Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB


Leave a comment

Teladan dari Natsir dan Yamin

Buku. M Natsir

Sumber: [1]

Baru-baru ini saya membaca biografi dua tokoh besar jaman pergerakan nasional, Mohammad Natsir dan Muhammad Yamin. Kebetulan keduanya berasal dari Minangkabau. Alih-alih menuliskan ringkasan kisah hidup mereka sesuai dengan tahun kejadian, saya lebih suka untuk menyarikan mutiara teladan kehidupan dari kedua bapak bangsa ini.

***

Tahun 1927, saat usianya 18 tahun, Mohammad Natsir pindah dari Padang ke Bandung. Di kota kembang dia bersekolah di Algemeene Middelbare School (AMS). Di masa sekarang AMS setara dengan SMA dan saat itu menjadi sekolah menengah kelas dua. Natsir yang hanya anak seorang juru tulis tidak dapat bersekolah di Hogere Burger School (HBS) yang khusus diperuntukkan untuk anak-anak Belanda, Eropa, atau elite pribumi, diantaranya adalah Soekarno dan Tirto Adhi Suryo, yang dinovelkan Pram dalam Tetralogi Buru-nya itu.

Continue reading


Leave a comment

Antara Baik dan Buruk

Sengsara cover

“Sengsara Membawa Nikmat” terbit pada tahun 1929, dan merupakan karya Tulis Sutan Sati yang paling terkenal. Cukup banyak orang yang mengetahui karya sastra ini, salah satu alasannya adalah karena diangkatnya novel ini ke layar kaca di tahun 1991. Ketika itu masyarakat mengenal serial “Si Midun” di TVRI, dimana Sandy Nayoan dan Desy Ratnasari didapuk sebagai protagonis utama.

Mengambil latar cerita yang sebagian besar terjadi di Sumatera Barat, SMN mengetengahkan permasalahan klasik yang berulangkali terjadi di dalam dunia ini, pertentangan antara baik dan buruk. Midun, seorang pemuda alim, mulia akhlaknya, dan pandai silat, harus menderita hidupnya karena Kacak, yang dengki dan iri hati.

Kacak merasa Midun telah menyerobot perhatian orang kampung yang seharusnya ditumpahkan kepadanya. Anak peladang seperti Midun tidak seharusnya menjadi bintang. Kacak adalah kemenakan Tuanku Laras, pembesar di kampung mereka. Dalam adat Minangkau yang matrilineal, penanggung jawab dari seseorang adalah paman dari pihak ibunya. Maka, Kacak pongah dan merasa bisa berbuat semaunya.

Continue reading


Leave a comment

Mohammad Hatta dalam Kenangan, 12 Agustus 1902 – 12 Agustus 2016

HattaHari ini, tepat seratus empat tahun yang lalu, seorang negarawan besar dilahirkan di Bukittinggi. Terlahir sebagai Mohammad Athar, kiprahnya kelak seharum arti namanya.

Seperti banyak orang besar yang belajar kemandirian sejak dini, Hatta telah yatim sejak baru bisa merangkak. Berasal dari sebuah keluarga yang terpandang di Sumatera Barat, agama Islam dan aktivitas ekonomi perdagangan yang dikenalnya sejak kanak-kanak kelak banyak mempengaruhi pemikiran dan sikapnya. Berkat latar belakang keluarganya, ia bisa mengenyam pendidikan Belanda. Saat sekolah MULO di Padang itulah politik mulai menarik perhatiannya. Berawal dari kolom-kolom politik yang sering dibacanya di koran, Hatta menjadi bendahara di Jong Sumatranen Bond.

Lulus dari HBS tahun 1921 di Batavia, Hatta dengan dukungan biaya keluarganya yang banyak menjadi saudagar-saudagar besar di ibukota, melanjutkan pendidikan tingginya ke Rotterdam, mengambil jurusan ekonomi. Seolah sudah suratan takdir, Perhimpunan Indonesia (waktu itu masih bernama Indische Vereeniging) yang sebelumnya hanya merupakan wadah sosial untuk menyelenggarakan pesta-pesta dansa, mulai berubah haluannya di awal tahun dua puluhan. Tiga eksil politik dari Indische Partij berhasil menanamkan pentingnya kesadaran berbangsa bagi kaum intelektual muda tanah air.

Continue reading


Leave a comment

Potret Sosial dalam Novel “Atheis”

Atheis cover

Sungguh tragis riwayat Hasan. Maksud mulia hendak mengislamkan kembali Rusli dan Kartini, dua orang yang disebutnya sebagai kafir-kafir modern, malah dirinya terjebak ke dalam pusaran hidup yang sungguh berlawanan arah. Tidak hanya gagal, Hasan justru terbawa hidup materialistis seperti dua kawannya yang atheis itu.

