Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


1 Comment

Resensi Buku: Orang-Orang Bloomington (Budi Darma)

Buku Orang-Orang BloomingtonKarya sastra yang menurut saya bagus, adalah yang bisa membuat pembacanya merenungi maknanya. Saat membaca “Orang-Orang Bloomington” karangan Prof. Budi Darma, saya tidak hanya merenung, bahkan sampai terpekur. Dalam enam cerita pendek yang ada di buku ini, tidak ada yang latarnya istimewa. Biasa-biasa saja. Sepintas nampak seperti problematika manusia pada umumnya, yang tak perlu mendapat perhatian lebih.

Apa yang membuat pembaca harus bertahan dengan cerita-cerita seputar konflik antartetangga, kisah asmara, atau dinamika dalam keluarga? Lagipula, walaupun cerita-cerita ini ditulis saat pengarangnya sedang tugas belajar di Amerika Serikat, tidak banyak yang diceritakan Budi tentang keadaan di sana. Kita tidak terlalu bisa membayangkan seperti apa keadaan di Amerika, musimnya, kulturnya, kondisi sosial masyarakatnya. Gaya berceritanya pun cenderung datar, tanpa letupan-letupan peristiwa yang betul-betul memikat. Continue reading


Leave a comment

Doa untuk Surabaya

Rasanya sulit membayangkan perasaan teman-teman non-Muslim. Ibaratnya seperti saya hendak sholat Jum’at, tetapi takut pergi ke masjid. Seperti kalau ingin sekali mendengar ceramah seorang ustadz yang ditunggu-tunggu, tapi takut berada di masjid. Bahkan kalau sekadar memenuhi kebutuhan administratif seperti mentoring kuliah agama, saya pun tetap takut melangkah ke masjid.

Bagaimana tidak takut? Tempat ibadah saya setiap saat bisa diledakkan. Saya bisa pulang tinggal nama. Meninggalkan isteri dan anak yang masih kecil. Menyedihkan. Tidak bertemu dengan pacar saja kita sedih. Apalagi tidak menjenguk rumah Tuhan, yang bagi umat beragama, seharusnya menjadi yang paling dicintai. Continue reading


Leave a comment

Akhlak dan Agama

Tempo hari saya membaca sebuah artikel menarik dari seorang teman yang penulis beken. Isinya menceritakan bagaimana budaya tepat waktu di Belanda adalah sebuah bawaan. Namun itu bukanlah sebuah bawaan lahir (nature), melainkan sebuah dampak dari pengajaran (nurture). Bisa juga kita sebut sebagai an experimented nature. Pemerintah, dalam hal ini melalui lembaga pendidikan (sekolah), melakukan rekayasa sosial. Supaya kelak saat dewasa, warga negara Belanda memiliki sifat yang kurang lebih sama dalam hal tijden; tepat janji, tidak ngaret, dan menghargai waktu orang lain.

Artikel tersebut mengantarkan saya ke sebuah kontradiksi yang sudah terpikirkan sejak cukup lama. Jadi begini, jumlah orang yang tidak beragama (irreligious) sudah lebih dari separuh populasi Belanda. Namun, dalam hal akhlak ke sesama manusia dan ke alam, menurut saya mereka jauh lebih beradab dibandingkan dengan warga Indonesia, yang notabene hampir semuanya adalah insan yang terikat dengan afiliasi agama. Tentu Anda boleh tidak percaya, tetapi, saya empat tahun tinggal di negeri kincir angin, dan saya punya alasan-alasan kuat akan hal ini. Continue reading


1 Comment

Obrolan dengan Istri

Obrolan dengan istri waktu akhir pekan:

Kalau dikasih umur panjang, saya tidak mau kelak tinggal bersama anak-anak. Lebih baik hidup berdua dengan istri saja sampai tua. Kami tidak mau merepotkan orang lain.

Saya ingin sampai tua seperti Bapak, sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain, walaupun itu ke anak dan istri sendiri. Kalau ada urusan dinas, saya lebih suka pergi dan pulang sendiri ke/dari stasiun/bandara/pool travel, toh taksi/uber/gojek ada banyak. Maka jangan tersinggung kalau saya tidak mau diambilkan nasi atau disiapkan baju. Saya tidak mengawini kamu supaya saya bisa mendapatkan layanan semacam itu. Jangan merasa rikuh juga kalau setelah makan saya ikut membereskan piring kotor, itu sudah sewajarnya dalam kehidupan suami istri yang egaliter (sama rata).

Continue reading


Leave a comment

Kebetulan?

Di sekitar saya saja, banyak sekali “kebetulan” yang terjadi.

Saya

Bulan September 2008, tugas akhir (TA) saya sudah selesai setelah dua bulan berkutat dengan notasi matematis dan Visual Basic. Saya sudah mendapat tanggal untuk sidang sarjana. Saat itu, saya sudah mempunyai beberapa alternatif setelah lulus:

  1. Bekerja di perusahaan Fast-moving consumer goods (FMCG) yang menjadi salah satu destinasi kerja favorit lulusan Teknik Industri (TI). Saya sudah melewati tahap wawancara akhir.
  2. Bekerja di salah satu perusahaan konsultan asing yang juga menjadi favorit anak TI. Saya masih harus wawancara dengan user.
  3. Bekerja di BUMN regulator pangan yang salah satu kasusnya menjadi topik TA saya. Saya malah sudah disodori kontrak lengkap dengan rincian gajinya.

Tidak disangka-sangka, tiga hari sebelum sidang saya sakit. Rupanya kerja terus-menerus sepanjang bulan Ramadhan ditambah pola hidup yang kurang baik selama kuliah membuat organ dalam bermasalah. Usus dan lambung saya pecah. Jadilah saya harus bed-rest selama empat bulan penuh.

Continue reading


Leave a comment

Terbuang

Untuk T

Lunglai matanya merenda bayang
Dia yang terlarang melangkah datang
Nanar matanya mencari tautan
Tibakah saatnya untuk dicampakkan

Beku matanya menyorot hampa
Tanpa ampun lelaki itu berkata
Aku sudah berjasa!
Datanglah wahai adinda pelipur lara

Kosong matanya bersirat luka
Tubuh molek melenggok manja
Waras akalnya mencari logika
Buah hati tidak ranum tanpa jasa

Rayuan kenes naik ke ujung langit
Belati menanti menyayat kulit

Sorot matanya membakar ilalang
Di gubuknya sendiri ia terbuang
Tajam matanya menusuk tajam
Di rumahnya sendiri ia terbuang

Groningen, April 2016


Leave a comment

Guncang

Kelak kaubaca kata-kataku mengucap ngilu
Mengabarkan masa-masa penuh tikai
Juga nyeri orang-orang tercinta yang jatuh terbantai

Setiap kali sepi mengepung begini aku ingin direngkuhnya
Melekapkan kepala di dada, menyimak lebur sungai
Di balik bukit-bukit landai

Kelak kaubaca kata-kataku mengeja rindu
Kuseru namanya berulangkali dengan desir darah dalam nadi
Aku dicintai
Aku dilukai

Siapakah di antara kalian tak kepayang
Pada tubuhnya yang tembus pandang

Continue reading