Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB


Leave a comment

Mensyukuri Persatuan

Persatuan bangsa Indonesia mungkin tidak terlalu sering kita syukuri. Lahir sebagai generasi yang jauh dari masa perang kemerdekaan, dan jarang membuka sejarah, membuat persatuan kita anggap sebagai hal yang datang dengan cuma-cuma.

Selama jalan-jalan di Eropa, saya sering berpikir. Benua Eropa ini luasnya tidak beda jauh dengan Indonesia, tapi terbagi ke dalam lebih dari 50 negara.

Austria dan Hungaria hanya terpisah 4 jam perjalanan darat. Ceko dan Slovakia malah cukup ditempuh selama 3 jam. Beda bahasa, beda budaya, dan beda orientasi politik membuat empat negara yang dahulu pernah bersatu-padu itu sekarang berdiri sendiri-sendiri, dan bubarlah Kekaisaran Austria-Hungaria yang dulu megah.

Bahkan yang bahasanya sama, juga berdiri sendiri sebagai dua negara terpisah. Contohnya adalah Belanda dan Belgia yang jaraknya hanya setengah perjalanan dari Yogya ke Bandung.

Continue reading


Leave a comment

Rawa Indah, Kuliner Laut Segar di Bontang

Lokasi                             : Pasar Rawa Indah, Bontang

Estimasi harga              : Rp 40.000 – 50.000 per porsi

Rawa Indah 1

Ikan dan seafood yang segar

Salah satu hal yang saya suka saat kembali ke Indonesia adalah perjalanan dinas. Sebagai umumnya dosen, kami sering ditugaskan ke berbagai daerah di Indonesia, baik terkait dengan kegiatan pendidikan maupun pengabdian kepada masyarakat. Perjalanan dinas berarti wisata dan kuliner gratis. Dari dulu hal ini selalu saya syukuri. Sebagai dosen PNS, tentu pendapatan kami tidak sebesar teman-teman yang bekerja di perusahaan-perusahaan swasta asing. Namun bisa lumayan sering pelesir, adalah suatu rejeki juga.

D awal tahun 2017 saya ditugaskan ke Bontang. Dulu di tahun 2009 s/d 2011 saya lima kali ke kota yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur ini. Bedanya, dulu saya selalu naik pesawat dari Balikpapan ke Bontang. Nyaman sekali, 30 menit di udara dengan ketingian terbang rendah sekitar 3.000-5000 kaki dengan pemandangan yang indah. Namun sekarang, karena beda klien, pesawat tidak bisa disediakan, sehingga untuk pertama kalinya saya naik darat.

Continue reading


Leave a comment

Tugas dosen

Ujian di kelas

Mahasiswa kelas PTI B angkatan 2016 sedang mengikuti ujian tengah semester

Kejujuran dalam bekerja diawali dari kejujuran saat menjadi mahasiswa. Kalau masih muda sudah suka menyontek, tidak heran nanti kalau sudah berkarir gemar korupsi. Saya selalu bilang ke mahasiswa bahwa bodoh itu apa-apa, sedangkan bohong tidak boleh sama sekali.

Nilai C, D, E di transkrip, 10 tahun lagi tidak akan ada yang mempermasalahkan. Dapat straight A pun tidak selamanya dikenang orang. Namun kalau gemar menyontek, imej itu akan melekat, dan akan menjadi kebiasaan buruk seumur hidup.

Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar. Kita perlu insan yang jujur. Pinjam motto dari sekolahnya istri: knowledge is power, but character is more.

Continue reading


Leave a comment

Andai

Kalau Anda adalah orang terkaya di Indonesia dan punya kuasa untuk melakukan apa saja, bakal dipakai apa uang itu untuk memperbaiki Indonesia?

Kalau saya adalah orang terkaya di tanah air, maka saya punya sekitar 200 triliun rupiah, setara dengan keluarga Hartono. Banyak? Pasti. Tetapi jelas tidak akan cukup untuk membenahi Indonesia secara instan. Dengan APBN 2.000 triliun saja, setiap tahunnya ada jutaan rakyat kelaparan. Apalagi kalau diberikan sebagai bantuan langsung. Setiap orang memperoleh hanya sekitar sejuta rupiah. Bisa dipastikan bakal segera ludes dalam tempo kurang dari sebulan.

