Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB


Leave a comment

Tugas dosen

Ujian di kelas

Mahasiswa kelas PTI B angkatan 2016 sedang mengikuti ujian tengah semester

Kejujuran dalam bekerja diawali dari kejujuran saat menjadi mahasiswa. Kalau masih muda sudah suka menyontek, tidak heran nanti kalau sudah berkarir gemar korupsi. Saya selalu bilang ke mahasiswa bahwa bodoh itu apa-apa, sedangkan bohong tidak boleh sama sekali.

Nilai C, D, E di transkrip, 10 tahun lagi tidak akan ada yang mempermasalahkan. Dapat straight A pun tidak selamanya dikenang orang. Namun kalau gemar menyontek, imej itu akan melekat, dan akan menjadi kebiasaan buruk seumur hidup.

Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar. Kita perlu insan yang jujur. Pinjam motto dari sekolahnya istri: knowledge is power, but character is more.

Continue reading


Leave a comment

Tempat makan di (sekitar) ITB yang bikin kangen

1. Gerbang belakang ITB

Gerbang belakang ITB. Sumber: [1]

Walaupun pekerjaan saya tetap di ITB, tetap saja kok rasanya kangen dengan tempat-tempat makan sewaktu jadi mahasiswa dulu. Maklum, setelah jadi dosen, saya selalu makan siang bersama-sama kolega di laboratorium. Menunya sih enak-enak, yang paling sering adalah RM Padang Sederhana, Ayam Pringgodani, Tojoyo, Pecel Madiun Hariangbanga, dan Sate Maulana Yusuf. Lebih enak lagi karena gratis, soalnya dibayari pakai dana lab, hihihi. Eh, ini bukan berarti kami korupsi uang mahasiswa ya. Uangnya itu juga berasal dari kami sendiri. Setiap kali dapat proyek dari BUMN/Kementerian atau dana hibah dari DIKTI, sebagian uangnya disisihkan untuk lab. Tidak ada aturan tertulis tentang ini, tetapi setiap orang melakukannya dengan sadar dan taat. Tentu demi keberlangsungan lab.

Tetapi kadang bosen juga makan yang itu-itu terus. Rindu juga dengan makanan-makanan ala mahasiswa S-1 dan S-2 dulu tahun 2004 s/d 2011 yang murah, tidak sehat, tapi enak. Beberapa makanan itu diantaranya adalah sebagai berikut. Mohon dikoreksi jika ada yang salah, karena ingatan saya sudah mulai berkarat.

Di sekitar gerbang belakang ITB

Warung-warung yang ada di sebelah utara ITB, di pinggir jalan Tamansari. Sebagai mahasiswa Teknik Industri yang kampusnya ada di bagian belakang, saya cukup sering kemari. Sayang, terakhir ke ITB tahun lalu, gerbang belakang cukup mengenaskan kondisinya. Kabarnya warung-warung disana sempat mengalami penggusuran. Walaupun sekarang sudah dibangun kembali, gerbang belakang yang ditutup membuat mahasiswa agak malas berkunjung. Terlihat dari pengunjung  yang tampak sepi. Continue reading


Leave a comment

Ayam Bakar Padang Talago Biru II Favorit Mahasiswa

Jalan Kidang Pananjung, dekat PDAM Dago, Bandung; Rp 12.000–15.000/porsi

Ayam yang sedang dibakar di atas bara api.

Ayam yang sedang dibakar di atas bara api.

Saya sangat terlambat mengenal kuliner yang satu ini. Saya baru mencoba makan disini pada saat awal kuliah magister tahun 2009. Waktu itu saya diajak oleh teman kosan, Babol. Sejak saat itu saya langsung merasa cocok dengan cita rasa dari warung yang sederhana ini.

Warung ini bernama Talago Biru II. Indeks “II” karena warung yang pertama ada di Jalan Tamansari, Bandung, dekat dengan Jalan Gelap Nyawang. Tetapi saya lebih suka makan di warung yang kedua. Ada beberapa alasan. Pertama tentu lebih dekat dengan kosan saya waktu itu di Cisitu Lama. Kedua rasanya menurut saya sama saja dengan warung yang pertama, dan terakhir di warung yang ini tempatnya tenda, sedikit agak lega dibandingkan dengan warung pertama yang hanya berupa bangunan kotak kecil.

Continue reading


Leave a comment

Warung Nasi Tradisional Khas Sunda Bu Tatang: feels like home

Sekeloa, Sekitar Dipati Ukur-Tubagus Ismail, Bandung; Rp 10.000–15.000/porsi

Dapur dan tempat makan yang jadi satu

Dapur dan tempat makan yang jadi satu

Pagi itu saya berangkat dari rumah mertua Ciwastra menuju Kampus ITB untuk dua tujuan, pertama adalah transaksi di bank dan kedua silaturahim dengan teman-teman dosen di TI ITB. Sampai lokasi perut terasa lapar, wajar karena saya berangkat sebelum jam 7 pagi tanpa sempat sarapan terlebih dahulu. Saya pun segera mengontak para Laskar Pajang mahasiswa-mahasiswa “senior” KMJB yang masih tersisa di Bandung; Uca, Zain, dan Brili untuk sarapan bersama, mereka mengusulkan untuk sarapan di Bu Tatang. Continue reading


4 Comments

Menyusuri Warung Makan di Cisitu dan Sekitarnya

Kawasan Cisitu dan sekitarnya adalah daerah yang sangat berkesan bagi saya. Tercatat saya mulai tinggal di daerah ini mulai bulan Agustus 2004 sampai dengan September 2012, atau selama delapan tahun satu bulan, sebuah waktu yang cukup kalau Anda ingin menempuh dua pendidikan sarjana. Setahun pertama, saya tinggal di Sangkuriang bersama dua teman seperjuangan dari Jember, Yandy dan Oky. Mempertimbangkan kontrakan di Sangkuriang yang cukup sempit, di bulan Juli tahun 2005 kami bertiga, ditambah satu adik angkatan anggota baru, Babol, mencari kontrakan baru dan akhirnya dapat di Jalan Cisitu Lama V/42 B1. Rumah inilah yang saya tempati sampai berakhir waktu tinggal saya di Cisitu. Continue reading