Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB


Leave a comment

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Di kampung halaman saya, setiap kali Lebaran tiba, kami punya sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan, mungkin ratusan tahun. Setelah sholat Idul Fitri, alih-alih berlebaran ke saudara-saudaranya, orang-orang mengunjungi tetangga-tetangga terdekatnya terlebih dahulu. Saya yakin, ritual yang semacam ini tidak hanya di Semboro, Jember. Melainkan pastilah banyak juga dipraktikkan di berbagai kampung di seluruh penjuru tanah air.

Begitu pula dengan keluarga saya. Sepulangnya dari sholat sunnah, biasanya kami makan lagi, karena yang dimakan sebelum berangkat sholat tidaklah terlalu mengenyangkan. Setelah itu, lengkap dengan seluruh anggota keluarga, kami berkeliling ke sekitar 15 sampai 20 rumah tetangga. Bersalam-salaman, bermaaf-maafan, dan duduk mencicipi kue yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Setelah usai, barulah kami menuju rumah saudara-saudara yang jaraknya jauh dari rumah untuk bersilaturahmi.

Continue reading


Leave a comment

Mensyukuri Persatuan

Persatuan bangsa Indonesia mungkin tidak terlalu sering kita syukuri. Lahir sebagai generasi yang jauh dari masa perang kemerdekaan, dan jarang membuka sejarah, membuat persatuan kita anggap sebagai hal yang datang dengan cuma-cuma.

Selama jalan-jalan di Eropa, saya sering berpikir. Benua Eropa ini luasnya tidak beda jauh dengan Indonesia, tapi terbagi ke dalam lebih dari 50 negara.

Austria dan Hungaria hanya terpisah 4 jam perjalanan darat. Ceko dan Slovakia malah cukup ditempuh selama 3 jam. Beda bahasa, beda budaya, dan beda orientasi politik membuat empat negara yang dahulu pernah bersatu-padu itu sekarang berdiri sendiri-sendiri, dan bubarlah Kekaisaran Austria-Hungaria yang dulu megah.

Bahkan yang bahasanya sama, juga berdiri sendiri sebagai dua negara terpisah. Contohnya adalah Belanda dan Belgia yang jaraknya hanya setengah perjalanan dari Yogya ke Bandung.

Continue reading


Leave a comment

Meng-Tionghoa-kan Kaum Pribumi

Beberapa waktu yang lalu saya dibuat kesal oleh bangsa saya sendiri, atau dalam bahasa sehari-hari kita sebut sebagai “kaum pribumi”. Perkaranya terjadi saat transaksi pembelian barang, dimana saya merasa kualitas sikap (attitude) dari pribumi kalah jauh dari saudara sebangsa dan setanah air, yang sering kita sebut sebagai “Cina/Tionghoa”.

Kejadian pertama adalah saat saya perlu membeli plastik pembungkus makanan. Di Bandung, pedagang-pedagang plastik banyak ditemui di Cibadak, dekat dengan alun-alun. Walaupun dari dulu Bapak saya bilang, “kalau beli sesuatu, belilah ke toko orang Cina, karena umumnya mereka tidak nggedabrus (Jawa: membual/berbohong)”, selama ini saya tidak punya preferensi. Begitu pula waktu itu, saya menuju ke sembarang toko yang parkir motornya cukup lega.

Tiba di toko, yang ternyata pemilik dan pegawainya adalah pribumi, saya bertanya apakah mereka punya plastik vacuum, dijawab ada, tapi untuk menutup plastiknya perlu mesin vacuum yang harganya paling murah dua juta rupiah. Karena memang tidak ada niat untuk membeli mesin semahal itu, spontan saya nyeletuk, “wah, mahal ya”.

Continue reading


Leave a comment

Kinerja Transportasi Semenjana Tanggung Jawab Siapa

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Sebagai warga Kota Bandung, keinginan untuk berangkat ke kantor di Jalan Ganesha dari rumah di Ciwastra, Bandung Timur secara cepat itu baru menjadi sebatas mimpi. Untuk disebut sebagai cita-cita pun masih terlalu jauh. Pasalnya, untuk menempuh jarak sekitar dua belas kilometer, dengan kendaraan pribadi saja perlu waktu minimal satu setengah jam. Itu juga jauh dari kata nyaman, harus berdesak-desakan dalam macet, dan juga panas, bagi yang tidak punya mobil. Apalagi kalau menggunakan kendaraan umum, bakal lebih tidak mengenakkan lagi.

