Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Kinerja Transportasi Semenjana Tanggung Jawab Siapa

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Kemacetan di Jakarta akibat ketiadaan infrastruktur transportasi umum yang handal. Sumber gambar: [9]

Sebagai warga Kota Bandung, keinginan untuk berangkat ke kantor di Jalan Ganesha dari rumah di Ciwastra, Bandung Timur secara cepat itu baru menjadi sebatas mimpi. Untuk disebut sebagai cita-cita pun masih terlalu jauh. Pasalnya, untuk menempuh jarak sekitar dua belas kilometer, dengan kendaraan pribadi saja perlu waktu minimal satu setengah jam. Itu juga jauh dari kata nyaman, harus berdesak-desakan dalam macet, dan juga panas, bagi yang tidak punya mobil. Apalagi kalau menggunakan kendaraan umum, bakal lebih tidak mengenakkan lagi.

Profil kota-kota lain juga kurang lebih sama. Ambil contoh Jakarta. Bukan hanya karena ibukota adalah tolok ukur bagi daerah-daerah lain, tugas kantor ke Jakarta yang bisa datang sebulan dua kali membuat saya cukup hafal dengan kota berhutan beton itu. Setiap orang umumnya tidak menyukai transportasi Jakarta, karena ketidakpastiannya yang tinggi. Pernah saya menempuh rute dari Pancoran ke Senayan selama dua jam. Sungguh waktu yang terbuang percuma untuk jarak tempuh kurang dari sepuluh kilometer.

Continue reading


2 Comments

“Quo Vadis” Penelitian

Sumber: [1]

Sumber: [1]

Tahun lalu 250.000 dosen dan peneliti tanah air hanya menghasilkan 5.000 artikel ilmiah. Tidak perlu bermimpi untuk bersaing di tingkat internasional, Thailand saja publikasinya lebih dua kali lipat dari kita. Apalagi jika dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Jangan lupa juga bahwa sumber daya manusia negeri-negeri jiran tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia.

Produktivitas tahunan sebesar 0,02 artikel ilmiah per peneliti ini mengecewakan, sekaligus mengherankan. Pasalnya, dosen-dosen kita umumnya mampu menghasilkan lebih dari lima makalah ilmiah selama studi doktoralnya di luar negeri. Namun, mengapa ketika sudah kembali bertugas di tanah air, menulis satu artikel per tahun pun terkadang amat sulit?

Kesalahan pengelolaan

Jika kapabilitas individu dosen sudah terbukti memadai, mungkin kesalahan ada pada sistem pengelolaan. Untuk itu, marilah kita coba menggali bagaimana seharusnya interaksi dibangun antara tiga institusi yang bisa menentukan kinerja penelitian sebuah negara; pemerintah, universitas, dan industri.

Continue reading


6 Comments

Generasi Membaca untuk Indonesia Jaya

Sumber: [1]

Sumber gambar: [1]

Tahukah Anda berapa rata-rata jumlah buku yang dibaca orang Indonesia? Hanya tiga judul saja per tahun, jauh di bawah negara-negara maju yang mencapai 20-30 judul. Demikian berdasarkan rilis dari Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Masih berdasarkan hasil penelitian dari PNRI, diperoleh fakta bahwa masyarakat tanah air berusia di atas sepuluh tahun yang gemar membaca hanya sebesar sepuluh persen. Sembilan puluh persen sisanya, atau lebih dari seratus lima puluh juta jiwa lebih suka menonton televisi.

Apakah Anda juga tahu, dulu di masa kolonial, berapakah rata-rata buku yang dibaca oleh seorang siswa? Menurut sastrawan Taufiq Ismail, lulusan sekolah menengah atas sebelum tahun 1930-an diwajibkan untuk membaca minimal dua puluh lima novel dan menulis seratus delapan puluh artikel selama tiga tahun masa pendidikannya. Dengan kurikulum yang menekankan budaya literasi yang tinggi, tidak mengherankan jika para pendiri bangsa memiliki kemampuan budi bahasa yang mumpuni.

Continue reading


1 Comment

Mohammad Hatta dalam Kenangan, 12 Agustus 1902 – 12 Agustus 2016

HattaHari ini, tepat seratus empat tahun yang lalu, seorang negarawan besar dilahirkan di Bukittinggi. Terlahir sebagai Mohammad Athar, kiprahnya kelak seharum arti namanya.

