Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Kebab di Belanda

Kapsalon & Durum

Durum dan kapsalon

Tulisan ini sudah direncanakan lama sekali. Gambar-gambarnya saja diambil mungkin sudah lebih dari empat tahun yang lalu. Apa daya, rasa malas dan ketertarikan untuk menulis yang lain mengalahkan motivasi untuk menulis kuliner ini.

Aneh juga kalau dipikir. Padahal, selama tinggal di Belanda, kebab adalah salah satu makanan favorit. Kepopuleran kebab sepertinya berlaku universal di kalangan pelajar dari Indonesia. Selain rasanya yang nikmat, kegemaran teman-teman bersumber dari kehalalannya. Walaupun sebetulnya, hal ini tidak pernah terbukti dengan pasti. Saya tidak ingat ada label halal di warung-warung kebab. Di beberapa gerai makanan cepat saji seperti wok (identik dengan makanan Cina), justru malah ada label halalnya. Continue reading


1 Comment

Kabar dari dokter genetika

Saya masih dan selalu kagum dengan pelayanan kesehatan di negeri Belanda. Rigid, prosedural, dan tidak memfasilitasi pasien manja. Namun tulus dan sungguh-sungguh dalam melayani.

Seperti diketahui, anak kami, Kinan lahir di Groningen, Belanda, dengan penyakit yang bernama ichthyosis. Ini merupakan penyakit genetik bawaan dengan peluang hanya 1 per 600.000 kelahiran yang sampai saat ini seluruh dokter dan para ahli di dunia belum menemukan obatnya. Penyakit ini membuat kulit Kinan mengelupas lebih cepat dari orang normal, dan selalu kering. Seperti banyak congenital disease, ichthyosis bakal berlangsung seumur hidup. Kinan bisa terkena penyakit ini karena saya dan Intan sama-sama membawa gen resesif. Jadi memang sudah takdir. Karena probabilitas terbawanya gen itu independen (boleh ikut kelas saya, Teori Probabilitas, kalau mau penjelasan lebih lanjut soal ini 😄), maka di setiap kelahiran yang akan datang, peluang anak-anak kami terkena ichthyosis selalu sama, sebesar 25%. Continue reading


Leave a comment

Pasar Tradisional di Belanda

Vismarkt 1

Vismarkt dilihat dari De Korenbeurs. Di kejauhan tampak Martinitoren.

Rasanya tidak ada habisnya hal yang saya rindukan tentang Belanda. Saya rasa bukan karena aspek nostalgia, atau romantisme semata. Tetapi memang kualitas banyak aspek kehidupan di sana jauh lebih baik dari di Indonesia. Wajar kalau dikangeni.

Salah satunya adalah berbelanja di pasar. Di Indonesia saya juga sering ke pasar, paling tidak seminggu sekali. Soalnya harga untuk beberapa komoditas memang jauh lebih murah dibandingkan dengan di supermarket. Kita semua tahu, pasar di tanah air pada umumnya identik dengan kesan kotor dan tidak nyaman. Meskipun saya juga tidak terlalu mengeluh (karena memang gimana lagi), tetap saja rindu dengan pasar-pasar di Belanda yang bersih dan menyenangkan. Continue reading


Leave a comment

Merindukan pelayanan kesehatan di Belanda

Kinan di UMCG

Kinan di UMCG, salah satu rumah sakit di Groningen.

Empat tahun tinggal di negeri kincir angin, satu kalimat yang bisa mendeksripsikan pelayanan kesehatan disana adalah: “Pelayanan kesehatan di Belanda itu (strict) satu pintu.”

Karena selama di Belanda, anak saya Kinan hampir 100 kali bertemu dokter, saya cukup punya pengalaman untuk bercerita.

Di Belanda, seorang pasien tidak bisa serta merta datang ke dokter untuk diperiksa. Harus bikin janji dulu dengan dokter keluarga (huisarts/General Practitioner). GP ini kira-kira mirip dengan dokter umum, walaupun tidak setara, karena di Belanda, GP adalah salah satu jalur spesialis.

Tanpa adanya janji, pasien bakal ditolak dokter. Jangan kaget kalaupun Anda sudah berhari-hari meriang, batuk pilek, atau muntah-muntah, janji ketemu dokter baru dibikinkan 2-5 hari kemudian. Continue reading


10 Comments

Dosen Pindah Antaruniversitas, Mungkinkah?

