Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Resensi Buku Sukarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia: Bung Besar, Pengorbanan Besar

Buku Sukarno

Referensi gambar klik di sini.

Saat berkunjung ke California, Amerika Serikat, Presiden Sukarno minta diantarkan ke toko pakaian dalam. Isterinya minta dibelikan BH. Ternyata, Sang Pemimpin Besar Revolusi lupa berapa ukuran BH isterinya. Tentu saja di jaman itu berkomunikasi sangatlah sulit. Bung Karno tidak kehilangan akal. “Bisakah dikumpulkan ke sini semua pramuniaga, agar aku bisa menentukan ukuran mangkok daging ini?”

Setelah semua pramuniaga berbaris, presiden meneliti dengan hati-hati, sambil berkata, “Tidak, engkau terlalu kecil… oh, engkau kebesaran… ya, engkau pas sekali.” Ternyata ukurannya memang pas dengan BH isterinya (tidak disebutkan isteri yang mana).

Kecintaan Sukarno terhadap perempuan memang diakuinya sendiri dalam buku yang ditulis oleh Cindy Adams, “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Selain jumlah perempuan yang pernah dinikahinya sebanyak delapan, dia sendiri dalam banyak kesempatan tidak malu-malu mengungkapkan sifatnya yang satu ini. Continue reading


Leave a comment

Sutan Sjahrir Sang Demokrat Sosialis

Buku SyahrirKenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Mestinya kita semua bahwa baris-baris di atas adalah penggalan puisi “Karawang-Bekasi”, yang ditulis sang legenda, Chairil Anwar, di tahun 1948. Mungkin kebetulan bahwa Chairil masih terhitung kemenakan Sjahrir. Namun kalaupun tidak, si Bung Kecil, demikian ia disebut karena perawakannya yang pendek, memang di masa perang kemerdekaan amat populer di kalangan angkatan muda yang berjuang melawan Belanda yang kembali datang untuk menancapkan kembali kukunya di tanah air setelah kita merdeka. Continue reading


Leave a comment

Teladan dari Natsir dan Yamin

Buku. M Natsir

Sumber: [1]

Baru-baru ini saya membaca biografi dua tokoh besar jaman pergerakan nasional, Mohammad Natsir dan Muhammad Yamin. Kebetulan keduanya berasal dari Minangkabau. Alih-alih menuliskan ringkasan kisah hidup mereka sesuai dengan tahun kejadian, saya lebih suka untuk menyarikan mutiara teladan kehidupan dari kedua bapak bangsa ini.

***

Tahun 1927, saat usianya 18 tahun, Mohammad Natsir pindah dari Padang ke Bandung. Di kota kembang dia bersekolah di Algemeene Middelbare School (AMS). Di masa sekarang AMS setara dengan SMA dan saat itu menjadi sekolah menengah kelas dua. Natsir yang hanya anak seorang juru tulis tidak dapat bersekolah di Hogere Burger School (HBS) yang khusus diperuntukkan untuk anak-anak Belanda, Eropa, atau elite pribumi, diantaranya adalah Soekarno dan Tirto Adhi Suryo, yang dinovelkan Pram dalam Tetralogi Buru-nya itu.

Continue reading


Leave a comment

Pergeseran Peran Perhimpunan Indonesia

pergerakan-indonesiaDibandingkan dengan Budi Utomo ataupun Sumpah Pemuda, peran Perhimpunan Indonesia cenderung dilupakan dalam Kebangkitan Nasional. Padahal ditinjau dari dampak yang diberikan terhadap persiapan kemerdekaan Indonesia, posisi PI amatlah strategis.

Lewat tulisan dan kaderisasi

PI yang awalnya didirikan sekedar untuk menyelenggarakan pesta dansa dan berbagai aktivitas sosial lain bagi diaspora Indonesia di Belanda, mulai memasuki babak baru sejak para eksil dari Indische Partij aktif di dalamnya. Pelan namun pasti, Tjipto Mangoenkoesumo dan Soewardi Soerjaningrat mulai bisa menanamkan kesadaran akan pentingnya nasionalisme ke dalam organisasi. Di periode yang sama, PI yang waktu itu masih bernama Indische Vereeniging juga menerbitkan buletin “Hindia Poetra”, walaupun isinya belum secara eksplisit membahas politik.

