Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


1 Comment

Penikmat Bisnis Digital

Era digital telah memunculkan berbagai pencapaian yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Hanya dalam tempo kurang dari tiga tahun sejak diluncurkan, GO-JEK berhasil menarik minat 900 ribu orang untuk menjadi pengemudi [1]. Hebatnya lagi, perusahaan teknologi berbasiskan daring ini tidak memiliki satu motor dan mobil pun. Jika ditambah dengan mitra berupa penjual makanan, pemijat, sampai dengan montir, tenaga kerja yang diserap oleh GO-JEK bisa lebih dari satu juta jiwa.

Cerita yang sama terjadi untuk Tokopedia. Berawal dari sebuah forum jual beli, saat ini e­-commerce terbesar di Indonesia ini memiliki lebih dari dua juta pelapak, dengan jumlah barang yang dijual mencapai hampir sepuluh juta unit [2]. Belum lagi jika kita membicarakan e-commerce lain yang sejenis. Continue reading


Leave a comment

Kolonialisasi Hindia Belanda dan Kita

Saya membaca sebuah artikel yang sangat bagus dari Ignas Kleden, berjudul “Sejarah Kolonial dan Kita“. Artikel ini terbit di Kompas cetak, tanggal 10 Maret 2018. Pembahasan di sini panjang, namun menurut saya yang paling menarik adalah di bagian terakhir. Saya tuliskan kembali di sini, dan semoga pembaca dapat mngambil hikmahnya.

***

Dalam refleksi tentang Hindia Belanda tampak bahwa Belanda juga menerapkan beberapa pola kolonialisasi yang dipertahankannya selama tiga abad. Pertama, sebagai negara kecil dia tak punya kemampuan militer cukup untuk menaklukkan semua wilayah di Nusantara yang diincarnya. Jalan yang ditempuh adalah mencoba mengadu domba satu kerajaan dengan kerajaan lain, atau pihak-pihak yang bersaing dalam satu kerajaan yang sama. Perang dilakukan secara terpaksa kalau ada perlawanan besar dari pihak penduduk pribumi sepreti Perang Diponegoro dan Perang Aceh.

Continue reading


Leave a comment

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Di kampung halaman saya, setiap kali Lebaran tiba, kami punya sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan, mungkin ratusan tahun. Setelah sholat Idul Fitri, alih-alih berlebaran ke saudara-saudaranya, orang-orang mengunjungi tetangga-tetangga terdekatnya terlebih dahulu. Saya yakin, ritual yang semacam ini tidak hanya di Semboro, Jember. Melainkan pastilah banyak juga dipraktikkan di berbagai kampung di seluruh penjuru tanah air.

Begitu pula dengan keluarga saya. Sepulangnya dari sholat sunnah, biasanya kami makan lagi, karena yang dimakan sebelum berangkat sholat tidaklah terlalu mengenyangkan. Setelah itu, lengkap dengan seluruh anggota keluarga, kami berkeliling ke sekitar 15 sampai 20 rumah tetangga. Bersalam-salaman, bermaaf-maafan, dan duduk mencicipi kue yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Setelah usai, barulah kami menuju rumah saudara-saudara yang jaraknya jauh dari rumah untuk bersilaturahmi.

Continue reading


Leave a comment

Mensyukuri Persatuan

Persatuan bangsa Indonesia mungkin tidak terlalu sering kita syukuri. Lahir sebagai generasi yang jauh dari masa perang kemerdekaan, dan jarang membuka sejarah, membuat persatuan kita anggap sebagai hal yang datang dengan cuma-cuma.

Selama jalan-jalan di Eropa, saya sering berpikir. Benua Eropa ini luasnya tidak beda jauh dengan Indonesia, tapi terbagi ke dalam lebih dari 50 negara.

Austria dan Hungaria hanya terpisah 4 jam perjalanan darat. Ceko dan Slovakia malah cukup ditempuh selama 3 jam. Beda bahasa, beda budaya, dan beda orientasi politik membuat empat negara yang dahulu pernah bersatu-padu itu sekarang berdiri sendiri-sendiri, dan bubarlah Kekaisaran Austria-Hungaria yang dulu megah.

