Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


2 Comments

Menjadi A Full Time Mother

The love of my life

The love of my live

Sewaktu masih bujangan, saya pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang teman. Seperti sewajarnya obrolan para mahasiswa, cepat atau lambat topik diskusi menyerempet ke masalah perempuan. Tetapi ketika itu obrolan kami sedikit bermutu.

Teman saya bertanya, kriteria perempuan seperti apakah yang kelak ingin saya jadikan sebagai seorang istri? Continue reading


Leave a comment

Solusi optimal dari cinta

Dalam metode optimisasi, solusi optimal itu bisa didapatkan dengan memperbesar ruang solusi. Dalam uji hipotesis, kesalahan tipe I (false positive) dan tipe II (false negative) itu bisa direduksi dengan memperbesar ukuran sampel.

Kaidah ini berlaku untuk hampir semua hal dalam kehidupan. Artinya, jika ingin mendapatkan hasil yang lebih baik, maka teruslah mencoba. Perbesar kemungkinan mendapatkan hasil terbaik dengan selalu mengeksplor ruang solusi yang lebih besar. Seperti prinsip di Teknik Industri: there is no a best way, there is always a better way.

Namun, ada satu pengecualian dimana prinsip ini tidak bisa diterapkan, yaitu Cinta. Dalam cinta, menurut saya kita tidak boleh coba-coba. Kalau selalu ingin memperbesar sampel, sampai kapan pun tidak akan pernah puas. Kalau selalu ingin dapat yang lebih baik, Anda tidak akan pernah jadi orang yang punya komitmen. Eventually, you will end up losing every thing.

Because love is not to find someone perfect, but to find someone who understands your imperfections perfectly.

Groningen, 24 Desember 2014, jam 09;30 CET


84 Comments

Stigma negatif perempuan Sunda, layakkah kita pertahankan?

Saya sudah lama ingin menulis soal ini. Tetapi belum menemukan cara yang baik supaya bisa ditulis in a delicate way. Tetapi terlalu lama dipikir malah bikin tidak jadi terus untuk ditulis. Oleh karena itu, coba ditulis sekarang. Sebelumnya saya mohon maaf jika ada pembaca yang tersinggung. Tulisan ini murni adalah pendapat saya. Isi tulisan ini juga tidak menggeneralisasi. Oleh karena itu, ketika saya bilang orang Jawa, tidak semua orang Jawa seperti itu, vice verse. Continue reading


Leave a comment

Korelasi antara durasi pacaran dengan harmonisnya pernikahan

Tulisan ini merupakan lanjutan dari opini saya sebelumnya.

Saya hanya mengenal sedikit ilmu statistika, tetapi saya berani bilang bahwa durasi masa pacaran itu tidak berkorelasi dengan tingkat keharmonisan waktu sudah menikah nanti. Artinya, suami-istri yang dulu masa pacaran (atau kenalan) nya singkat tidak selalu kalah harmonis dibandingkan mereka yang dulu pacarannya lama, vice versa. Bukti empirisnya mudah. Ada yang kenalan hanya beberapa bulan, menikah, ternyata harmonis sampai kakek-nenek. Di sisi lain, ada yang pacaran bertahun-tahun, keburu putus duluan sebelum menikah. Artinya, semua itu terjadi dengan acak. Continue reading


Leave a comment

Benarkah cinta itu yang terpenting di sebuah pernikahan?

Kira-kira dua minggu lalu, saya ditanya oleh seorang teman. Pertanyaanya sederhana, “Bagaimanakah kita bisa mendapatkan keyakinan bahwa seseorang itu adalah orang yang tepat untuk menjadi suami/istri/pasangan hidup kita?”. Pertanyaan ini klasik, dan sudah milyaran kali muncul di dunia ini. Teman saya ini belum menikah, dan karena saya sudah menikah, tentu ekspektasinya saya bisa menjawab pertanyaan dia. Saya coba berpikir sebentar, tetapi tetap saja sulit menjawabnya dalam kalimat yang sederhana. Continue reading