Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Mengajarkan Anak Memakai Car Seat

Kinan di car seat

Kinan di car seat

Kinan (3 tahun 4 bulan) sejak sekitar setengah tahun yang lalu kadang-kadang saya tanya.
A: Kinan, mau duduk di kursi depan?
K: Nggak mau. Di car seat aja.
A: Kenapa?
K: Di depan bahaya!
A: Kalau pakai car seat tapi di depan?
K: Nggak mau juga! Di belakang aja.

Belakangan ini, isteri saya juga sering bertanya.

B: Kinan, kalau Bunda duduk di mana?
K: Bunda di depan aja sama Ayah. Kinan sendiri di belakang.

Setiap kali naik mobil, Kinan memang duduknya di car seat, yang letaknya di jok tengah. Car seat ini kami beli sejak kembali ke tanah air di akhir tahun 2016. Alhamdulillah, dia tidak pernah berontak. Padahal, Kinan adalah anak yang sangat aktif. Bagi yang pernah ketemu, saya yakin akan membenarkan. Dia adalah tipe anak yang tidak bisa berhenti bergerak dan tidak mau diam. Setiap sudut ruangan akan dia jelajahi dan tanya. “Ini apa”, “Yang ini kenapa warnanya merah?”, “Oooh, ini buat duduk ya?”. Itu adalah beberapa dari banyak pertanyaannya. Continue reading


Leave a comment

Belajar bersama

Isteri saya bisa masak soto betawi, saya juga bisa masak kare ayam (tanpa bumbu instan). Saya bisa merakit lemari baju dan dipan, isteri saya juga bisa merakit rak buku (dari kayu). Saya bisa benerin kelistrikan rumah dan ganti ban mobil, isteri saya juga bisa betulin kran bak cuci piring dan dudukan shower. Isteri saya tiap malam bacakan buku sebelum anak kami tidur, saya juga sering cebokin setiap kali Kinan selesai BAB.

Di jaman sekarang, menurut saya bukan masanya lagi sebagian jenis pekerjaan rumah tangga itu terlalu di-stereotipkan ke perempuan/laki-laki. Semua bisa dibagi dengan rata. Saling bantu membantu. Continue reading


1 Comment

Obrolan dengan Istri

Obrolan dengan istri waktu akhir pekan:

Kalau dikasih umur panjang, saya tidak mau kelak tinggal bersama anak-anak. Lebih baik hidup berdua dengan istri saja sampai tua. Kami tidak mau merepotkan orang lain.

Saya ingin sampai tua seperti Bapak, sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain, walaupun itu ke anak dan istri sendiri. Kalau ada urusan dinas, saya lebih suka pergi dan pulang sendiri ke/dari stasiun/bandara/pool travel, toh taksi/uber/gojek ada banyak. Maka jangan tersinggung kalau saya tidak mau diambilkan nasi atau disiapkan baju. Saya tidak mengawini kamu supaya saya bisa mendapatkan layanan semacam itu. Jangan merasa rikuh juga kalau setelah makan saya ikut membereskan piring kotor, itu sudah sewajarnya dalam kehidupan suami istri yang egaliter (sama rata).

Continue reading


Leave a comment

Tetap Prima Melayani Negeri Walau Terpisah 14.000 km

Rumah yang bisa terbangun berkat pelayanan BNI yang prima.

Rumah yang bisa terbangun berkat pelayanan BNI yang prima.

Rasanya hampir putus asa saat itu. Impian sejak dulu untuk memiliki rumah sendiri kelihatannya bakal sirna seketika. Di saat kontraktor sudah sepakat dengan harga, saya terkendala untuk mengirim dananya. Uang sebesar 250 juta rupiah sudah tersedia di rekening. Namun, saat itu banyak hambatan teknis yang membuat dana tersebut sulit untuk terkirim. Padahal, tanpa adanya uang, kontraktor bisa membatalkan kesepakatan. Bukan cuma kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kontraktor berkualitas dengan harga borongan yang murah, saya pun bisa dianggap telah mempermainkan mereka, sehingga kelak sulit untuk mendapatkan kepercayaan lagi.

Kendala jarak

Saat itu, di bulan Mei 2015, saya memang sedang berada di Belanda. Sejak akhir tahun 2012 saya bersama istri tinggal di negeri kincir angin, tepatnya di kota Groningen. Saya dikirim oleh perguruan tinggi tempat saya bekerja untuk tugas belajar program doktoral. Selama itu, rekening BNI saya tetap aktif, karena sebagai seorang PNS, saya tetap mendapatkan kiriman gaji setiap bulannya.

Bukannya bermaksud untuk menyombongkan diri, sejak awal bekerja di tahun 2011, saya jarang sekali mengurus rekening di BNI. Pasalnya, gaji dan berbagai honor dosen yang terkirim kesitu selama ini sengaja saya perlakukan sebagai “uang mati”. Bukannya tidak perlu uang, justru dana di BNI saya persiapkan sebagai tabungan, yang hanya boleh dipakai kalau keadaan amat mendesak. Artinya, saya harus bisa disiplin untuk mencukupkan kebutuhan dari sumber pendapatan yang lain, misalnya dari proyek konsultansi, investasi, atau honor menulis di media.

