Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Perpustakaan Keluarga dan Budaya Literasi

Beberapa waktu yang lalu saya membuat basis data kecil-kecilan untuk mencatat buku saya, Intan, dan Kinan. Sebetulnya ini sudah dirintis sejak 2 tahunan yang lalu. Latar belakang proyek kecil ini cukup sederhana. Dulu waktu kecil, banyak buku dan komik saya yang hilang setelah dipinjam teman-teman. Jika tercatat dengan baik, hilangnya buku dapat diminimasi.

Basis data ini sederhana saja. Hanya berupa catatan menggunakan Google Spreadsheet. Berikut tautan dan contohnya.

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1RtkgDB8Z1q9y7lq11Im_PAVfliObQMM3swGQKhuWFrw/edit#gid=846508825

Basis data perpustakaan.

Basis data perpustakaan.

Continue reading


8 Comments

Anak sulung yang ideal

Bu. Uang yang saya keluarkan untuk biaya pendidikan adik-adik itu memang rejeki mereka. Hanya, Allah menitipkannya lewat saya.

Selain Rasullah SAW yang merupakan tokoh panutan abadi, saya ingin Kinan menjadi anak sulung seperti mas Hari, pakdhe-nya, kakak pertama saya.

Bapak dari dulu sering bilang, untuk bisa berhasil dalam mendidik anak, perlu syarat berupa tiga hal; orang tua yang punya visi, program pendidikan yang bagus (dan dana yang cukup), serta anak yang mau diajak bekerja sama (kooperatif). Bapak juga sering menekankan, bahwa dia dan Ibu beruntung memiliki mas Hari sebagai anak pertama. Tidak hanya berhasil meluluskan mas Hari sebagai seorang sarjana, tetapi dia sebagai anak sulung juga ikut membimbing adik-adiknya, sehingga kami semua bisa mengikuti jejaknya. Sebuah prestasi besar bagi Bapak dan Ibu, yang hanya lulusan SD dan tidak memiliki modal apa-apa. Baca: Pendidikan yang mengubah segalanya.

Saya tidak pernah iri dengan pujian itu, karena memang tidak berlebihan. Buat saya, mas Hari adalah sedikit manusia langka yang jejaknya patut dicontoh.

Mas Hari lahir di tahun keempat pernikahan Bapak dan Ibu. Sebetulnya dia adalah anak kedua, kalau mas Sugeng tidak meninggal saat masih berumur 3 bulan. Kondisi finansial Bapak dan Ibu ketika itu masih sangat memprihatinkan. Meskipun tidak berpendidikan, Bapak kami kemandiriannya tinggi. Tidak mau dia tinggal serumah dengan Kakek dan Nenek.

Bapak tidak ingin merepotkan orangtuanya yang sudah tua. Dia tahu, kalau masih tinggal dekat-dekat, mereka bakal sering mengirimi bahan makanan untuknya. Bapak pun lebih memilih untuk mendirikan gubuk bambu sederhananya di tanah milik saudara, yang lokasinya agak jauh dari orangtuanya. Keputusan semacam ini, sangat tidak lazim bagi keluarga Jawa di tahun 1960an. Apalagi bagi mereka yang tinggal di kampung.

Di gubuk bambu itu mas Hari lahir. Tuhan memberinya kesehatan, walaupun asupan gizinya sangat minim. Jangankan susu formula, air tajin belum tentu bisa diberikan. Pasalnya, sampai lima tahunan usia pernikahannya, Bapak dan Ibu lebih sering mampu beli gaplek dibandingkan beras. Continue reading


Leave a comment

Lelaki dan Memasak

Saya dan bebek yang beratnya hampir 4 kg. Lebih berat dari Kinan waktu baru lahir!

Saya dan bebek yang beratnya hampir 4 kg. Lebih berat dari Kinan waktu baru lahir!