Continue reading


1 Comment

Mohammad Hatta dalam Kenangan, 12 Agustus 1902 – 12 Agustus 2016

HattaHari ini, tepat seratus empat tahun yang lalu, seorang negarawan besar dilahirkan di Bukittinggi. Terlahir sebagai Mohammad Athar, kiprahnya kelak seharum arti namanya.

Seperti banyak orang besar yang belajar kemandirian sejak dini, Hatta telah yatim sejak baru bisa merangkak. Berasal dari sebuah keluarga yang terpandang di Sumatera Barat, agama Islam dan aktivitas ekonomi perdagangan yang dikenalnya sejak kanak-kanak kelak banyak mempengaruhi pemikiran dan sikapnya. Berkat latar belakang keluarganya, ia bisa mengenyam pendidikan Belanda. Saat sekolah MULO di Padang itulah politik mulai menarik perhatiannya. Berawal dari kolom-kolom politik yang sering dibacanya di koran, Hatta menjadi bendahara di Jong Sumatranen Bond.

Lulus dari HBS tahun 1921 di Batavia, Hatta dengan dukungan biaya keluarganya yang banyak menjadi saudagar-saudagar besar di ibukota, melanjutkan pendidikan tingginya ke Rotterdam, mengambil jurusan ekonomi. Seolah sudah suratan takdir, Perhimpunan Indonesia (waktu itu masih bernama Indische Vereeniging) yang sebelumnya hanya merupakan wadah sosial untuk menyelenggarakan pesta-pesta dansa, mulai berubah haluannya di awal tahun dua puluhan. Tiga eksil politik dari Indische Partij berhasil menanamkan pentingnya kesadaran berbangsa bagi kaum intelektual muda tanah air.

Continue reading


Leave a comment

Orang Minangkabau di Masa Pergerakan Nasional

Dengan jumlah penduduknya yang tidak sampai 5% dari penduduk Indonesia, peranan orang Minangkabau dari Sumatera Barat sangat signifikan dalam masa pergerakan nasional. Kita semua pasti akrab dengan tokoh-tokoh nasional seperti Agus Salim, M. Hatta, Sutan Syahrir, M. Natsir, M. Yamin, dan Tan Malaka. Belum lagi para intelektual yang tidak begitu terkenal seperti Datuk Djamin, Nazir Dt. Pamoentjak, Assaat, M. Djosan, dan M. Padang.

Dalam kabinet dan parlemen di jaman Orde Lama, jumlah politisi dari Minangkabau berimbang dengan orang Jawa, yang notabene populasinya 10-15 kali lipat lebih banyak.

Di bidang sastra, para pujangga dari Minangkabau malah hampir tidak terlawan. Terhitung dari Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Hamka, Roestam Effendi, Chairil Anwar, Idrus dan Asrul Sani, semua mendominasi dunia kepenulisan tanah air di jaman Balai Pustaka sampai angkatan 45. Tercatat hanya Achdiat K. Mihardja sebagai orang non-Minang yang cukup punya nama di masa itu.

Kenapa suku Minangkabau bisa melahirkan banyak cendekiawan? Mestinya ini menarik untuk dipelajari, dan kemudian diaplikasikan untuk dunia pendidikan di tanah air, sehingga kelak Indonesia bisa melahirkan generasi-generasi yang intelek.

Continue reading


Leave a comment

Teladan dari Khalifah Umar

Cerita I

Sewaktu menjadi khalifah, Umar bin Khattab menyediakan fasilitas publik berupa padang rumput yang untuk tempat penggembalaan ternak. Setiap rakyat Madinah bisa membawa ternaknya kesitu untuk diberi makan dan minum. Biaya pengelolaan padang rumput, termasuk gaji orang-orang yang bekerja disitu, dibayar dari Baitul Maal, yang mana sumber dana utamanya adalah dari zakat umat Muslim.

Saat sedang berkunjung ke padang rumput tersebut, Umar melihat bahwa ada seekor ternak yang lebih gemuk dari ternak-ternak yang lain. Umar pun memanggil petugas disitu. Continue reading