Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB


Leave a comment

Tugas dosen

Ujian di kelas

Mahasiswa kelas PTI B angkatan 2016 sedang mengikuti ujian tengah semester

Kejujuran dalam bekerja diawali dari kejujuran saat menjadi mahasiswa. Kalau masih muda sudah suka menyontek, tidak heran nanti kalau sudah berkarir gemar korupsi. Saya selalu bilang ke mahasiswa bahwa bodoh itu apa-apa, sedangkan bohong tidak boleh sama sekali.

Nilai C, D, E di transkrip, 10 tahun lagi tidak akan ada yang mempermasalahkan. Dapat straight A pun tidak selamanya dikenang orang. Namun kalau gemar menyontek, imej itu akan melekat, dan akan menjadi kebiasaan buruk seumur hidup.

Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar. Kita perlu insan yang jujur. Pinjam motto dari sekolahnya istri: knowledge is power, but character is more.

Continue reading


Leave a comment

Andai

Kalau Anda adalah orang terkaya di Indonesia dan punya kuasa untuk melakukan apa saja, bakal dipakai apa uang itu untuk memperbaiki Indonesia?

Kalau saya adalah orang terkaya di tanah air, maka saya punya sekitar 200 triliun rupiah, setara dengan keluarga Hartono. Banyak? Pasti. Tetapi jelas tidak akan cukup untuk membenahi Indonesia secara instan. Dengan APBN 2.000 triliun saja, setiap tahunnya ada jutaan rakyat kelaparan. Apalagi kalau diberikan sebagai bantuan langsung. Setiap orang memperoleh hanya sekitar sejuta rupiah. Bisa dipastikan bakal segera ludes dalam tempo kurang dari sebulan.

Lantas bisa diapakan uang itu sehingga dampaknya bisa maksimal? Saya akan untuk membenahi pendidikan dasar. Barangkali ini dianggap bukan prioritas utama. Sebagai seorang jutawan mungkin saya juga diharapkan untuk membuka lapangan pekerjaan, atau menyiapkan calon-calon pengusaha. Sehingga di negeri ini tidak ada lagi orang miskin.

Continue reading


Leave a comment

Meng-Tionghoa-kan Kaum Pribumi

Beberapa waktu yang lalu saya dibuat kesal oleh bangsa saya sendiri, atau dalam bahasa sehari-hari kita sebut sebagai “kaum pribumi”. Perkaranya terjadi saat transaksi pembelian barang, dimana saya merasa kualitas sikap (attitude) dari pribumi kalah jauh dari saudara sebangsa dan setanah air, yang sering kita sebut sebagai “Cina/Tionghoa”.

Kejadian pertama adalah saat saya perlu membeli plastik pembungkus makanan. Di Bandung, pedagang-pedagang plastik banyak ditemui di Cibadak, dekat dengan alun-alun. Walaupun dari dulu Bapak saya bilang, “kalau beli sesuatu, belilah ke toko orang Cina, karena umumnya mereka tidak nggedabrus (Jawa: membual/berbohong)”, selama ini saya tidak punya preferensi. Begitu pula waktu itu, saya menuju ke sembarang toko yang parkir motornya cukup lega.

Tiba di toko, yang ternyata pemilik dan pegawainya adalah pribumi, saya bertanya apakah mereka punya plastik vacuum, dijawab ada, tapi untuk menutup plastiknya perlu mesin vacuum yang harganya paling murah dua juta rupiah. Karena memang tidak ada niat untuk membeli mesin semahal itu, spontan saya nyeletuk, “wah, mahal ya”.

Continue reading


Leave a comment

Kinerja Transportasi Semenjana Tanggung Jawab Siapa

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Sebagai warga Kota Bandung, keinginan untuk berangkat ke kantor di Jalan Ganesha dari rumah di Ciwastra, Bandung Timur secara cepat itu baru menjadi sebatas mimpi. Untuk disebut sebagai cita-cita pun masih terlalu jauh. Pasalnya, untuk menempuh jarak sekitar dua belas kilometer, dengan kendaraan pribadi saja perlu waktu minimal satu setengah jam. Itu juga jauh dari kata nyaman, harus berdesak-desakan dalam macet, dan juga panas, bagi yang tidak punya mobil. Apalagi kalau menggunakan kendaraan umum, bakal lebih tidak mengenakkan lagi.

