Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


7 Comments

Tidak (Perlu) Bangga Kuliah di ITB

Pertama kali masuk ITB, rasa bangga itu begitu mendalam. Apalagi datang dari daerah seperti saya. Rasanya “wow” sekali bisa diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Perasaan jumawa ini sebetulnya cukup masuk akal. Contoh, untuk bisa diterima di Teknik Industri ITB, seseorang harus ada di sekitar persentil 90 ujian masuk PTN. Artinya, kalau peserta ujian ada 300 ribu, berarti ada 270 ribu siswa SMA se-Indonesia yang nilainya ada di bawah mahasiswa baru TI ITB itu. Continue reading


4 Comments

“Doktor LPDP”, Hendak Dikemanakan?

Sejak diluncurkan pada tahun 2013, program beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) telah menjadi fenomena tersendiri. Program yang dinisiasi oleh Kementerian Keuangan ini memang cukup fenomenal. Selain kuota beasiswa untuk jenjang pendidikan magister dan doktoral yang disediakan berjumlah banyak, pengelolaannya pun terkesan lebih professional dibandingkan dengan program-program beasiswa lain dari pemerintah. Maka tidak heran, setiap tahunnya ribuan karyasiswa berbondong-bondong untuk mendaftar, mayoritas dari mereka berangkat studi lanjut ke luar negeri. Continue reading


7 Comments

Dosen Indonesia vs Dosen Luar Negeri

Selalu menarik untuk melakukan komparasi antara sesuatu hal di Indonesia dengan di luar negeri. Bukan untuk mengumbar pujian atas yang serba luar negeri dan melupakan bahwa di Indonesia sebetulnya juga masih ada baiknya. Tetapi, justru supaya kita bisa belajar hal-hal yang baik di mancanegara supaya kelak bisa diterapkan di tanah air.

Termasuk juga dalam masalah dosen, satu bidang yang saya tekuni sebagai sebuah pekerjaan selama ini. Continue reading


1 Comment

Cerita buku tabungan dan biaya kuliah yang tinggi

Menjelang lulus S-1 di tahun 2008, saya mencetak buku tabungan. Dari awal masuk kuliah tahun 2004 saya tidak pernah melakukan print out karena semua transaksi hanya lewat ATM. Karena tidak pernah dicetak selama 4 tahun, maka ditampilkanlah ringkasan (summary) debet dan kredit selama periode tersebut. Saya cek, nilainya ternyata sekitar Rp 200 juta. Continue reading


1 Comment

Analisis penghasilan lulusan ITB (baca secara menyeluruh)

Saya sama sekali tidak mengira bahwa tulisan tentang “Gaji lulusan ITB“, sampai dengan saat ini telah dibaca sampai lebih dari 19.000 kali dalam waktu kurang dari seminggu. Banyak yang mendiskusikan. Banyak juga terdapat pertanyaan. Hal ini membuat saya merasa perlu untuk membuat lanjutan tulisannya supaya sebiasa mungkin tidak ada yang salah paham. Sebelumnya, saya mohon pembaca untuk membaca tulisan ini secara hati-hati, detail dan menyeluruh. Jangan hanya membaca secara sepotong-sepotong. Supaya kelak tidak muncul pertanyaan-pertanyaan yang tidak diperlukan. Continue reading


8 Comments

Mengapa kuliah di luar negeri?

Sudah hampir dua tahun ini saya ada di Groningen, Belanda. Sejak bulan Desember 2012, saya ada di negeri yang dingin ini untuk menempuh pendidikan S-3. Tentu saya tidak membayar sendiri untuk pendidikan ini, orang tua saya juga tidak mungkin membiayai. Lha wong jika selesai sesuai rencana (4 tahun), biaya yang dihabiskan selama studi di Belanda minimal sebesar 1 miliar rupiah. Tidak mungkin saya maupun orang tua mempunyai uang nganggur sebesar itu, hehehe. Continue reading


2 Comments

Keluar dari Zona Nyaman, Belajar dari Bapak

Keluarga lengkap waktu nikahan saya (2012). Dari kiri ke kanan: Aan, Mas Hari, Ibu, Saya, Intan, Bapak, Mbak Eni

Keluarga lengkap waktu nikahan saya (2012). Dari kiri ke kanan: Aan, Mas Hari, Ibu, Saya, Intan, Bapak, Mbak Eni

Kalau dipikir-pikir lagi, keputusan Bapak saya untuk mengkuliahkan kakak yang pertama (Mas Hari) adalah tindakan yang hebat dan nekat. Kalau saya ada di posisi Bapak ketika itu, belum tentu saya bakal berani untuk mengambil keputusan yang sama.

Menurut saya pandangan ini tidak berlebihan. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya di catatan saya, “Pendidikan yang Mengubah Segalanya”, Bapak mulai mempunyai keinginan untuk mengkuliahkan anak pertamanya sudah sejak ketika Mas Hari masih SD. Kakak saya itu lahir tahun 1970, berarti keputusan Bapak itu sudah direncanakan sejak tahun 1980-an. Continue reading


2 Comments

Memanfaatkan Potensi dari Ledakan Beasiswa di Indonesia

Pemisahan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dari Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah masih menimbulkan keraguan di benak beberapa pihak. Namun, sepantasnya kita masih harus banyak bersyukur atas potensi yang dimiliki oleh Kemristekdikti. Mungkin tanpa banyak disadari, saat ini Indonesia sedang mengalami ledakan (booming) akan banyaknya kesempatan beasiswa untuk menempuh pendidikan lanjut magister dan doktor di mancanegara. Fase ini dimulai dari program Beasiswa Unggulan (BU) yang diluncurkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) pada tahun 2011 yang diperuntukkan untuk para calon dosen. Setahun kemudian, Bappenas dan dan beberapa kementerian lain memunculkan program beasiswa untuk pegawaianya lewat SPIRIT. Di tahun yang sama, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) membuka program beasiswa yang terbuka untuk umum. Tidak tanggung-tanggung, LPDP membidik dua ribu karyasiswa setiap tahunnya, lebih dari 80% diantaranya berangkat ke luar negeri. Continue reading


8 Comments

Hadiah untuk Ibu

Sewaktu saya masih kecil, almarhumah nenek dari Bapak pernah bercerita, “dulu waktu masih muda, Ibumu pernah benar-benar menangis karena baju barunya yang sedang dijemur dicuri orang”. Setelah agak besar saya baru bisa mengerti maksud cerita beliau. Ibu adalah orang Nganjuk, dari daerah yang tandus di bagian Barat Jawa Timur. Karena saking miskinnya, kakek dan nenek dari Nganjuk mengirim Ibu sejak umur 4 tahun untuk ikut saudaranya yang sedang merantau di Semboro, Jember, di hampir ujung Timur Pulau Jawa.

Sejak kecil Ibu terpisah dari kedua orangtuanya. Karena saudara yang di Semboro juga hanyalah pedagang rawon, Ibu hanya bisa bersekolah sampai kelas 3 SD. Kemudian Ibu menikah dengan Bapak, tetangganya di Semboro. Bapak adalah seorang tamatan SD dan bekerja sebagai tukang bangunan. Bapak sering cerita kalau kehidupan di awal pernikahan mereka amatlah sulit. Jangankan memiliki sepetak sawah, untuk tempat tinggal mereka harus numpang mendirikan gubuk (literally gubuk bambu) di tanah milik saudara. Makan banyak yang di-godok (rebus) bukan karena ingin hidup sehat dengan tidak makan goreng-gorengan, tetapi karena memang tidak mampu untuk membeli minyak goreng.

Continue reading