Lantas bisa diapakan uang itu sehingga dampaknya bisa maksimal? Saya akan untuk membenahi pendidikan dasar. Barangkali ini dianggap bukan prioritas utama. Sebagai seorang jutawan mungkin saya juga diharapkan untuk membuka lapangan pekerjaan, atau menyiapkan calon-calon pengusaha. Sehingga di negeri ini tidak ada lagi orang miskin.

Continue reading


Leave a comment

Meng-Tionghoa-kan Kaum Pribumi

Beberapa waktu yang lalu saya dibuat kesal oleh bangsa saya sendiri, atau dalam bahasa sehari-hari kita sebut sebagai “kaum pribumi”. Perkaranya terjadi saat transaksi pembelian barang, dimana saya merasa kualitas sikap (attitude) dari pribumi kalah jauh dari saudara sebangsa dan setanah air, yang sering kita sebut sebagai “Cina/Tionghoa”.

Kejadian pertama adalah saat saya perlu membeli plastik pembungkus makanan. Di Bandung, pedagang-pedagang plastik banyak ditemui di Cibadak, dekat dengan alun-alun. Walaupun dari dulu Bapak saya bilang, “kalau beli sesuatu, belilah ke toko orang Cina, karena umumnya mereka tidak nggedabrus (Jawa: membual/berbohong)”, selama ini saya tidak punya preferensi. Begitu pula waktu itu, saya menuju ke sembarang toko yang parkir motornya cukup lega.

Tiba di toko, yang ternyata pemilik dan pegawainya adalah pribumi, saya bertanya apakah mereka punya plastik vacuum, dijawab ada, tapi untuk menutup plastiknya perlu mesin vacuum yang harganya paling murah dua juta rupiah. Karena memang tidak ada niat untuk membeli mesin semahal itu, spontan saya nyeletuk, “wah, mahal ya”.

Continue reading


Leave a comment

Kinerja Transportasi Semenjana Tanggung Jawab Siapa

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Sebagai warga Kota Bandung, keinginan untuk berangkat ke kantor di Jalan Ganesha dari rumah di Ciwastra, Bandung Timur secara cepat itu baru menjadi sebatas mimpi. Untuk disebut sebagai cita-cita pun masih terlalu jauh. Pasalnya, untuk menempuh jarak sekitar dua belas kilometer, dengan kendaraan pribadi saja perlu waktu minimal satu setengah jam. Itu juga jauh dari kata nyaman, harus berdesak-desakan dalam macet, dan juga panas, bagi yang tidak punya mobil. Apalagi kalau menggunakan kendaraan umum, bakal lebih tidak mengenakkan lagi.

Profil kota-kota lain juga kurang lebih sama. Ambil contoh Jakarta. Bukan hanya karena ibukota adalah tolok ukur bagi daerah-daerah lain, tugas kantor ke Jakarta yang bisa datang sebulan dua kali membuat saya cukup hafal dengan kota berhutan beton itu. Setiap orang umumnya tidak menyukai transportasi Jakarta, karena ketidakpastiannya yang tinggi. Pernah saya menempuh rute dari Pancoran ke Senayan selama dua jam. Sungguh waktu yang terbuang percuma untuk jarak tempuh kurang dari sepuluh kilometer.

Continue reading


Leave a comment

Road Map Penelitian Nasional: Sinkronisasi Kampus dan Industri

Aplikasi riset di industri yang jadi bagian studi saya. Studi kasus di terminal peti kemas Tanjung Priuk, Jakarta

Aplikasi riset di industri yang jadi bagian studi saya. Studi kasus di terminal peti kemas Tanjung Priuk, Jakarta

Banyak dari karyasiswa S-3 LPDP dan DIKTI yang topik penelitiannya berkaitan dengan Indonesia, tidak terkecuali saya.

Logikanya, semua riset doktoral itu pasti berkualitas, karena dikerjakan secara intensif selama 3-4 tahun, dan tersusun dari makalah-makalah yang telah teruji oleh proses review di jurnal-jurnal internasional.

Di negara-negara maju, hasil riset S-3 dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh negara. Sebagai contoh, berbagai kemajuan di sektor energi yang sekarang sedang dinikmati Eropa, adalah buah dari pemanfaatan riset di bidang itu yang sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Namun sebaliknya, jika tidak dimanfaatkan, sebagus apapun hasil riset bakal kurang dampaknya untuk kemajuan suatu negara.

Continue reading