Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Resensi Buku: Olenka

Buku. Olenka‘Olenka’ memberikan pengalaman baru yang mengasyikkan. Ceritanya sederhana, namun memberikan makna yang begitu dalam. Sering dipuji sebagai salah satu karya sastra terbaik di Indonesia, saya rasa itu tidaklah berlebihan.

Seperti dalam ‘Orang-Orang Bloomington’, Prof. Budi Darma menggali sisi terdalam dari kehidupan manusia dalam novelnya ini. Hanya terdapat tidak lebih dari lima karakter pokok. Ceritanya pun tidak menwarkan letupan-letupan peristiwa yang mendebarkan hati. Justru cenderung datar, dan menuntut kita untuk ikut merenung. Di situlah malah daya tariknya dari buku setebal 426 halaman.

Hubungan terlarang

Cerita berawal dari pertemuan Fanton Drummond, dengan seorang perempuan di lift gedung apartemennya, yang belakangan diketahui bernama Olenka. Fanton yang masih muda, segera tertarik ke Olenka. Continue reading


1 Comment

Resensi Buku: Orang-Orang Bloomington (Budi Darma)

Buku Orang-Orang BloomingtonKarya sastra yang menurut saya bagus, adalah yang bisa membuat pembacanya merenungi maknanya. Saat membaca “Orang-Orang Bloomington” karangan Prof. Budi Darma, saya tidak hanya merenung, bahkan sampai terpekur. Dalam enam cerita pendek yang ada di buku ini, tidak ada yang latarnya istimewa. Biasa-biasa saja. Sepintas nampak seperti problematika manusia pada umumnya, yang tak perlu mendapat perhatian lebih.

Apa yang membuat pembaca harus bertahan dengan cerita-cerita seputar konflik antartetangga, kisah asmara, atau dinamika dalam keluarga? Lagipula, walaupun cerita-cerita ini ditulis saat pengarangnya sedang tugas belajar di Amerika Serikat, tidak banyak yang diceritakan Budi tentang keadaan di sana. Kita tidak terlalu bisa membayangkan seperti apa keadaan di Amerika, musimnya, kulturnya, kondisi sosial masyarakatnya. Gaya berceritanya pun cenderung datar, tanpa letupan-letupan peristiwa yang betul-betul memikat. Continue reading


1 Comment

Resensi Buku Sukarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia: Bung Besar, Pengorbanan Besar

Buku Sukarno

Referensi gambar klik di sini.

Saat berkunjung ke California, Amerika Serikat, Presiden Sukarno minta diantarkan ke toko pakaian dalam. Isterinya minta dibelikan BH. Ternyata, Sang Pemimpin Besar Revolusi lupa berapa ukuran BH isterinya. Tentu saja di jaman itu berkomunikasi sangatlah sulit. Bung Karno tidak kehilangan akal. “Bisakah dikumpulkan ke sini semua pramuniaga, agar aku bisa menentukan ukuran mangkok daging ini?”

Setelah semua pramuniaga berbaris, presiden meneliti dengan hati-hati, sambil berkata, “Tidak, engkau terlalu kecil… oh, engkau kebesaran… ya, engkau pas sekali.” Ternyata ukurannya memang pas dengan BH isterinya (tidak disebutkan isteri yang mana).

Kecintaan Sukarno terhadap perempuan memang diakuinya sendiri dalam buku yang ditulis oleh Cindy Adams, “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Selain jumlah perempuan yang pernah dinikahinya sebanyak delapan, dia sendiri dalam banyak kesempatan tidak malu-malu mengungkapkan sifatnya yang satu ini. Continue reading


Leave a comment

Sutan Sjahrir Sang Demokrat Sosialis

Buku SyahrirKenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Mestinya kita semua bahwa baris-baris di atas adalah penggalan puisi “Karawang-Bekasi”, yang ditulis sang legenda, Chairil Anwar, di tahun 1948. Mungkin kebetulan bahwa Chairil masih terhitung kemenakan Sjahrir. Namun kalaupun tidak, si Bung Kecil, demikian ia disebut karena perawakannya yang pendek, memang di masa perang kemerdekaan amat populer di kalangan angkatan muda yang berjuang melawan Belanda yang kembali datang untuk menancapkan kembali kukunya di tanah air setelah kita merdeka. Continue reading


Leave a comment

Teladan dari Natsir dan Yamin

Buku. M Natsir

Sumber: [1]

Baru-baru ini saya membaca biografi dua tokoh besar jaman pergerakan nasional, Mohammad Natsir dan Muhammad Yamin. Kebetulan keduanya berasal dari Minangkabau. Alih-alih menuliskan ringkasan kisah hidup mereka sesuai dengan tahun kejadian, saya lebih suka untuk menyarikan mutiara teladan kehidupan dari kedua bapak bangsa ini.