Anda pasti tidak percaya kalau saya bisa masak. Jangankan Anda, saya sendiri juga tidak percaya kok, hihihi. Alkisah, dulu saya mengira kalau bikin ayam goreng itu tinggal potong ayam, dicuci, terus dicemplungin ke minyak panas. Atau setidaknya cukup dicelupin ke bumbu cair seperti kalau mau goreng tempe/tahu. Habisnya, waktu masih kuliah saya sebagai anak kos sering makan di warung pecel lele. Disitu saya lihat mas Topik hanya mengambil potongan ayam, dicemplungin ke minyak, dan 15 menit kemudian ayam goreng tersaji. Ternyata asumsi saya itu salah besar.

Gimana mau bisa masak? Dari kecil tidak pernah ke dapur. Untuk apa juga. Di rumah Ibu selalu masak. Waktu kuliah apa lagi, tinggal pilih mau makan apa.

Ketika datang ke Belanda di bulan Desember 2012, awalnya makan masih mengandalkan bekal dari Indonesia. Kerupuk paru, gorengan tempe, abon, dll. Saat persediaan mulai habis, barulah terpaksa harus masak. Continue reading


Leave a comment

Jujur Itu Mujur

Waktu menelepon Ibu pagi ini, salah satu pesan beliau adalah supaya saya tidak korupsi. Mungkin karena tahu saya PNS. Tetapi sebetulnya ajaran supaya tidak berbuat curang ini sudah ditanamkan sejak lama. Orang tua kami sering menasehati, walaupun kami berasal dari keluarga tidak mampu dan dari desa, perbuatan curang sekecil apa pun harus dihindari. Beberapa contohnya: Continue reading


2 Comments

Mengelola dan merencanakan keuangan pribadi

Menjelang akhir tahun 2009, saya berkumpul bersama keluarga di Jember untuk merayakan Idul Adha. Suatu momen yang langka, karena selama kuliah S-1 dari bulan Agustus 2004 sampai wisuda bulan April 2009, saya tidak pernah pulang saat lebaran kurban. Selain pertimbangan ongkos transportasi, biasanya juga tidak ada libur panjang di kampus. Namun, ketika itu saya sudah memulai program S-2. Selain itu, saya juga sudah mempunyai penghasilan sendiri dari hasil kerja sebagai asisten peneliti dan pengajar di sebuah bimbingan belajar. Kombinasi adanya uang dan program magister yang tidak terlalu sibuk membuat saya ketika itu memutuskan untuk pulang di saat lebaran haji yang ketika itu jatuh di bulan Nopember. Continue reading


2 Comments

Menjadi A Full Time Mother

The love of my life

The love of my live

Sewaktu masih bujangan, saya pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang teman. Seperti sewajarnya obrolan para mahasiswa, cepat atau lambat topik diskusi menyerempet ke masalah perempuan. Tetapi ketika itu obrolan kami sedikit bermutu.

Teman saya bertanya, kriteria perempuan seperti apakah yang kelak ingin saya jadikan sebagai seorang istri? Continue reading


7 Comments

Desain rumah memanjang ke samping, cerita rumah pertama

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. Sejak dua bulan yang lalu pembangunan rumah kami di Bandung telah dimulai. Ini adalah rumah pertama kami. Sebetulnya rencana awal adalah kami baru mulai menyicil rumah nanti setelah selesai S-3 dan kembali ke tanah air, berarti sekitar awal 2017. Sebelum berangkat ke Belanda di akhir tahun 2012, saya dan Intan menggunakan tabungan yang kami miliki untuk membeli dua unit angkutan kota (angkot). Angkot jurusan Ciwastra – Gasibu (no. 09) tersebut dikelola oleh Ibu mertua di Bandung yang memang sudah berpengalaman dalam bisnis ini. Daripada menyimpan uang di bank dan termakan inflasi, mending uang diinvestasikan. Bisa menghasilkan uang per bulan dengan jumlah lumayan, selain itu, angkot nanti juga bisa dijual kembali. Continue reading