Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Resensi Buku Sukarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia: Bung Besar, Pengorbanan Besar

Buku Sukarno

Referensi gambar klik di sini.

Saat berkunjung ke California, Amerika Serikat, Presiden Sukarno minta diantarkan ke toko pakaian dalam. Isterinya minta dibelikan BH. Ternyata, Sang Pemimpin Besar Revolusi lupa berapa ukuran BH isterinya. Tentu saja di jaman itu berkomunikasi sangatlah sulit. Bung Karno tidak kehilangan akal. “Bisakah dikumpulkan ke sini semua pramuniaga, agar aku bisa menentukan ukuran mangkok daging ini?”

Setelah semua pramuniaga berbaris, presiden meneliti dengan hati-hati, sambil berkata, “Tidak, engkau terlalu kecil… oh, engkau kebesaran… ya, engkau pas sekali.” Ternyata ukurannya memang pas dengan BH isterinya (tidak disebutkan isteri yang mana).

Kecintaan Sukarno terhadap perempuan memang diakuinya sendiri dalam buku yang ditulis oleh Cindy Adams, “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Selain jumlah perempuan yang pernah dinikahinya sebanyak delapan, dia sendiri dalam banyak kesempatan tidak malu-malu mengungkapkan sifatnya yang satu ini. Continue reading


1 Comment

Mewahnya Rasa di Warung Sederhana Gubeng

Depot Sederhana 1

Rawon asli Jatim. Nasi dicampur, dengan tauge pendek mentah dan kerupuk udang. Beberapa orang (termasuk saya) suka menambahkan tempe yang disiram kuah rawon.

Walaupun belum menjelajah seperlima hamparan bumi, saya bersyukur sudah pernah ke banyak tempat, baik di mancanegara, maupun mengelilingi bumi Indonesia. Untungnya lidah saya ini cukup adaptif, sehingga rasa kuliner lokal biasanya mudah diterima. Contohnya, kuliner laut segar dengan bumbu minimalis tidak semua orang suka, saya cocok-cocok saja. Isteri saya sangat tidak suka Ayran, minuman khas Turki dari Yoghurt ditambah garam, saya malah gemar.

Sifat adaptif saya ini malah membuat beberapa gaya kuliner asli Jatim menjadi kurang cocok.  Contohnya, saat ini saya lebih suka lalapan mentah ala Sunda dibandingkan yang direbus seperti di Jember. Sate kambing juga lebih suka yang bumbu kecap ala Jateng dibandingkan bumbu kacang khas Madura. Kalau diperingkatkan, malah sate madura sekarang posisinya agak bawah, pasalnya saya lebih gemar sate padang berkuah kental yang bagi banyak orang Jatim dihindari, karena katanya seperti umbel (Jw. ingus). Continue reading


1 Comment

Menimbang Dosen Asing di Indonesia

Menristekdikti menyatakan bahwa Perpres Nomor 20 Tahun 2018 dapat membuka peluang untuk mendatangkan dosen asing (Kompas, 17/04/18). Gagasan ini berpotensi menimbulkan polarisasi pendapat. Maka sebaiknya kita kaji terlebih dahulu secara jernih, supaya setiap pendapat mendapatkan pertimbangan yang masak.

Menilik asing

Sewaktu sekolah di Belanda dulu, di grup riset saya terdapat beberapa dosen asing. Mereka berasal dari Italia, Cina, dan Turki. Semuanya bisa mencapai jenjang tertinggi dalam karir akademik, menjadi guru besar. Termasuk pembimbing saya yang adalah orang Indonesia. Dia baru saja menjadi profesor di usia 39 tahun.

