Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB


Leave a comment

Merindukan pelayanan kesehatan di Belanda

Kinan di UMCG

Kinan di UMCG, salah satu rumah sakit di Groningen.

Empat tahun tinggal di negeri kincir angin, satu kalimat yang bisa mendeksripsikan pelayanan kesehatan disana adalah: “Pelayanan kesehatan di Belanda itu (strict) satu pintu.”

Karena selama di Belanda, anak saya Kinan hampir 100 kali bertemu dokter, saya cukup punya pengalaman untuk bercerita.

Di Belanda, seorang pasien tidak bisa serta merta datang ke dokter untuk diperiksa. Harus bikin janji dulu dengan dokter keluarga (huisarts/General Practitioner). GP ini kira-kira mirip dengan dokter umum, walaupun tidak setara, karena di Belanda, GP adalah salah satu jalur spesialis.

Tanpa adanya janji, pasien bakal ditolak dokter. Jangan kaget kalaupun Anda sudah berhari-hari meriang, batuk pilek, atau muntah-muntah, janji ketemu dokter baru dibikinkan 2-5 hari kemudian. Continue reading


7 Comments

Dosen Pindah Antaruniversitas, Mungkinkah?

Sumber: [2]

Sumber: [2]

Wacana bahwa sebaiknya pemerintah bisa menjembatani perpindahan dosen antaruniversitas mulai digulirkan oleh beberapa kalangan, salah satunya dalam artikel berikut ini. Meniru praktik serupa di negara-negara maju, banyak dampak positif yang bisa diambil dengan skema ini; diantaranya adalah pemerataan distribusi keahlian dosen, kompetisi yang lebih terbuka, dan egaliterianisme dalam kehidupan kampus. Tulisan ini akan menjawab apakah gagasan tersebut mungkin untuk diterapkan di dunia pendidikan tinggi Indonesia di saat ini.

Pasar bebas dosen

Mobilitas antaruniversitas jelas banyak manfaatnya. Namun, penting untuk dipahami bahwa perpindahan dosen bukanlah sesuatu yang dikendalikan sepenuhnya oleh regulator. Di negara-negara yang pendidikan tingginya maju, dosen pindah universitas semata mengikuti pasar bebas, dimana universitas mempunyai permintaan tenaga kerja, sementara dosen adalah titik-titik pasokan. Pemerintah tidak pernah membuat keputusan bahwa seorang dosen dari universitas A harus pindah ke universitas B dengan alasan apa pun. Perguruan tinggi diberi otonomi, termasuk dalam pengelolaan sumber daya manusianya.

Otonomi tersebut tercermin dari tata cara lowongan dosen baru. Sebuah universitas membuka lowongan dikarenakan dua hal; dosen yang lama berpindah kerja, atau sebuah program studi sedang berkembang sehingga memerlukan tambahan SDM. Jika lowongan di perguruan tinggi di Indonesia hanya mengenal posisi “dosen”, lowongan di luar negeri akan dengan spesifik menyebutkan jabatan fungsional yang sedang dibuka, apakah itu “lecturer”, “assistant professor”, “associate professor”, atau “full professor”.

Continue reading


Leave a comment

Bagaimana Belanda Memajukan Penelitiannya

Seharusnya tidak ada perdebatan lagi bahwa kinerja penelitian kita memang masih memprihatinkan. Berdasarkan sumber-sumber yang terpercaya dari Kemristekdikti dan SCImago, sebanyak 5.000 makalah ilmiah telah diterbitkan di Indonesia pada tahun 2015. Indonesia memiliki sekitar 250.000 dosen. Dengan mengabaikan peneliti yang tersebar di berbagai lembaga penelitian dan Puslitbang Kementerian, maka rata-rata produktivitas menulis dosen hanyalah sebanyak 0,02 makalah per tahun.

Sebetulnya rendahnya produktivitas menulis ini cukup aneh. Selama studi doktoral di luar negeri, dosen-dosen kita rata-rata mampu untuk menghasilkan paling sedikit satu makalah ilmiah per tahun. Artinya, secara individual tidak ada yang salah dengan kapabilitas dosen Indonesia. Memang muncul beberapa pendapat bahwa rendahnya produktivitas menulis dikarenakan beban administrasi yang menumpuk. Namun kenyataannya, dosen-dosen senior yang tugas administrasinya relatif sudah berkurang, produktivitas artikel ilmiahnya pun tidak tinggi. Jika kemudian setelah kembali dari tugas belajar produktivitas menulis dosen menjadi mandek, kemungkinan kesalahan ada di sistem pengelolaan penelitian.