***

Tahun 1927, saat usianya 18 tahun, Mohammad Natsir pindah dari Padang ke Bandung. Di kota kembang dia bersekolah di Algemeene Middelbare School (AMS). Di masa sekarang AMS setara dengan SMA dan saat itu menjadi sekolah menengah kelas dua. Natsir yang hanya anak seorang juru tulis tidak dapat bersekolah di Hogere Burger School (HBS) yang khusus diperuntukkan untuk anak-anak Belanda, Eropa, atau elite pribumi, diantaranya adalah Soekarno dan Tirto Adhi Suryo, yang dinovelkan Pram dalam Tetralogi Buru-nya itu.

Continue reading


Leave a comment

Antara Baik dan Buruk

Sengsara cover

“Sengsara Membawa Nikmat” terbit pada tahun 1929, dan merupakan karya Tulis Sutan Sati yang paling terkenal. Cukup banyak orang yang mengetahui karya sastra ini, salah satu alasannya adalah karena diangkatnya novel ini ke layar kaca di tahun 1991. Ketika itu masyarakat mengenal serial “Si Midun” di TVRI, dimana Sandy Nayoan dan Desy Ratnasari didapuk sebagai protagonis utama.

Mengambil latar cerita yang sebagian besar terjadi di Sumatera Barat, SMN mengetengahkan permasalahan klasik yang berulangkali terjadi di dalam dunia ini, pertentangan antara baik dan buruk. Midun, seorang pemuda alim, mulia akhlaknya, dan pandai silat, harus menderita hidupnya karena Kacak, yang dengki dan iri hati.

Kacak merasa Midun telah menyerobot perhatian orang kampung yang seharusnya ditumpahkan kepadanya. Anak peladang seperti Midun tidak seharusnya menjadi bintang. Kacak adalah kemenakan Tuanku Laras, pembesar di kampung mereka. Dalam adat Minangkau yang matrilineal, penanggung jawab dari seseorang adalah paman dari pihak ibunya. Maka, Kacak pongah dan merasa bisa berbuat semaunya.

Continue reading


1 Comment

Mohammad Hatta dalam Kenangan, 12 Agustus 1902 – 12 Agustus 2016

HattaHari ini, tepat seratus empat tahun yang lalu, seorang negarawan besar dilahirkan di Bukittinggi. Terlahir sebagai Mohammad Athar, kiprahnya kelak seharum arti namanya.

Seperti banyak orang besar yang belajar kemandirian sejak dini, Hatta telah yatim sejak baru bisa merangkak. Berasal dari sebuah keluarga yang terpandang di Sumatera Barat, agama Islam dan aktivitas ekonomi perdagangan yang dikenalnya sejak kanak-kanak kelak banyak mempengaruhi pemikiran dan sikapnya. Berkat latar belakang keluarganya, ia bisa mengenyam pendidikan Belanda. Saat sekolah MULO di Padang itulah politik mulai menarik perhatiannya. Berawal dari kolom-kolom politik yang sering dibacanya di koran, Hatta menjadi bendahara di Jong Sumatranen Bond.

Lulus dari HBS tahun 1921 di Batavia, Hatta dengan dukungan biaya keluarganya yang banyak menjadi saudagar-saudagar besar di ibukota, melanjutkan pendidikan tingginya ke Rotterdam, mengambil jurusan ekonomi. Seolah sudah suratan takdir, Perhimpunan Indonesia (waktu itu masih bernama Indische Vereeniging) yang sebelumnya hanya merupakan wadah sosial untuk menyelenggarakan pesta-pesta dansa, mulai berubah haluannya di awal tahun dua puluhan. Tiga eksil politik dari Indische Partij berhasil menanamkan pentingnya kesadaran berbangsa bagi kaum intelektual muda tanah air.

Continue reading