Di negara-negara maju, warga negara asing yang menjadi dosen adalah sebuah kelaziman. Bukankah selama ini kita juga bangga akan putera-puteri Indonesia yang menjadi akademisi sukses di mancanegara? Bagaimana hal ini diatur, sehingga keberadaan dosen asing dapat bersinergi dengan produktivitas penelitian negara yang bersangkutan? Continue reading


Leave a comment

Sutan Sjahrir Sang Demokrat Sosialis

Buku SyahrirKenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Mestinya kita semua bahwa baris-baris di atas adalah penggalan puisi “Karawang-Bekasi”, yang ditulis sang legenda, Chairil Anwar, di tahun 1948. Mungkin kebetulan bahwa Chairil masih terhitung kemenakan Sjahrir. Namun kalaupun tidak, si Bung Kecil, demikian ia disebut karena perawakannya yang pendek, memang di masa perang kemerdekaan amat populer di kalangan angkatan muda yang berjuang melawan Belanda yang kembali datang untuk menancapkan kembali kukunya di tanah air setelah kita merdeka. Continue reading


Leave a comment

Menikmati Rahang Tuna di Bitung

Photo 08-06-2017, 6 46 32 pm

Rahang tuna bakar. Sambal dabu-dabu dan tumis bayam.

Bulan puasa tahun lalu saya ke Bitung, untuk melaksanakan tugas dari kantor. Bitung adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Utara. Kira-kira 1,5 jam di sebelah timur Manado. Ini adalah pengalaman pertama ke Sulawesi Utara, dan kunjungan pertama ke Pulau Sulawesi dalam lima tahun terakhir.

Sebetulnya saya sempat agak menyesal, kenapa tugasnya harus di saat bulan puasa. Biasa, di setiap kunjungan ke daerah, saya ingin mencicipi kuliner lokal sebanyak-banyaknya. Saya termasuk orang yang gemar mencoba, dan cenderung tidak mudah percaya dengan apa yang orang bilang, sebelum membuktikan sendiri. Continue reading


Leave a comment

Akhlak dan Agama

Tempo hari saya membaca sebuah artikel menarik dari seorang teman yang penulis beken. Isinya menceritakan bagaimana budaya tepat waktu di Belanda adalah sebuah bawaan. Namun itu bukanlah sebuah bawaan lahir (nature), melainkan sebuah dampak dari pengajaran (nurture). Bisa juga kita sebut sebagai an experimented nature. Pemerintah, dalam hal ini melalui lembaga pendidikan (sekolah), melakukan rekayasa sosial. Supaya kelak saat dewasa, warga negara Belanda memiliki sifat yang kurang lebih sama dalam hal tijden; tepat janji, tidak ngaret, dan menghargai waktu orang lain.

Artikel tersebut mengantarkan saya ke sebuah kontradiksi yang sudah terpikirkan sejak cukup lama. Jadi begini, jumlah orang yang tidak beragama (irreligious) sudah lebih dari separuh populasi Belanda. Namun, dalam hal akhlak ke sesama manusia dan ke alam, menurut saya mereka jauh lebih beradab dibandingkan dengan warga Indonesia, yang notabene hampir semuanya adalah insan yang terikat dengan afiliasi agama. Tentu Anda boleh tidak percaya, tetapi, saya empat tahun tinggal di negeri kincir angin, dan saya punya alasan-alasan kuat akan hal ini. Continue reading


Leave a comment

Pengelolaan Sampah di Belanda

Sampah 1

Afvalbrengstation (lit. Stasiun pembuangan sampah) di Groningen, Belanda.

Salah satu hal yang ingin saya buktikan saat tiba di Belanda dulu adalah kebersihan lingkungannya. Kalau melihat di film-film, trotoar, sungai, taman, dan jalan di negara-negara maju pada umumnya bersih.

Ternyata memang betul. Semuanya bersih! Meskipun menurut kawan saya Belanda lebih “kotor” jika dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang (saya belum pernah ke sana), menurut saya tetap saja tidak ada bungkus plastik sisa makanan di jalan, sungai yang bau, apalagi tumpukan kantong sampah di sudut jalan. Continue reading