Profil kota-kota lain juga kurang lebih sama. Ambil contoh Jakarta. Bukan hanya karena ibukota adalah tolok ukur bagi daerah-daerah lain, tugas kantor ke Jakarta yang bisa datang sebulan dua kali membuat saya cukup hafal dengan kota berhutan beton itu. Setiap orang umumnya tidak menyukai transportasi Jakarta, karena ketidakpastiannya yang tinggi. Pernah saya menempuh rute dari Pancoran ke Senayan selama dua jam. Sungguh waktu yang terbuang percuma untuk jarak tempuh kurang dari sepuluh kilometer.

Continue reading


Leave a comment

Road Map Penelitian Nasional: Sinkronisasi Kampus dan Industri

Aplikasi riset di industri yang jadi bagian studi saya. Studi kasus di terminal peti kemas Tanjung Priuk, Jakarta

Aplikasi riset di industri yang jadi bagian studi saya. Studi kasus di terminal peti kemas Tanjung Priuk, Jakarta

Banyak dari karyasiswa S-3 LPDP dan DIKTI yang topik penelitiannya berkaitan dengan Indonesia, tidak terkecuali saya.

Logikanya, semua riset doktoral itu pasti berkualitas, karena dikerjakan secara intensif selama 3-4 tahun, dan tersusun dari makalah-makalah yang telah teruji oleh proses review di jurnal-jurnal internasional.

Di negara-negara maju, hasil riset S-3 dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh negara. Sebagai contoh, berbagai kemajuan di sektor energi yang sekarang sedang dinikmati Eropa, adalah buah dari pemanfaatan riset di bidang itu yang sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Namun sebaliknya, jika tidak dimanfaatkan, sebagus apapun hasil riset bakal kurang dampaknya untuk kemajuan suatu negara.

Continue reading


Leave a comment

Pergeseran Peran Perhimpunan Indonesia

pergerakan-indonesiaDibandingkan dengan Budi Utomo ataupun Sumpah Pemuda, peran Perhimpunan Indonesia cenderung dilupakan dalam Kebangkitan Nasional. Padahal ditinjau dari dampak yang diberikan terhadap persiapan kemerdekaan Indonesia, posisi PI amatlah strategis.

Lewat tulisan dan kaderisasi

PI yang awalnya didirikan sekedar untuk menyelenggarakan pesta dansa dan berbagai aktivitas sosial lain bagi diaspora Indonesia di Belanda, mulai memasuki babak baru sejak para eksil dari Indische Partij aktif di dalamnya. Pelan namun pasti, Tjipto Mangoenkoesumo dan Soewardi Soerjaningrat mulai bisa menanamkan kesadaran akan pentingnya nasionalisme ke dalam organisasi. Di periode yang sama, PI yang waktu itu masih bernama Indische Vereeniging juga menerbitkan buletin “Hindia Poetra”, walaupun isinya belum secara eksplisit membahas politik.

Continue reading


Leave a comment

Membuat rencana perjalanan liburan

Mengirim kartu pos. Salah satu rutinitas setiap kali liburan.

Mengirim kartu pos. Salah satu rutinitas setiap kali liburan.

Membuat rencana perjalanan (itinerary) liburan itu mudah. Bisa dikerjakan oleh siapapun, asalkan mengerti caranya. Dalam artikel kali ini, saya akan membagikan tips dan trik membuat itinerary berdasarkan pengalaman kami jalan-jalan di Eropa selama tiga tahun terakhir. Di akhir tulisan, saya telah menyertakan beberapa tautan untuk mengunduh beberapa contoh rencana perjalanan.

Pertanyaan paling mendasar? Mengapa harus membuat itinerary? Bukankah lebih menyenangkan kalau langsung datang ke destinasi wisata, duduk santai, dan menikmati liburan?

Ya, memang betul. Tapi kalau Anda liburannya ikut tur. Tinggal bayar kemudian mengikuti petunjuk. Kalau tidak mampu bayar tur, semua harus direncanakan sendiri. Mulai dari pesawat, jalur transportasi dalam kota, sampai beli makan, semua sendiri. Repot? Iya. Tapi menyenangkan. Kita pun bisa menyesuaikan rencana liburan sesuai keinginan dan minat kita tanpa tergantung ke orang lain.

Continue reading