Bahkan yang bahasanya sama, juga berdiri sendiri sebagai dua negara terpisah. Contohnya adalah Belanda dan Belgia yang jaraknya hanya setengah perjalanan dari Yogya ke Bandung.

Continue reading


2 Comments

Meng-Tionghoa-kan Kaum Pribumi

Beberapa waktu yang lalu saya dibuat kesal oleh bangsa saya sendiri, atau dalam bahasa sehari-hari kita sebut sebagai “kaum pribumi”. Perkaranya terjadi saat transaksi pembelian barang, dimana saya merasa kualitas sikap (attitude) dari pribumi kalah jauh dari saudara sebangsa dan setanah air, yang sering kita sebut sebagai “Cina/Tionghoa”.

Kejadian pertama adalah saat saya perlu membeli plastik pembungkus makanan. Di Bandung, pedagang-pedagang plastik banyak ditemui di Cibadak, dekat dengan alun-alun. Walaupun dari dulu Bapak saya bilang, “kalau beli sesuatu, belilah ke toko orang Cina, karena umumnya mereka tidak nggedabrus (Jawa: membual/berbohong)”, selama ini saya tidak punya preferensi. Begitu pula waktu itu, saya menuju ke sembarang toko yang parkir motornya cukup lega.

Tiba di toko, yang ternyata pemilik dan pegawainya adalah pribumi, saya bertanya apakah mereka punya plastik vacuum, dijawab ada, tapi untuk menutup plastiknya perlu mesin vacuum yang harganya paling murah dua juta rupiah. Karena memang tidak ada niat untuk membeli mesin semahal itu, spontan saya nyeletuk, “wah, mahal ya”.

Continue reading


Leave a comment

Kinerja Transportasi Semenjana Tanggung Jawab Siapa

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Sebagai warga Kota Bandung, keinginan untuk berangkat ke kantor di Jalan Ganesha dari rumah di Ciwastra, Bandung Timur secara cepat itu baru menjadi sebatas mimpi. Untuk disebut sebagai cita-cita pun masih terlalu jauh. Pasalnya, untuk menempuh jarak sekitar dua belas kilometer, dengan kendaraan pribadi saja perlu waktu minimal satu setengah jam. Itu juga jauh dari kata nyaman, harus berdesak-desakan dalam macet, dan juga panas, bagi yang tidak punya mobil. Apalagi kalau menggunakan kendaraan umum, bakal lebih tidak mengenakkan lagi.

Profil kota-kota lain juga kurang lebih sama. Ambil contoh Jakarta. Bukan hanya karena ibukota adalah tolok ukur bagi daerah-daerah lain, tugas kantor ke Jakarta yang bisa datang sebulan dua kali membuat saya cukup hafal dengan kota berhutan beton itu. Setiap orang umumnya tidak menyukai transportasi Jakarta, karena ketidakpastiannya yang tinggi. Pernah saya menempuh rute dari Pancoran ke Senayan selama dua jam. Sungguh waktu yang terbuang percuma untuk jarak tempuh kurang dari sepuluh kilometer.

Continue reading


Leave a comment

“Quo Vadis” Penelitian

Sumber: [1]

Sumber: [1]

Tahun lalu 250.000 dosen dan peneliti tanah air hanya menghasilkan 5.000 artikel ilmiah. Tidak perlu bermimpi untuk bersaing di tingkat internasional, Thailand saja publikasinya lebih dua kali lipat dari kita. Apalagi jika dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Jangan lupa juga bahwa sumber daya manusia negeri-negeri jiran tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia.

Produktivitas tahunan sebesar 0,02 artikel ilmiah per peneliti ini mengecewakan, sekaligus mengherankan. Pasalnya, dosen-dosen kita umumnya mampu menghasilkan lebih dari lima makalah ilmiah selama studi doktoralnya di luar negeri. Namun, mengapa ketika sudah kembali bertugas di tanah air, menulis satu artikel per tahun pun terkadang amat sulit?

Kesalahan pengelolaan

Jika kapabilitas individu dosen sudah terbukti memadai, mungkin kesalahan ada pada sistem pengelolaan. Untuk itu, marilah kita coba menggali bagaimana seharusnya interaksi dibangun antara tiga institusi yang bisa menentukan kinerja penelitian sebuah negara; pemerintah, universitas, dan industri.

Continue reading