemudian. Continue reading


Leave a comment

Mensyukuri Persatuan

Persatuan bangsa Indonesia mungkin tidak terlalu sering kita syukuri. Lahir sebagai generasi yang jauh dari masa perang kemerdekaan, dan jarang membuka sejarah, membuat persatuan kita anggap sebagai hal yang datang dengan cuma-cuma.

Selama jalan-jalan di Eropa, saya sering berpikir. Benua Eropa ini luasnya tidak beda jauh dengan Indonesia, tapi terbagi ke dalam lebih dari 50 negara.

Austria dan Hungaria hanya terpisah 4 jam perjalanan darat. Ceko dan Slovakia malah cukup ditempuh selama 3 jam. Beda bahasa, beda budaya, dan beda orientasi politik membuat empat negara yang dahulu pernah bersatu-padu itu sekarang berdiri sendiri-sendiri, dan bubarlah Kekaisaran Austria-Hungaria yang dulu megah.

Bahkan yang bahasanya sama, juga berdiri sendiri sebagai dua negara terpisah. Contohnya adalah Belanda dan Belgia yang jaraknya hanya setengah perjalanan dari Yogya ke Bandung.

Continue reading


Leave a comment

Andai

Kalau Anda adalah orang terkaya di Indonesia dan punya kuasa untuk melakukan apa saja, bakal dipakai apa uang itu untuk memperbaiki Indonesia?

Kalau saya adalah orang terkaya di tanah air, maka saya punya sekitar 200 triliun rupiah, setara dengan keluarga Hartono. Banyak? Pasti. Tetapi jelas tidak akan cukup untuk membenahi Indonesia secara instan. Dengan APBN 2.000 triliun saja, setiap tahunnya ada jutaan rakyat kelaparan. Apalagi kalau diberikan sebagai bantuan langsung. Setiap orang memperoleh hanya sekitar sejuta rupiah. Bisa dipastikan bakal segera ludes dalam tempo kurang dari sebulan.

Lantas bisa diapakan uang itu sehingga dampaknya bisa maksimal? Saya akan untuk membenahi pendidikan dasar. Barangkali ini dianggap bukan prioritas utama. Sebagai seorang jutawan mungkin saya juga diharapkan untuk membuka lapangan pekerjaan, atau menyiapkan calon-calon pengusaha. Sehingga di negeri ini tidak ada lagi orang miskin.

Continue reading


3 Comments

Meng-Tionghoa-kan Kaum Pribumi

Beberapa waktu yang lalu saya dibuat kesal oleh bangsa saya sendiri, atau dalam bahasa sehari-hari kita sebut sebagai “kaum pribumi”. Perkaranya terjadi saat transaksi pembelian barang, dimana saya merasa kualitas sikap (attitude) dari pribumi kalah jauh dari saudara sebangsa dan setanah air, yang sering kita sebut sebagai “Cina/Tionghoa”.

Kejadian pertama adalah saat saya perlu membeli plastik pembungkus makanan. Di Bandung, pedagang-pedagang plastik banyak ditemui di Cibadak, dekat dengan alun-alun. Walaupun dari dulu Bapak saya bilang, “kalau beli sesuatu, belilah ke toko orang Cina, karena umumnya mereka tidak nggedabrus (Jawa: membual/berbohong)”, selama ini saya tidak punya preferensi. Begitu pula waktu itu, saya menuju ke sembarang toko yang parkir motornya cukup lega.

Tiba di toko, yang ternyata pemilik dan pegawainya adalah pribumi, saya bertanya apakah mereka punya plastik vacuum, dijawab ada, tapi untuk menutup plastiknya perlu mesin vacuum yang harganya paling murah dua juta rupiah. Karena memang tidak ada niat untuk membeli mesin semahal itu, spontan saya nyeletuk, “wah, mahal ya”.

Continue reading


Leave a comment

Kinerja Transportasi Semenjana Tanggung Jawab Siapa

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Sebagai warga Kota Bandung, keinginan untuk berangkat ke kantor di Jalan Ganesha dari rumah di Ciwastra, Bandung Timur secara cepat itu baru menjadi sebatas mimpi. Untuk disebut sebagai cita-cita pun masih terlalu jauh. Pasalnya, untuk menempuh jarak sekitar dua belas kilometer, dengan kendaraan pribadi saja perlu waktu minimal satu setengah jam. Itu juga jauh dari kata nyaman, harus berdesak-desakan dalam macet, dan juga panas, bagi yang tidak punya mobil. Apalagi kalau menggunakan kendaraan umum, bakal lebih tidak mengenakkan lagi.

Profil kota-kota lain juga kurang lebih sama. Ambil contoh Jakarta. Bukan hanya karena ibukota adalah tolok ukur bagi daerah-daerah lain, tugas kantor ke Jakarta yang bisa datang sebulan dua kali membuat saya cukup hafal dengan kota berhutan beton itu. Setiap orang umumnya tidak menyukai transportasi Jakarta, karena ketidakpastiannya yang tinggi. Pernah saya menempuh rute dari Pancoran ke Senayan selama dua jam. Sungguh waktu yang terbuang percuma untuk jarak tempuh kurang dari sepuluh kilometer.

Continue reading