Profil kota-kota lain juga kurang lebih sama. Ambil contoh Jakarta. Bukan hanya karena ibukota adalah tolok ukur bagi daerah-daerah lain, tugas kantor ke Jakarta yang bisa datang sebulan dua kali membuat saya cukup hafal dengan kota berhutan beton itu. Setiap orang umumnya tidak menyukai transportasi Jakarta, karena ketidakpastiannya yang tinggi. Pernah saya menempuh rute dari Pancoran ke Senayan selama dua jam. Sungguh waktu yang terbuang percuma untuk jarak tempuh kurang dari sepuluh kilometer.

Continue reading


Leave a comment

“Quo Vadis” Penelitian

Sumber: [1]

Sumber: [1]

Tahun lalu 250.000 dosen dan peneliti tanah air hanya menghasilkan 5.000 artikel ilmiah. Tidak perlu bermimpi untuk bersaing di tingkat internasional, Thailand saja publikasinya lebih dua kali lipat dari kita. Apalagi jika dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Jangan lupa juga bahwa sumber daya manusia negeri-negeri jiran tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia.

Produktivitas tahunan sebesar 0,02 artikel ilmiah per peneliti ini mengecewakan, sekaligus mengherankan. Pasalnya, dosen-dosen kita umumnya mampu menghasilkan lebih dari lima makalah ilmiah selama studi doktoralnya di luar negeri. Namun, mengapa ketika sudah kembali bertugas di tanah air, menulis satu artikel per tahun pun terkadang amat sulit?

Kesalahan pengelolaan

Jika kapabilitas individu dosen sudah terbukti memadai, mungkin kesalahan ada pada sistem pengelolaan. Untuk itu, marilah kita coba menggali bagaimana seharusnya interaksi dibangun antara tiga institusi yang bisa menentukan kinerja penelitian sebuah negara; pemerintah, universitas, dan industri.

Continue reading


6 Comments

Generasi Membaca untuk Indonesia Jaya

Sumber: [1]

Sumber gambar: [1]

Tahukah Anda berapa rata-rata jumlah buku yang dibaca orang Indonesia? Hanya tiga judul saja per tahun, jauh di bawah negara-negara maju yang mencapai 20-30 judul. Demikian berdasarkan rilis dari Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Masih berdasarkan hasil penelitian dari PNRI, diperoleh fakta bahwa masyarakat tanah air berusia di atas sepuluh tahun yang gemar membaca hanya sebesar sepuluh persen. Sembilan puluh persen sisanya, atau lebih dari seratus lima puluh juta jiwa lebih suka menonton televisi.

Apakah Anda juga tahu, dulu di masa kolonial, berapakah rata-rata buku yang dibaca oleh seorang siswa? Menurut sastrawan Taufiq Ismail, lulusan sekolah menengah atas sebelum tahun 1930-an diwajibkan untuk membaca minimal dua puluh lima novel dan menulis seratus delapan puluh artikel selama tiga tahun masa pendidikannya. Dengan kurikulum yang menekankan budaya literasi yang tinggi, tidak mengherankan jika para pendiri bangsa memiliki kemampuan budi bahasa yang mumpuni.

Continue reading


Leave a comment

Mohammad Hatta dalam Kenangan, 12 Agustus 1902 – 12 Agustus 2016

HattaHari ini, tepat seratus empat tahun yang lalu, seorang negarawan besar dilahirkan di Bukittinggi. Terlahir sebagai Mohammad Athar, kiprahnya kelak seharum arti namanya.

Seperti banyak orang besar yang belajar kemandirian sejak dini, Hatta telah yatim sejak baru bisa merangkak. Berasal dari sebuah keluarga yang terpandang di Sumatera Barat, agama Islam dan aktivitas ekonomi perdagangan yang dikenalnya sejak kanak-kanak kelak banyak mempengaruhi pemikiran dan sikapnya. Berkat latar belakang keluarganya, ia bisa mengenyam pendidikan Belanda. Saat sekolah MULO di Padang itulah politik mulai menarik perhatiannya. Berawal dari kolom-kolom politik yang sering dibacanya di koran, Hatta menjadi bendahara di Jong Sumatranen Bond.

Lulus dari HBS tahun 1921 di Batavia, Hatta dengan dukungan biaya keluarganya yang banyak menjadi saudagar-saudagar besar di ibukota, melanjutkan pendidikan tingginya ke Rotterdam, mengambil jurusan ekonomi. Seolah sudah suratan takdir, Perhimpunan Indonesia (waktu itu masih bernama Indische Vereeniging) yang sebelumnya hanya merupakan wadah sosial untuk menyelenggarakan pesta-pesta dansa, mulai berubah haluannya di awal tahun dua puluhan. Tiga eksil politik dari Indische Partij berhasil menanamkan pentingnya kesadaran berbangsa bagi kaum intelektual muda tanah air.

Continue reading