Seperti banyak orang besar yang belajar kemandirian sejak dini, Hatta telah yatim sejak baru bisa merangkak. Berasal dari sebuah keluarga yang terpandang di Sumatera Barat, agama Islam dan aktivitas ekonomi perdagangan yang dikenalnya sejak kanak-kanak kelak banyak mempengaruhi pemikiran dan sikapnya. Berkat latar belakang keluarganya, ia bisa mengenyam pendidikan Belanda. Saat sekolah MULO di Padang itulah politik mulai menarik perhatiannya. Berawal dari kolom-kolom politik yang sering dibacanya di koran, Hatta menjadi bendahara di Jong Sumatranen Bond.

Lulus dari HBS tahun 1921 di Batavia, Hatta dengan dukungan biaya keluarganya yang banyak menjadi saudagar-saudagar besar di ibukota, melanjutkan pendidikan tingginya ke Rotterdam, mengambil jurusan ekonomi. Seolah sudah suratan takdir, Perhimpunan Indonesia (waktu itu masih bernama Indische Vereeniging) yang sebelumnya hanya merupakan wadah sosial untuk menyelenggarakan pesta-pesta dansa, mulai berubah haluannya di awal tahun dua puluhan. Tiga eksil politik dari Indische Partij berhasil menanamkan pentingnya kesadaran berbangsa bagi kaum intelektual muda tanah air.

Continue reading


2 Comments

Pendidikan Tanpa Mendidik

Menemukan artikel bagus di Opini Kompas (cetak) hari ini, 4 Agustus 2016. Tulisan ini panjang, tapi layak untuk dibaca dan diselami kedalaman maknanya, terutama bagi para orangtua serta penggiat dan pemerhati pendidikan. Selamat menikmati!

***

Dunia pendidikan kita sudah melenceng jauh dari orbit hakikat pendidikan sesungguhnya. Menteri silih berganti, tetapi pusat perhatiannya sama: administrasi pendidikan (anggaran, bantuan operasional sekolah, rancang bangun kurikulum, standar formal kompetensi guru, ujian nasional, dan sejenisnya).

Esensi pendidikan nyaris tak tersentuh. Paling jauh, yang dikembangkan dalam sistem persekolahan kita hanyalah “pengajaran” (onderwijs), yakni pemberian materi berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan. Mata pelajaran sarat muatan kognitif. Sukses pendidikan diukur oleh pencapaian anak dalam bidang penalaran seperti itu, seperti tecermin dalam muatan ujian nasional. Tak heran, banyak orangtua menambah jam pelajaran anaknya dengan mengikuti sejumlah kursus dalam/luar sekolah.

Bias pengajaran membuat dunia pendidikan pada umumnya mengabaikan tugas mendidik: memberikan tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Suhu pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, mengingatkan bahwa “pendidikan” (opvoeding) merupakan sesuatu yang lebih luas dan esensial daripada pengajaran. Pendidikan bermaksud “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- setingginya”.

Continue reading


12 Comments

Dosen Pindah Antaruniversitas, Mungkinkah?

Sumber: [2]

Sumber: [2]

Wacana bahwa sebaiknya pemerintah bisa menjembatani perpindahan dosen antaruniversitas mulai digulirkan oleh beberapa kalangan, salah satunya dalam artikel berikut ini. Meniru praktik serupa di negara-negara maju, banyak dampak positif yang bisa diambil dengan skema ini; diantaranya adalah pemerataan distribusi keahlian dosen, kompetisi yang lebih terbuka, dan egaliterianisme dalam kehidupan kampus. Tulisan ini akan menjawab apakah gagasan tersebut mungkin untuk diterapkan di dunia pendidikan tinggi Indonesia di saat ini.

