Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


3 Comments

Meng-Tionghoa-kan Kaum Pribumi

Beberapa waktu yang lalu saya dibuat kesal oleh bangsa saya sendiri, atau dalam bahasa sehari-hari kita sebut sebagai “kaum pribumi”. Perkaranya terjadi saat transaksi pembelian barang, dimana saya merasa kualitas sikap (attitude) dari pribumi kalah jauh dari saudara sebangsa dan setanah air, yang sering kita sebut sebagai “Cina/Tionghoa”.

Kejadian pertama adalah saat saya perlu membeli plastik pembungkus makanan. Di Bandung, pedagang-pedagang plastik banyak ditemui di Cibadak, dekat dengan alun-alun. Walaupun dari dulu Bapak saya bilang, “kalau beli sesuatu, belilah ke toko orang Cina, karena umumnya mereka tidak nggedabrus (Jawa: membual/berbohong)”, selama ini saya tidak punya preferensi. Begitu pula waktu itu, saya menuju ke sembarang toko yang parkir motornya cukup lega.

Tiba di toko, yang ternyata pemilik dan pegawainya adalah pribumi, saya bertanya apakah mereka punya plastik vacuum, dijawab ada, tapi untuk menutup plastiknya perlu mesin vacuum yang harganya paling murah dua juta rupiah. Karena memang tidak ada niat untuk membeli mesin semahal itu, spontan saya nyeletuk, “wah, mahal ya”.

Continue reading


Leave a comment

Kinerja Transportasi Semenjana Tanggung Jawab Siapa

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Sebagai warga Kota Bandung, keinginan untuk berangkat ke kantor di Jalan Ganesha dari rumah di Ciwastra, Bandung Timur secara cepat itu baru menjadi sebatas mimpi. Untuk disebut sebagai cita-cita pun masih terlalu jauh. Pasalnya, untuk menempuh jarak sekitar dua belas kilometer, dengan kendaraan pribadi saja perlu waktu minimal satu setengah jam. Itu juga jauh dari kata nyaman, harus berdesak-desakan dalam macet, dan juga panas, bagi yang tidak punya mobil. Apalagi kalau menggunakan kendaraan umum, bakal lebih tidak mengenakkan lagi.

Profil kota-kota lain juga kurang lebih sama. Ambil contoh Jakarta. Bukan hanya karena ibukota adalah tolok ukur bagi daerah-daerah lain, tugas kantor ke Jakarta yang bisa datang sebulan dua kali membuat saya cukup hafal dengan kota berhutan beton itu. Setiap orang umumnya tidak menyukai transportasi Jakarta, karena ketidakpastiannya yang tinggi. Pernah saya menempuh rute dari Pancoran ke Senayan selama dua jam. Sungguh waktu yang terbuang percuma untuk jarak tempuh kurang dari sepuluh kilometer.

Continue reading


2 Comments

“Quo Vadis” Penelitian

Sumber: [1]

Sumber: [1]

Tahun lalu 250.000 dosen dan peneliti tanah air hanya menghasilkan 5.000 artikel ilmiah. Tidak perlu bermimpi untuk bersaing di tingkat internasional, Thailand saja publikasinya lebih dua kali lipat dari kita. Apalagi jika dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Jangan lupa juga bahwa sumber daya manusia negeri-negeri jiran tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia.

Produktivitas tahunan sebesar 0,02 artikel ilmiah per peneliti ini mengecewakan, sekaligus mengherankan. Pasalnya, dosen-dosen kita umumnya mampu menghasilkan lebih dari lima makalah ilmiah selama studi doktoralnya di luar negeri. Namun, mengapa ketika sudah kembali bertugas di tanah air, menulis satu artikel per tahun pun terkadang amat sulit?

Kesalahan pengelolaan

Jika kapabilitas individu dosen sudah terbukti memadai, mungkin kesalahan ada pada sistem pengelolaan. Untuk itu, marilah kita coba menggali bagaimana seharusnya interaksi dibangun antara tiga institusi yang bisa menentukan kinerja penelitian sebuah negara; pemerintah, universitas, dan industri.

Continue reading


6 Comments

Generasi Membaca untuk Indonesia Jaya

Sumber: [1]

Sumber gambar: [1]

Tahukah Anda berapa rata-rata jumlah buku yang dibaca orang Indonesia? Hanya tiga judul saja per tahun, jauh di bawah negara-negara maju yang mencapai 20-30 judul. Demikian berdasarkan rilis dari Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Masih berdasarkan hasil penelitian dari PNRI, diperoleh fakta bahwa masyarakat tanah air berusia di atas sepuluh tahun yang gemar membaca hanya sebesar sepuluh persen. Sembilan puluh persen sisanya, atau lebih dari seratus lima puluh juta jiwa lebih suka menonton televisi.

Apakah Anda juga tahu, dulu di masa kolonial, berapakah rata-rata buku yang dibaca oleh seorang siswa? Menurut sastrawan Taufiq Ismail, lulusan sekolah menengah atas sebelum tahun 1930-an diwajibkan untuk membaca minimal dua puluh lima novel dan menulis seratus delapan puluh artikel selama tiga tahun masa pendidikannya. Dengan kurikulum yang menekankan budaya literasi yang tinggi, tidak mengherankan jika para pendiri bangsa memiliki kemampuan budi bahasa yang mumpuni.