Sumber: [2]

Sumber: [2]

Wacana bahwa sebaiknya pemerintah bisa menjembatani perpindahan dosen antaruniversitas mulai digulirkan oleh beberapa kalangan, salah satunya dalam artikel berikut ini. Meniru praktik serupa di negara-negara maju, banyak dampak positif yang bisa diambil dengan skema ini; diantaranya adalah pemerataan distribusi keahlian dosen, kompetisi yang lebih terbuka, dan egaliterianisme dalam kehidupan kampus. Tulisan ini akan menjawab apakah gagasan tersebut mungkin untuk diterapkan di dunia pendidikan tinggi Indonesia di saat ini.

Pasar bebas dosen

Mobilitas antaruniversitas jelas banyak manfaatnya. Namun, penting untuk dipahami bahwa perpindahan dosen bukanlah sesuatu yang dikendalikan sepenuhnya oleh regulator. Di negara-negara yang pendidikan tingginya maju, dosen pindah universitas semata mengikuti pasar bebas, dimana universitas mempunyai permintaan tenaga kerja, sementara dosen adalah titik-titik pasokan. Pemerintah tidak pernah membuat keputusan bahwa seorang dosen dari universitas A harus pindah ke universitas B dengan alasan apa pun. Perguruan tinggi diberi otonomi, termasuk dalam pengelolaan sumber daya manusianya.

Otonomi tersebut tercermin dari tata cara lowongan dosen baru. Sebuah universitas membuka lowongan dikarenakan dua hal; dosen yang lama berpindah kerja, atau sebuah program studi sedang berkembang sehingga memerlukan tambahan SDM. Jika lowongan di perguruan tinggi di Indonesia hanya mengenal posisi “dosen”, lowongan di luar negeri akan dengan spesifik menyebutkan jabatan fungsional yang sedang dibuka, apakah itu “lecturer”, “assistant professor”, “associate professor”, atau “full professor”.

Continue reading


Leave a comment

Bagaimana Belanda Memajukan Penelitiannya

Seharusnya tidak ada perdebatan lagi bahwa kinerja penelitian kita memang masih memprihatinkan. Berdasarkan sumber-sumber yang terpercaya dari Kemristekdikti dan SCImago, sebanyak 5.000 makalah ilmiah telah diterbitkan di Indonesia pada tahun 2015. Indonesia memiliki sekitar 250.000 dosen. Dengan mengabaikan peneliti yang tersebar di berbagai lembaga penelitian dan Puslitbang Kementerian, maka rata-rata produktivitas menulis dosen hanyalah sebanyak 0,02 makalah per tahun.

Sebetulnya rendahnya produktivitas menulis ini cukup aneh. Selama studi doktoral di luar negeri, dosen-dosen kita rata-rata mampu untuk menghasilkan paling sedikit satu makalah ilmiah per tahun. Artinya, secara individual tidak ada yang salah dengan kapabilitas dosen Indonesia. Memang muncul beberapa pendapat bahwa rendahnya produktivitas menulis dikarenakan beban administrasi yang menumpuk. Namun kenyataannya, dosen-dosen senior yang tugas administrasinya relatif sudah berkurang, produktivitas artikel ilmiahnya pun tidak tinggi. Jika kemudian setelah kembali dari tugas belajar produktivitas menulis dosen menjadi mandek, kemungkinan kesalahan ada di sistem pengelolaan penelitian.

Sebagai kaum terdidik, dosen selalu bekerja berbasiskan metodologi. Artinya, jika semua tahapan diikuti dengan benar, hasil yang diharapkan bakal tidak terlalu jauh melenceng dengan yang diklaim oleh si pembuat metodologi. Begitu pula untuk kasus ini. Tulisan ini ditujukan untuk membahas sebuah “metodologi” pengelolaan penelitian yang mengacu kepada dunia pendidikan tinggi di negeri Belanda. Walaupun pasti ada variasinya, secara umum kaidah-kaidah pengelolaan penelitian di sana tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain yang memiliki budaya riset unggul. Continue reading


1 Comment

Dari Rumah ke Kampus

Jarak dari rumah saya ke kampus Zernike itu jauh, sekitar 8 km. Dulu memilih lokasi itu dengan berbagai pertimbangan; ketersediaan, harga, ketenangan lingkungan, dan fasilitas di dekat rumah. Untuk faktor yang terakhir, ternyata tinggal di Lewenborg itu pilihan tepat. Selain winkelcentrum (pusat pertokoan), di dekat rumah juga dekat dengan dokter, apotek, dan posyandu. Selain itu, transportasi umum ke UMCG (rumah sakit) juga langsung, cukup 17 menit saja. Mengingat Kinan sering kontrol ke rumah sakit, ini cukup membantu.

Overloop. Jalan di dekat Danau Kardinge.

Overloop. Jalan di dekat Danau Kardinge.

Continue reading