Sebagai kaum terdidik, dosen selalu bekerja berbasiskan metodologi. Artinya, jika semua tahapan diikuti dengan benar, hasil yang diharapkan bakal tidak terlalu jauh melenceng dengan yang diklaim oleh si pembuat metodologi. Begitu pula untuk kasus ini. Tulisan ini ditujukan untuk membahas sebuah “metodologi” pengelolaan penelitian yang mengacu kepada dunia pendidikan tinggi di negeri Belanda. Walaupun pasti ada variasinya, secara umum kaidah-kaidah pengelolaan penelitian di sana tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain yang memiliki budaya riset unggul. Continue reading


1 Comment

Dari Rumah ke Kampus

Jarak dari rumah saya ke kampus Zernike itu jauh, sekitar 8 km. Dulu memilih lokasi itu dengan berbagai pertimbangan; ketersediaan, harga, ketenangan lingkungan, dan fasilitas di dekat rumah. Untuk faktor yang terakhir, ternyata tinggal di Lewenborg itu pilihan tepat. Selain winkelcentrum (pusat pertokoan), di dekat rumah juga dekat dengan dokter, apotek, dan posyandu. Selain itu, transportasi umum ke UMCG (rumah sakit) juga langsung, cukup 17 menit saja. Mengingat Kinan sering kontrol ke rumah sakit, ini cukup membantu.

Overloop. Jalan di dekat Danau Kardinge.

Overloop. Jalan di dekat Danau Kardinge.

Continue reading


Leave a comment

Kemana Posyandu Kita?

Kinan di Consultatiebureau

Kinan di Consultatiebureau

Di negara maju seperti Belanda, yang mana pelayanan kesehatannya diganjar sebagai yang terbaik oleh Euro Health Consumer Index (EHCI), pemantauan tumbuh kembang anak adalah hal yang mudah, murah, dan menyenangkan bagi setiap orangtua. Di setiap wijk (setara dengan rukun warga), pemerintah telah menyediakan consultatiebureau (CB), sebuah lembaga yang secara fungsional mirip dengan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

Beberapa hari setelah kelahiran, perawat dari CB akan datang ke rumah untuk melakukan wawancara. Selanjutnya anak akan secara otomatis dijadwalkan kontrol rutin di CB pada usia 4 minggu, 8 minggu, 3 bulan, dan seterusnya sampai usia 3 tahun 9 bulan. Setiap kali kontrol, dokter CB memantau perkembangan berat dan tinggi badan, kemampuan motorik, sampai dengan kemampuan bicara. Imunisasi juga dijadwalkan secara rutin di CB. Continue reading


6 Comments

Mengintip Pelayanan Kesehatan di Negeri Belanda

Kinan waktu tes pendengaran di KNO (THT) rumah sakit

Kinan waktu tes pendengaran di KNO (THT) rumah sakit

Setelah tiga tahun tinggal di Belanda, dan terutama setahun terakhir intensif ikhtiar mengobati ichthyosis yang diderita Kinan, saya mengamati bahwa terdapat perbedaan signifikan antara antara pelayanan kesehatan di Indonesia dengan negeri tanah rendah. Secara umum, tentu kualitas pelayanan kesehatan di Belanda lebih unggul.

Oiya, saya tidak punya latar belakang pendidikan dan pekerjaan di bidang kesehatan. Jadi, mohon maaf jika pembahasannya tidak mendalam dan banyak kesalahan.

Seperti galibnya negara maju, Belanda menyadari bahwa kesehatan adalah salah satu wujud pelayanan publik yang terpenting. Dua yang lain adalah pendidikan dan transportasi umum. Maka, negeri yang hanya seukuran Provinsi Jawa Timur ini berusaha dengan serius untuk dapat menjamin kualitas kesehatan yang tinggi bagi 16 juta jiwa penduduknya.

Continue reading


5 Comments

Surat-menyurat, kuno tapi bermanfaat

Ini adalah surat pemberitahuan dari rumah sakit bahwa anak kami, Kinan, akan kontrol dengan (asisten) dokter spesialis mata di rumah sakit satu bulan lagi. Karena penyakitnya, dia secara rutin diperiksa oleh dokter di rumah sakit. Alhamdulillah Universitair Medisch Centrum Groningen (UMCG) memberikan pelayanan yang amat baik. Termasuk dalam hal informasi ke pasien.

Surat dari UMCG untuk Kinan

Surat dari UMCG untuk Kinan

Continue reading