Continue reading


1 Comment

Mohammad Hatta dalam Kenangan, 12 Agustus 1902 – 12 Agustus 2016

HattaHari ini, tepat seratus empat tahun yang lalu, seorang negarawan besar dilahirkan di Bukittinggi. Terlahir sebagai Mohammad Athar, kiprahnya kelak seharum arti namanya.

Seperti banyak orang besar yang belajar kemandirian sejak dini, Hatta telah yatim sejak baru bisa merangkak. Berasal dari sebuah keluarga yang terpandang di Sumatera Barat, agama Islam dan aktivitas ekonomi perdagangan yang dikenalnya sejak kanak-kanak kelak banyak mempengaruhi pemikiran dan sikapnya. Berkat latar belakang keluarganya, ia bisa mengenyam pendidikan Belanda. Saat sekolah MULO di Padang itulah politik mulai menarik perhatiannya. Berawal dari kolom-kolom politik yang sering dibacanya di koran, Hatta menjadi bendahara di Jong Sumatranen Bond.

Lulus dari HBS tahun 1921 di Batavia, Hatta dengan dukungan biaya keluarganya yang banyak menjadi saudagar-saudagar besar di ibukota, melanjutkan pendidikan tingginya ke Rotterdam, mengambil jurusan ekonomi. Seolah sudah suratan takdir, Perhimpunan Indonesia (waktu itu masih bernama Indische Vereeniging) yang sebelumnya hanya merupakan wadah sosial untuk menyelenggarakan pesta-pesta dansa, mulai berubah haluannya di awal tahun dua puluhan. Tiga eksil politik dari Indische Partij berhasil menanamkan pentingnya kesadaran berbangsa bagi kaum intelektual muda tanah air.

Continue reading


2 Comments

Pendidikan Tanpa Mendidik

Menemukan artikel bagus di Opini Kompas (cetak) hari ini, 4 Agustus 2016. Tulisan ini panjang, tapi layak untuk dibaca dan diselami kedalaman maknanya, terutama bagi para orangtua serta penggiat dan pemerhati pendidikan. Selamat menikmati!

***

Dunia pendidikan kita sudah melenceng jauh dari orbit hakikat pendidikan sesungguhnya. Menteri silih berganti, tetapi pusat perhatiannya sama: administrasi pendidikan (anggaran, bantuan operasional sekolah, rancang bangun kurikulum, standar formal kompetensi guru, ujian nasional, dan sejenisnya).

Esensi pendidikan nyaris tak tersentuh. Paling jauh, yang dikembangkan dalam sistem persekolahan kita hanyalah “pengajaran” (onderwijs), yakni pemberian materi berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan. Mata pelajaran sarat muatan kognitif. Sukses pendidikan diukur oleh pencapaian anak dalam bidang penalaran seperti itu, seperti tecermin dalam muatan ujian nasional. Tak heran, banyak orangtua menambah jam pelajaran anaknya dengan mengikuti sejumlah kursus dalam/luar sekolah.

Bias pengajaran membuat dunia pendidikan pada umumnya mengabaikan tugas mendidik: memberikan tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Suhu pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, mengingatkan bahwa “pendidikan” (opvoeding) merupakan sesuatu yang lebih luas dan esensial daripada pengajaran. Pendidikan bermaksud “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- setingginya”.

Continue reading


10 Comments

Dosen Pindah Antaruniversitas, Mungkinkah?

Sumber: [2]

Sumber: [2]

Wacana bahwa sebaiknya pemerintah bisa menjembatani perpindahan dosen antaruniversitas mulai digulirkan oleh beberapa kalangan, salah satunya dalam artikel berikut ini. Meniru praktik serupa di negara-negara maju, banyak dampak positif yang bisa diambil dengan skema ini; diantaranya adalah pemerataan distribusi keahlian dosen, kompetisi yang lebih terbuka, dan egaliterianisme dalam kehidupan kampus. Tulisan ini akan menjawab apakah gagasan tersebut mungkin untuk diterapkan di dunia pendidikan tinggi Indonesia di saat ini.

Pasar bebas dosen

Mobilitas antaruniversitas jelas banyak manfaatnya. Namun, penting untuk dipahami bahwa perpindahan dosen bukanlah sesuatu yang dikendalikan sepenuhnya oleh regulator. Di negara-negara yang pendidikan tingginya maju, dosen pindah universitas semata mengikuti pasar bebas, dimana universitas mempunyai permintaan tenaga kerja, sementara dosen adalah titik-titik pasokan. Pemerintah tidak pernah membuat keputusan bahwa seorang dosen dari universitas A harus pindah ke universitas B dengan alasan apa pun. Perguruan tinggi diberi otonomi, termasuk dalam pengelolaan sumber daya manusianya.

Otonomi tersebut tercermin dari tata cara lowongan dosen baru. Sebuah universitas membuka lowongan dikarenakan dua hal; dosen yang lama berpindah kerja, atau sebuah program studi sedang berkembang sehingga memerlukan tambahan SDM. Jika lowongan di perguruan tinggi di Indonesia hanya mengenal posisi “dosen”, lowongan di luar negeri akan dengan spesifik menyebutkan jabatan fungsional yang sedang dibuka, apakah itu “lecturer”, “assistant professor”, “associate professor”, atau “full professor”.

Continue reading