Pasar bebas dosen

Mobilitas antaruniversitas jelas banyak manfaatnya. Namun, penting untuk dipahami bahwa perpindahan dosen bukanlah sesuatu yang dikendalikan sepenuhnya oleh regulator. Di negara-negara yang pendidikan tingginya maju, dosen pindah universitas semata mengikuti pasar bebas, dimana universitas mempunyai permintaan tenaga kerja, sementara dosen adalah titik-titik pasokan. Pemerintah tidak pernah membuat keputusan bahwa seorang dosen dari universitas A harus pindah ke universitas B dengan alasan apa pun. Perguruan tinggi diberi otonomi, termasuk dalam pengelolaan sumber daya manusianya.

Otonomi tersebut tercermin dari tata cara lowongan dosen baru. Sebuah universitas membuka lowongan dikarenakan dua hal; dosen yang lama berpindah kerja, atau sebuah program studi sedang berkembang sehingga memerlukan tambahan SDM. Jika lowongan di perguruan tinggi di Indonesia hanya mengenal posisi “dosen”, lowongan di luar negeri akan dengan spesifik menyebutkan jabatan fungsional yang sedang dibuka, apakah itu “lecturer”, “assistant professor”, “associate professor”, atau “full professor”.

Continue reading


2 Comments

Toleransi Tanpa Medsos

Kampungku itu kecil saja, kira-kira terdiri dari sekitar 2.500 rumah tangga. Layaknya kampung-kampung lain di republik ini, ekonomi desa pas-pasan. Kebanyakan penduduk bekerja hanya untuk hari itu saja. Upah yang didapat seorang suami di sore hari, besok pagi sudah habis untuk belanja istri di pasar. Kalau ada sedikit sisa uang, bakal dengan cermat disimpan untuk uang seragam nanti di awal tahun ajaran baru.

Laki-laki dan perempuan, mayoritas bekerja sebagai petani. Lebih tepatnya buruh tani, karena selama puluhan tahun, yang memiliki sawah hanya beberapa keluarga yang itu-itu saja. Sebagian lagi menjadi pegawai pabrik gula yang usianya sudah hampir seabad. Asapnya yang bunyinya tut-tut warnanya hitam, sesuram produktivitasnya. Dari jaman aku suka mengambil tebu dua puluhan tahun yang lalu sampai saat ini, efisiensi pabrik warisan Belanda itu bakal membuat seorang insinyur geleng-geleng kepala.

Toleransi dan kerukunan

Walaupun miskin dan tidak berpendidikan tinggi, Sukarno dan Muhammad Yamin pasti amat bangga dengan desaku. Pasalnya, tanpa pernah diajari, kami selalu mengamalkan sila ketiga Pancasila. Puluhan tahun kenal dengan desaku, belum pernah kudengar ribut-ribut dikarenakan SARA. Justru, orang-orang selalu berusaha untuk dengan bijak menjunjung persatuan di tengah keberagamannya.

Continue reading


Leave a comment

Peringkat Perguruan Tinggi di Indonesia: Fakta dan Problematika

Pada bulan Februari 2016, Kemristekdikti telah meluncurkan Klasifikasi dan Pemeringkatan Perguruan Tinggi di Indonesia tahun 2015 berdasarkan Keputusan Menristekdikti Nomor 492.a/M/KP/VIII/2015. Sebanyak 3.320 PTN dan PTS di seluruh Indonesia telah diperingkatkan. Berikut adalah daftar 30 PT peringkat teratas.

Rank PT Rank PT Rank PT
1 ITB 11 UNHAS 21 UNESA
2 UGM 12 UNAND 22 UNILA
3 IPB 13 UM 23 UNSRI
4 UI 14 UNY 24 USD
5 ITS 15 PETRA 25 UNPAR
6 UB 16 UNSOED 26 UMM
7 UNPAD 17 UNNES 27 UBAYA
8 UNAIR 18 PENS 28 UKWMS
9 UNS 19 UPI 29 UNIMED
10 UNDIP 20 UNRI 30 UNJA

Daftar lengkap peringkat PT dapat dilihat di tautan berikut ini. Namun sayangnya, baik dalam SK maupun lampiran, tidak disebutkan dengan jelas bagaimana metodologi penyusunan peringkat. Hanya disebutkan bahwa terdapat empat kriteria untuk menilai kualitas sebuah PT yaitu sumber daya manusia, manajemen, kegiatan mahasiswa, dan penelitian.