Continue reading


1 Comment

Pentingnya Zakat dan Shodaqoh

Pagi ini terjadi diskusi yang cukup seru tentang besaran zakat dan shodaqoh di grup BBM alumni SMP. Diskusi ini membuat saya jadi merenungkan beberapa hal.

Saya tidak bermaksud untuk riya’. Di keluarga, kami selalu diajarkan untuk membagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan. Mas Hari yang paling banyak mencontohkan (baca: Anak sulung yang ideal). Selayaknya orang Jawa, saya tidak pernah secara langsung diberitahu harus begini-begitu. Hikmah kehidupan diberikan secara implisit dan harus dipelajari sendiri. Dari kecil saya sering sekali melihat Mas Hari, Mbak Eni, dan orangtua datang ke saudara-saudara dan tetangga-tetangga yang tidak mampu. Mereka silaturahim sekaligus memberikan sedikit uang, sebagai bagian dari zakat dan shodaqoh.

Kejadian-kejadian itu terekam baik di otak saya. Ketika sudah besar, saya pun berusaha mencontoh. Penghasilan saya sebagai seorang dosen itu tidak menentu seperti pekerja kantoran yang lain. Selain gaji yang datang tiap bulan, kadang turun honor dari proyek konsultansi, riset penelitian, atau honor saat diundang menjadi narasumber di kantor pemerintah. Setiap kali dapat uang, saya langsung potong minimal 2,5%. Uang perjalanan (SPPD) pun saya potong. Tidak lupa juga saat investasi saya berupa sapi, kambing, ikan gurame, dan angkot menghasilkan uang, langsung saya sisihkan alokasi untuk zakat. Supaya tenang dan tidak tercecer.

Continue reading


Leave a comment

Perpustakaan Keluarga dan Budaya Literasi

Beberapa waktu yang lalu saya membuat basis data kecil-kecilan untuk mencatat buku saya, Intan, dan Kinan. Sebetulnya ini sudah dirintis sejak 2 tahunan yang lalu. Latar belakang proyek kecil ini cukup sederhana. Dulu waktu kecil, banyak buku dan komik saya yang hilang setelah dipinjam teman-teman. Jika tercatat dengan baik, hilangnya buku dapat diminimasi.

Basis data ini sederhana saja. Hanya berupa catatan menggunakan Google Spreadsheet. Berikut tautan dan contohnya.

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1RtkgDB8Z1q9y7lq11Im_PAVfliObQMM3swGQKhuWFrw/edit#gid=846508825

Basis data perpustakaan.

Basis data perpustakaan.

Continue reading


6 Comments

Anak sulung yang ideal

Bu. Uang yang saya keluarkan untuk biaya pendidikan adik-adik itu memang rejeki mereka. Hanya, Allah menitipkannya lewat saya.

Selain Rasullah SAW yang merupakan tokoh panutan abadi, saya ingin Kinan menjadi anak sulung seperti mas Hari, pakdhe-nya, kakak pertama saya.

Bapak dari dulu sering bilang, untuk bisa berhasil dalam mendidik anak, perlu syarat berupa tiga hal; orang tua yang punya visi, program pendidikan yang bagus (dan dana yang cukup), serta anak yang mau diajak bekerja sama (kooperatif). Bapak juga sering menekankan, bahwa dia dan Ibu beruntung memiliki mas Hari sebagai anak pertama. Tidak hanya berhasil meluluskan mas Hari sebagai seorang sarjana, tetapi dia sebagai anak sulung juga ikut membimbing adik-adiknya, sehingga kami semua bisa mengikuti jejaknya. Sebuah prestasi besar bagi Bapak dan Ibu, yang hanya lulusan SD dan tidak memiliki modal apa-apa. Baca: Pendidikan yang mengubah segalanya.

Saya tidak pernah iri dengan pujian itu, karena memang tidak berlebihan. Buat saya, mas Hari adalah sedikit manusia langka yang jejaknya patut dicontoh.

Mas Hari lahir di tahun keempat pernikahan Bapak dan Ibu. Sebetulnya dia adalah anak kedua, kalau mas Sugeng tidak meninggal saat masih berumur 3 bulan. Kondisi finansial Bapak dan Ibu ketika itu masih sangat memprihatinkan. Meskipun tidak berpendidikan, Bapak kami kemandiriannya tinggi. Tidak mau dia tinggal serumah dengan Kakek dan Nenek.

Bapak tidak ingin merepotkan orangtuanya yang sudah tua. Dia tahu, kalau masih tinggal dekat-dekat, mereka bakal sering mengirimi bahan makanan untuknya. Bapak pun lebih memilih untuk mendirikan gubuk bambu sederhananya di tanah milik saudara, yang lokasinya agak jauh dari orangtuanya. Keputusan semacam ini, sangat tidak lazim bagi keluarga Jawa di tahun 1960an. Apalagi bagi mereka yang tinggal di kampung.

Di gubuk bambu itu mas Hari lahir. Tuhan memberinya kesehatan, walaupun asupan gizinya sangat minim. Jangankan susu formula, air tajin belum tentu bisa diberikan. Pasalnya, sampai lima tahunan usia pernikahannya, Bapak dan Ibu lebih sering mampu beli gaplek dibandingkan beras. Continue reading