Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


2 Comments

Keluar dari Zona Nyaman, Belajar dari Bapak

Keluarga lengkap waktu nikahan saya (2012). Dari kiri ke kanan: Aan, Mas Hari, Ibu, Saya, Intan, Bapak, Mbak Eni

Keluarga lengkap waktu nikahan saya (2012). Dari kiri ke kanan: Aan, Mas Hari, Ibu, Saya, Intan, Bapak, Mbak Eni

Kalau dipikir-pikir lagi, keputusan Bapak saya untuk mengkuliahkan kakak yang pertama (Mas Hari) adalah tindakan yang hebat dan nekat. Kalau saya ada di posisi Bapak ketika itu, belum tentu saya bakal berani untuk mengambil keputusan yang sama.

Menurut saya pandangan ini tidak berlebihan. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya di catatan saya, “Pendidikan yang Mengubah Segalanya”, Bapak mulai mempunyai keinginan untuk mengkuliahkan anak pertamanya sudah sejak ketika Mas Hari masih SD. Kakak saya itu lahir tahun 1970, berarti keputusan Bapak itu sudah direncanakan sejak tahun 1980-an. Continue reading


8 Comments

Hadiah untuk Ibu

Sewaktu saya masih kecil, almarhumah nenek dari Bapak pernah bercerita, “dulu waktu masih muda, Ibumu pernah benar-benar menangis karena baju barunya yang sedang dijemur dicuri orang”. Setelah agak besar saya baru bisa mengerti maksud cerita beliau. Ibu adalah orang Nganjuk, dari daerah yang tandus di bagian Barat Jawa Timur. Karena saking miskinnya, kakek dan nenek dari Nganjuk mengirim Ibu sejak umur 4 tahun untuk ikut saudaranya yang sedang merantau di Semboro, Jember, di hampir ujung Timur Pulau Jawa.

Sejak kecil Ibu terpisah dari kedua orangtuanya. Karena saudara yang di Semboro juga hanyalah pedagang rawon, Ibu hanya bisa bersekolah sampai kelas 3 SD. Kemudian Ibu menikah dengan Bapak, tetangganya di Semboro. Bapak adalah seorang tamatan SD dan bekerja sebagai tukang bangunan. Bapak sering cerita kalau kehidupan di awal pernikahan mereka amatlah sulit. Jangankan memiliki sepetak sawah, untuk tempat tinggal mereka harus numpang mendirikan gubuk (literally gubuk bambu) di tanah milik saudara. Makan banyak yang di-godok (rebus) bukan karena ingin hidup sehat dengan tidak makan goreng-gorengan, tetapi karena memang tidak mampu untuk membeli minyak goreng.

Continue reading


6 Comments

Berterima Kasihlah kepada Istrimu

Seorang teman kuliah (perempuan) pernah berkata kepada saya, “Menjadi kalian (lelaki berpendidikan tinggi) itu sebetulnya sangat mudah. Istri kalian bisa mencari uang sendiri, yang mereka butuhkan hanyalah kasih sayang”.

Mendengar ucapannya saya terdiam. Apa yang ia ucapkan memang betul. Sebagai para lelaki yang mengenyam pendidikan tinggi, maka biasanya para perempuan yang berhasil kami persunting sebagai istri adalah mereka yang berpendidikan tinggi juga. Dalam kasus saya dan teman-teman di ITB, istri-istri kami tidak jauh dari alumni ITB juga, dokter Unpad, atau para perempuan yang mengenyam pendidikan di unversitas-universitas yang bagus. Continue reading


32 Comments

Pendidikan yang Mengubah Segalanya

Keluarga lengkap waktu nikahan saya (2012). Dari kiri ke kanan: Aan, Mas Hari, Ibu, Saya, Intan, Bapak, Mbak Eni

Keluarga lengkap waktu nikahan saya (2012). Dari kiri ke kanan: Aan, Mas Hari, Ibu, Saya, Intan, Bapak, Mbak Eni

Saya memiliki tiga orang saudara kandung. Kakak saya yang pertama (kelahiran 1970) lulusan Teknik Elektro, UB. Kakak kedua (kelahiran 1976) lulusan Teknik Sipil, ITS. Adik (kelahiran 1995) sedang kuliah di Akuntansi, UB. Saya sendiri (kelahiran 1986) lulusan Teknik Industri, ITB.

Kadang saya tidak habis pikir bagaimana bisa kami semua mengenyam pendidikan sarjana di perguruan tinggi negeri. Bagaimana tidak, saudara-saudara kami dari Bapak tidak ada sama sekali yang kuliah. Saudara-saudara dari Ibu ada yang kuliah, tetapi tidak banyak, dan semuanya di perguruan tinggi swasta. Orangtua kami jangan ditanya. Bapak (kelahiran 1942) hanya tamatan SD, sedangkan Ibu (kelahiran 1954) malah hanya sempat bersekolah sampai kelas tiga SD. Continue reading


Leave a comment

Tata Steel, Sinergi antara Profit dengan Kepedulian Sosial

Disarikan dari:

Tata Steel: A Century of Corporate Social Responsibilities. Kathryn Hughes, Jean-Francois Manzoni, Vikas Tibrewala. 2004. INSEAD-PricewaterhouseCoopers Research Initiative on High Performance Organizations.

“Pastikan jalanan ditumbuhi dengan pepohonan yang rimbun. Pastikan ada tempat yang cukup untuk taman-taman. Sisakan tempat untuk lapangan sepakbola dan hoki. Sediakan pula tempat untuk pura, masjid, dan gereja”. Begitu pesan yang disampaikan Jamsetji N. Tata –pendiri Tata Steel– pada 1919 ketika akan menyerahkan pengelolaan Tata Steel kepada puteranya. Semenjak dari awal berdirinya, perusahaan baja ini memang menaruh kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan kehidupan sekitarnya. Kota Jamshedpur –nama diberikan sebagai penghormatan terhadap Jamsetji N. Tata– diakui menjadi kota yang tertata dan memilihi kualitas kehidupan yang sangat baik. Continue reading