Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Kolonialisasi Hindia Belanda dan Kita

Saya membaca sebuah artikel yang sangat bagus dari Ignas Kleden, berjudul “Sejarah Kolonial dan Kita“. Artikel ini terbit di Kompas cetak, tanggal 10 Maret 2018. Pembahasan di sini panjang, namun menurut saya yang paling menarik adalah di bagian terakhir. Saya tuliskan kembali di sini, dan semoga pembaca dapat mngambil hikmahnya.

***

Dalam refleksi tentang Hindia Belanda tampak bahwa Belanda juga menerapkan beberapa pola kolonialisasi yang dipertahankannya selama tiga abad. Pertama, sebagai negara kecil dia tak punya kemampuan militer cukup untuk menaklukkan semua wilayah di Nusantara yang diincarnya. Jalan yang ditempuh adalah mencoba mengadu domba satu kerajaan dengan kerajaan lain, atau pihak-pihak yang bersaing dalam satu kerajaan yang sama. Perang dilakukan secara terpaksa kalau ada perlawanan besar dari pihak penduduk pribumi sepreti Perang Diponegoro dan Perang Aceh.

Continue reading


Leave a comment

Belajar untuk hidup

Saya sering ditanya, kapan saya akan mengajarkan Kinan membaca dan berhitung. Jawaban saya selalu sama. Saya tidak pernah memusingkannya. Bahkan andaikata teman-teman seumurnya pun sudah pandai mengeja dan menghafal angka, dan sementara Kinan belum, saya akan bergeming.

Kecintaan akan membaca dan berhitung, menurut saya jauh lebih penting. Sedangkan keterampilan, akan menyusul dengan sendirinya. Bahkan, kecintaan terhadap proses belajar itulah yang terpenting.

Maka dari itu, sejak masih umur 1 bulan Kinan selalu kami bacakan buku. Sampai sekarang, setiap malam sebelum tidur dia akan dengan sendirinya mengambil 3-4 buku, dan tidak akan bersedia tidur sebelum dibacakan.

Sekarang begini. Umur tiga atau empat tahun sudah lancar membaca, tetapi kelak di usia tiga puluh tahun tidak pernah membaca satu pun buku dalam tempo dua tahun, apakah faedahnya?

Continue reading


1 Comment

Obrolan dengan Istri

Obrolan dengan istri waktu akhir pekan:

Kalau dikasih umur panjang, saya tidak mau kelak tinggal bersama anak-anak. Lebih baik hidup berdua dengan istri saja sampai tua. Kami tidak mau merepotkan orang lain.

Saya ingin sampai tua seperti Bapak, sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain, walaupun itu ke anak dan istri sendiri. Kalau ada urusan dinas, saya lebih suka pergi dan pulang sendiri ke/dari stasiun/bandara/pool travel, toh taksi/uber/gojek ada banyak. Maka jangan tersinggung kalau saya tidak mau diambilkan nasi atau disiapkan baju. Saya tidak mengawini kamu supaya saya bisa mendapatkan layanan semacam itu. Jangan merasa rikuh juga kalau setelah makan saya ikut membereskan piring kotor, itu sudah sewajarnya dalam kehidupan suami istri yang egaliter (sama rata).

Continue reading


Leave a comment

Kembali ke Selera Asal di Jember

Nasi pecel

Tipikal penjual nasi pecel di Jember.

Saya punya kebiasaan untuk memberikan ‘star’ di Google Maps bagi kota-kota yang pernah saya kunjungi. Kriterianya, paling tidak saya ada urusan dinas, acara keluarga atau sengaja berlibur di kota tersebut. Jadi seperti transit atau sekedar singgah makan tidak dihitung.

Dan ternyata saya sudah pernah ke 76 kota di 14 negara. Di Indonesia sendiri, baru 12 provinsi yang pernah saya datangi.

Di setiap kota, hampir tidak pernah terlewat ritual untuk mencicipi kuliner khasnya. Salah satu cara untuk melihat budaya lokal adalah dengan melihat tradisi masakannya. Untungnya saya termasuk orang yang gemar mencoba hal baru dan lidah saya pun cukup mudah beradaptasi akan berbagai jenis citarasa.

Continue reading


Leave a comment

Berburu Kuliner di Medan

7. Medan

Ucok Durian Medan.

Di awal tahun 2017 yang lalu saya diberi beberapa alternatif pilihan untuk dinas luar kota: Cikarang, Jakarta, Surabaya, Palembang, Bontang, dan Medan. Langsung saya memilih opsi yang terakhir, dengan pertimbangan dapat bertemu dengan kakak saya yang kedua, Mbak Eni. Kakak saya itu tinggal di Medan bersama suaminya, Mas Rai, mulai dari tahun 2001, sampai sekarang sudah dikaruniai tiga orang anak laki-laki, dua diantaranya kembar.

Sebetulnya acaranya di Pangkalan Brandan. Namun karena hanya dua jam perjalanan darat, saya memutuskan untuk menginap di Medan saja. Datang Jum’at malam, acara hari Senin, dan Selasa pagi kembali ke Bandung.

“Mau jalan-jalan kemana di Medan”, Tanya mbak Eni.

Continue reading


Leave a comment

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Di kampung halaman saya, setiap kali Lebaran tiba, kami punya sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan, mungkin ratusan tahun. Setelah sholat Idul Fitri, alih-alih berlebaran ke saudara-saudaranya, orang-orang mengunjungi tetangga-tetangga terdekatnya terlebih dahulu. Saya yakin, ritual yang semacam ini tidak hanya di Semboro, Jember. Melainkan pastilah banyak juga dipraktikkan di berbagai kampung di seluruh penjuru tanah air.

Begitu pula dengan keluarga saya. Sepulangnya dari sholat sunnah, biasanya kami makan lagi, karena yang dimakan sebelum berangkat sholat tidaklah terlalu mengenyangkan. Setelah itu, lengkap dengan seluruh anggota keluarga, kami berkeliling ke sekitar 15 sampai 20 rumah tetangga. Bersalam-salaman, bermaaf-maafan, dan duduk mencicipi kue yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Setelah usai, barulah kami menuju rumah saudara-saudara yang jaraknya jauh dari rumah untuk bersilaturahmi.

Continue reading


Leave a comment

Teladan dari Natsir dan Yamin

Buku. M Natsir

Sumber: [1]

Baru-baru ini saya membaca biografi dua tokoh besar jaman pergerakan nasional, Mohammad Natsir dan Muhammad Yamin. Kebetulan keduanya berasal dari Minangkabau. Alih-alih menuliskan ringkasan kisah hidup mereka sesuai dengan tahun kejadian, saya lebih suka untuk menyarikan mutiara teladan kehidupan dari kedua bapak bangsa ini.

***

Tahun 1927, saat usianya 18 tahun, Mohammad Natsir pindah dari Padang ke Bandung. Di kota kembang dia bersekolah di Algemeene Middelbare School (AMS). Di masa sekarang AMS setara dengan SMA dan saat itu menjadi sekolah menengah kelas dua. Natsir yang hanya anak seorang juru tulis tidak dapat bersekolah di Hogere Burger School (HBS) yang khusus diperuntukkan untuk anak-anak Belanda, Eropa, atau elite pribumi, diantaranya adalah Soekarno dan Tirto Adhi Suryo, yang dinovelkan Pram dalam Tetralogi Buru-nya itu.

Continue reading