Continue reading


Leave a comment

Diskusi Makan Siang

Hari Senin saya janjian makan siang dengan Mas Ronny Prabowo di kantin Hanzehogeschool Groningen. Saya cukup sering makan siang dengan Mas Ronny sejak kami sama-sama menjadi Pengurus PPI Groningen tahun 2013/2014. Mungkin karena kami berdua sama-sama dosen, kami cukup senang berdiskusi tentang pernak-pernik pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen) dan pendidikan tinggi (dikti). Siang hari itu pun, kami mendiskusikan beberapa hal berikut ini:

Poin 1

Sertifikasi guru apakah sudah efektif dalam meningkatkan kualitas dikdasmen? Para lulusan terbaik SMA masih lebih tertarik untuk masuk jurusan teknik, ekonomi dan hukum alih-alih kuliah di perguruan tinggi eks IKIP. Sepertinya “kebanggan” dengan menjadi seorang guru belum terlalu tinggi. Kalau memang ini akar masalahnya, mungkin Kemdikbud bisa belajar dari program “Indonesia Mengajar”, yang kebetulan juga diluncurkan oleh Mendikbud yang sekarang. Dengan remunerasi yang tidak jauh berbeda dengan guru konvensional, IM berhasil menarik para lulusan terbaik dari seluruh Indonesia. Perlu dicari tahu apa “kebanggaan” dari IM yang dapat dimplementasikan ke pengelolaan guru SD/SMP/SMA.

Poin 2

Banyak orang berpendapat bahwa Indonesia perlu menerapkan metode dikdasmen seperti di negara-negara maju; misalnya di Finlandia, dimana siswa lebih banyak mainnya dibandingkan belajarnya. Apakah ini bisa efektif? Orangtua dari anak-anak Finlandia sudah makmur. Jadi kalau punya waktu luang, mereka bisa memakainya untuk kegiatan positif, misal hobi. Di Indonesia, dengan rata-rata penghasilan yang pas-pasan, masih syukur kalau waktu luang dipakai untuk mencari penghasilan tambahan. Tetapi kalau malah dipakai untuk nongkrong atau kegiatan yang negatif?

Poin 3
Continue reading


Leave a comment

Bagaimana Belanda Memajukan Penelitiannya

Seharusnya tidak ada perdebatan lagi bahwa kinerja penelitian kita memang masih memprihatinkan. Berdasarkan sumber-sumber yang terpercaya dari Kemristekdikti dan SCImago, sebanyak 5.000 makalah ilmiah telah diterbitkan di Indonesia pada tahun 2015. Indonesia memiliki sekitar 250.000 dosen. Dengan mengabaikan peneliti yang tersebar di berbagai lembaga penelitian dan Puslitbang Kementerian, maka rata-rata produktivitas menulis dosen hanyalah sebanyak 0,02 makalah per tahun.

Sebetulnya rendahnya produktivitas menulis ini cukup aneh. Selama studi doktoral di luar negeri, dosen-dosen kita rata-rata mampu untuk menghasilkan paling sedikit satu makalah ilmiah per tahun. Artinya, secara individual tidak ada yang salah dengan kapabilitas dosen Indonesia. Memang muncul beberapa pendapat bahwa rendahnya produktivitas menulis dikarenakan beban administrasi yang menumpuk. Namun kenyataannya, dosen-dosen senior yang tugas administrasinya relatif sudah berkurang, produktivitas artikel ilmiahnya pun tidak tinggi. Jika kemudian setelah kembali dari tugas belajar produktivitas menulis dosen menjadi mandek, kemungkinan kesalahan ada di sistem pengelolaan penelitian.

Sebagai kaum terdidik, dosen selalu bekerja berbasiskan metodologi. Artinya, jika semua tahapan diikuti dengan benar, hasil yang diharapkan bakal tidak terlalu jauh melenceng dengan yang diklaim oleh si pembuat metodologi. Begitu pula untuk kasus ini. Tulisan ini ditujukan untuk membahas sebuah “metodologi” pengelolaan penelitian yang mengacu kepada dunia pendidikan tinggi di negeri Belanda. Walaupun pasti ada variasinya, secara umum kaidah-kaidah pengelolaan penelitian di sana tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain yang memiliki budaya riset unggul. Continue reading