Rajin beribadah, namun tidak alim, karena sesungguhnya Hasan memang kurang berilmu agama. Dia adalah penganut tarekat yang taat. Hasan pernah mandi di sungai Cikapundung selama empat puluh kali dalam semalam. Pernah juga dia mengunci diri di kamar selama tiga hari dan tiga malam, tanpa makan, minum, dan tidur. Namun, amalan-amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad itu tidak pernah membangkitkan gairahnya untuk bertanya. Walaupun di masa itu termasuk sebagai golongan langka yang bisa mengenyam pendidikan Belanda, Hasan bukanlah seorang intelektual yang gemar mencari tahu jawaban akan alasan terjadinya suatu peristiwa. “Apa artinya kata-kata ”Arab” (?) itu sampai kini aku tidak tahu.” (Bagian Ketiga) Bahkan untuk hal yang mendasar seperti memahami makna dari bacaan doa yang dipanjatkannya setiap saat, sikapnya apatis.

Hasan beragama hanya karena terbiasa. Selain itu, ketakutan akan neraka mendorongnya untuk sangat patuh dalam menjalankan tarekatnya. Namun lagi-lagi pemahamannya akan neraka itu didapatkan hanya dari potongan-potongan dongeng masa kecil. Maka tidak heran, pondasi keimanannya itu seperti kaca. Tampak indah dan menyilaukan mata orang awam, namun sesungguhnya amat rentan dan tidak mampu menopang permasalahan hidupnya.

Continue reading


4 Comments

Mencoba Serumah.com

Serumah

Kalau ada yang bertanya, apa itu serumah.com, maka saya akan balik bertanya, sudahkah pernah mencoba Airbnb? Sebagai seorang mahasiswa yang gemar jalan-jalan, mencari penginapan adalah hal yang penting. Karena saya sudah punya seorang isteri dan anak yang masih berumur setahun, penginapan yang berkualitas namun dengan harga terjangkau bahkan lebih penting dibandingkan dengan tiket pesawat yang sedang promo. Dalam hal ini, apartemen penting buat kami, karena ada dapur, kalau ingin memasak makanan buat Kinan tidak terlalu repot.

Continue reading


4 Comments

Resensi Buku: To Kill a Mockingbird

To kill a mockingbird

“You never really understand a person until you consider things from his point of view. Until you climb inside of his skin and walk around in it.”

Lewat penuturan seorang Jean-Louise “Scout” Finch yang berumur enam tahun, Harper Lee menceritakan dengan amat baik dua problematika yang mungkin tabu untuk dibicarakan secara terang-terangan oleh orang dewasa; rasialisme dan perkosaan. Mengambil setting di kota Maycomb tahun 1930-an saat terjadi “Great Depression” di Amerika Serikat, cerita berputar pada Scout, abangnya Jeremy “Jem” Finch, dan ayahnya yang seorang pengacara, Atticus Finch.

Melalui pemahaman Scout yang polos, pembaca akan disuguhi bagaimana mengerikannya kebencian antar ras (putih dan hitam) saat itu. Dengan mudahnya, berbagai macam prasangka (prejudice) dapat diajukan ke orang-orang Negro, walaupun itu belum tentu benar. Prasangka jugalah yang membuat warga Maycomb memberikan stigma negatif ke Atticus (paling kentara adalah sebutan “nigger-lover“), yang ditunjuk oleh pengadilan untuk membela Tom Robinson, seorang negro yang dituduh memperkosa Mayella Ewell, anak dari Bob Ewell, seorang pemabuk, yang selama ini dicap sebagai sampah masyarakat.

Continue reading


2 Comments

Resensi Buku: Totto-Chan: The Little Girl at the Window

Sumber: Wikipedia

Sumber: Wikipedia

Having eyes, but not seeing beauty; having ears, but not hearing music; having minds, but not perceiving truth; having hearts that are never moved and therefore never set on fire. These are the things to fear, said the headmaster.

Buku ini sangat bagus. Itu resensi singkat yang dapat saya berikan. Penulisnya, Tetsuko Kuroyanagi, yang saat masih kanak-kanak dipanggil dengan “Totto-Chan” menceritakan dengan amat berkesan memoir masa kecilnya saat menempuh sekolah dasar di Tomoe-Gakuen.

Sebagai seorang yang menghabiskan masa kecilnya di desa, walaupun tidak persis sama, kurang lebih saya bisa merasakan nostalgia tentang apa yang Totto-Chan dan teman-temannya alami di sekolahnya. Menyusuri kebun-kebun jeruk, mencari ikan-ikan kecil di sungai, berkunjung ke sawah dan mengobrol dengan petani. Itu semua juga saya alami waktu SD dulu, terutama saat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Memori semacam itu memang sungguh berkesan, melebihi kesan bahagia ketika dapat nilai 9 di raport. Namun, apa yang saya alami itu memang wajar terjadi di kampung. Sampai dengan saat ini, mestinya masih banyak siswa-siswa SD di pelosok Indonesia yang mengalami kejadian serupa. Continue reading