Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB


1 Comment

Obrolan dengan Istri

Obrolan dengan istri waktu akhir pekan:

Kalau dikasih umur panjang, saya tidak mau kelak tinggal bersama anak-anak. Lebih baik hidup berdua dengan istri saja sampai tua. Kami tidak mau merepotkan orang lain.

Saya ingin sampai tua seperti Bapak, sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain, walaupun itu ke anak dan istri sendiri. Kalau ada urusan dinas, saya lebih suka pergi dan pulang sendiri ke/dari stasiun/bandara/pool travel, toh taksi/uber/gojek ada banyak. Maka jangan tersinggung kalau saya tidak mau diambilkan nasi atau disiapkan baju. Saya tidak mengawini kamu supaya saya bisa mendapatkan layanan semacam itu. Jangan merasa rikuh juga kalau setelah makan saya ikut membereskan piring kotor, itu sudah sewajarnya dalam kehidupan suami istri yang egaliter (sama rata).

Continue reading


Leave a comment

Kebetulan?

Di sekitar saya saja, banyak sekali “kebetulan” yang terjadi.

Saya

Bulan September 2008, tugas akhir (TA) saya sudah selesai setelah dua bulan berkutat dengan notasi matematis dan Visual Basic. Saya sudah mendapat tanggal untuk sidang sarjana. Saat itu, saya sudah mempunyai beberapa alternatif setelah lulus:

  1. Bekerja di perusahaan Fast-moving consumer goods (FMCG) yang menjadi salah satu destinasi kerja favorit lulusan Teknik Industri (TI). Saya sudah melewati tahap wawancara akhir.
  2. Bekerja di salah satu perusahaan konsultan asing yang juga menjadi favorit anak TI. Saya masih harus wawancara dengan user.
  3. Bekerja di BUMN regulator pangan yang salah satu kasusnya menjadi topik TA saya. Saya malah sudah disodori kontrak lengkap dengan rincian gajinya.

Tidak disangka-sangka, tiga hari sebelum sidang saya sakit. Rupanya kerja terus-menerus sepanjang bulan Ramadhan ditambah pola hidup yang kurang baik selama kuliah membuat organ dalam bermasalah. Usus dan lambung saya pecah. Jadilah saya harus bed-rest selama empat bulan penuh.

Continue reading


Leave a comment

Terbuang

Untuk T

Lunglai matanya merenda bayang
Dia yang terlarang melangkah datang
Nanar matanya mencari tautan
Tibakah saatnya untuk dicampakkan

Beku matanya menyorot hampa
Tanpa ampun lelaki itu berkata
Aku sudah berjasa!
Datanglah wahai adinda pelipur lara

Kosong matanya bersirat luka
Tubuh molek melenggok manja
Waras akalnya mencari logika
Buah hati tidak ranum tanpa jasa

Rayuan kenes naik ke ujung langit
Belati menanti menyayat kulit

Sorot matanya membakar ilalang
Di gubuknya sendiri ia terbuang
Tajam matanya menusuk tajam
Di rumahnya sendiri ia terbuang

Groningen, April 2016


Leave a comment

Guncang

Kelak kaubaca kata-kataku mengucap ngilu
Mengabarkan masa-masa penuh tikai
Juga nyeri orang-orang tercinta yang jatuh terbantai

Setiap kali sepi mengepung begini aku ingin direngkuhnya
Melekapkan kepala di dada, menyimak lebur sungai
Di balik bukit-bukit landai

Kelak kaubaca kata-kataku mengeja rindu
Kuseru namanya berulangkali dengan desir darah dalam nadi
Aku dicintai
Aku dilukai

Siapakah di antara kalian tak kepayang
Pada tubuhnya yang tembus pandang

Continue reading


2 Comments

Menjadi A Full Time Mother

The love of my life

The love of my live

Sewaktu masih bujangan, saya pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang teman. Seperti sewajarnya obrolan para mahasiswa, cepat atau lambat topik diskusi menyerempet ke masalah perempuan. Tetapi ketika itu obrolan kami sedikit bermutu.

Teman saya bertanya, kriteria perempuan seperti apakah yang kelak ingin saya jadikan sebagai seorang istri? Continue reading


Leave a comment

Solusi optimal dari cinta

Dalam metode optimisasi, solusi optimal itu bisa didapatkan dengan memperbesar ruang solusi. Dalam uji hipotesis, kesalahan tipe I (false positive) dan tipe II (false negative) itu bisa direduksi dengan memperbesar ukuran sampel.

Kaidah ini berlaku untuk hampir semua hal dalam kehidupan. Artinya, jika ingin mendapatkan hasil yang lebih baik, maka teruslah mencoba. Perbesar kemungkinan mendapatkan hasil terbaik dengan selalu mengeksplor ruang solusi yang lebih besar. Seperti prinsip di Teknik Industri: there is no a best way, there is always a better way.

Namun, ada satu pengecualian dimana prinsip ini tidak bisa diterapkan, yaitu Cinta. Dalam cinta, menurut saya kita tidak boleh coba-coba. Kalau selalu ingin memperbesar sampel, sampai kapan pun tidak akan pernah puas. Kalau selalu ingin dapat yang lebih baik, Anda tidak akan pernah jadi orang yang punya komitmen. Eventually, you will end up losing every thing.

Because love is not to find someone perfect, but to find someone who understands your imperfections perfectly.

Groningen, 24 Desember 2014, jam 09;30 CET