Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Pendidikan Kesehatan

olahragaPagi itu, di bulan Desember tahun lalu, sembari berlari di bawah birunya langit Kuta, saya berpikir. Seharusnya eberhasilan pendidikan tidaklah sesempit tingginya rata-rata nilai yang dicapai peserta kelas. Mestinya dampaknya diukur secara jangka panjang.

Ambil contoh mata pelajaran olahraga, atau di jaman saya sekolah dulu disebut sebagai pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes). Adakah dampak penjaskes yang terasa sampai sekarang? Kalau buat saya, tidak banyak. Malah cukup banyak memori kurang menyenangkan. Lari di tengah terik matahari dan ujian senam yang saya tidak lancar gerakannya adalah beberapa di antaranya. Kalau ada kesenangan main sepakbola dan bulutangkis, itu saya dapatkan di luar sekolah. Pada akhirnya, penjaskes tidak lebih sebuah formalitas, yang penting lulus dengan nilai cukup. Continue reading


Leave a comment

Membeli Kehidupan Sosial

sekolah di desaSejak kecil saya belajar dengan rajin. Menghabiskan bertahun-tahun di bangku sekolah. Dari TK sampai kuliah kita perlu waktu 18 tahun. Tujuh tahun di antaranya saya jalani dengan berjauhan dari keluarga. Banyak orang, dari SMP atau bahkan SD malah sudah merantau demi pendidikan.

Ratusan juta rupiah dikeluarkan para orangtua. Supaya kelak anak-anaknya bisa mendapatkan bekal yang baik di masa depan. Hasilnya, tentu saja tidak pernah saya keluhkan. Saya selalu bersyukur. Paling tidak jika melihat teman-teman dengan pola pendidikan serupa, hidup kami baik, lebih malah. Makan cukup, rumah layak, tidak kehujanan saat berkendara, dan kadang-kadang masih bisa liburan.

Namun kadang-kadang saya gamang. Saya dan isteri memang nyaman hidupnya. Tetapi, saya ragu kami sudah berhasil memberikan kebahagian yang sama seperti orangtua dulu memberikan ke saya semasa kecil. Makanan, kesehatan, pendidikan dan mainan tentu saja kami sudah berusaha menyediakan yang terbaik. Tetapi, apakah anak-anak pasti senang dengan itu saja? Continue reading


Leave a comment

Tidak Mengambil Keputusan di Tengah-Tengah

Bagi yang sering naik kereta api jaman dulu, apa kesan Anda? Jadwalnya tidak handal, gerbongnya kumuh, dan berantakan. Saya tambahkan satu lagi, tidak punya orientasi servis. Merasa tidak ada saingan, dan menganggap penumpang yang butuh, maka menjadi jumawa.

Saya dulu pelanggan KA jarak jauh, Bandung-Surabaya, kemudian lanjut ke Jember. Kehandalannya buruk sekali. Jadwalnya sampai Gubeng jam 5.00, bisa sampainya jam 7.30. Di tengah perjalanan, tiba-tiba berhenti di tengah sawah selama dua jam. Tanpa ada satu pun petugas KA yang berinisiatif menjelaskan apa yang terjadi. Belum lagi pedagang asongan yang lebih punya kuasa masuk kereta dibanding penumpang, copet, dsb.

Kemudian datanglah Ignasius Jonan. Selama menjabat sebagai Dirut PT KAI, tidak ada yang memungkiri bahwa dia telah membawa perubahan besar. Operasi kereta api menjadi lebih handal, rapi, dan bersih. Namun, usahanya itu tidak tanpa tantangan. Salah satunya datang dari pedagang asongan. Mereka menganggap bahwa Jonan telah menghilangkan mata pencaharian para pedagang. Pasalnya, setelah puluhan tahun dengan bebas berjualan, sekarang akses tidak diberikan sama sekali. Continue reading


2 Comments

Sabar

OBB Austria

Brosur dari OBB (KAI-nya) Austria

Tempo hari saya membaca sebuah artikel, yang memberitahukan bahwa Mathieu Flamini -eks gelandang Arsenal- saat ini adalah pesepakbola terkaya di dunia. Jauh melebihi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Para pecinta bola pasti sudah tahu bahwa dibandingkan Messi, Ronaldo dan para pesepabola top lainnya, karir Flamini biasa-biasa saja. Jadi logikanya, tidak mungkin kekayaannya itu berasal dari gaji, atapun endorsement di luar sepakbola.

Apakah Flamini ini berasal dari keluarga kaya seperti Andrea Pirlo, yang bapaknya punya pabrik baja? Ternyata tidak juga. Justru sebaliknya, Flamini mendapatkan kekayaannya dari perusahaan yang sedang dirintisnya bersama Pasquale Granata sejak tahun 2008 yang lalu. Continue reading


Leave a comment

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Di kampung halaman saya, setiap kali Lebaran tiba, kami punya sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan, mungkin ratusan tahun. Setelah sholat Idul Fitri, alih-alih berlebaran ke saudara-saudaranya, orang-orang mengunjungi tetangga-tetangga terdekatnya terlebih dahulu. Saya yakin, ritual yang semacam ini tidak hanya di Semboro, Jember. Melainkan pastilah banyak juga dipraktikkan di berbagai kampung di seluruh penjuru tanah air.

Begitu pula dengan keluarga saya. Sepulangnya dari sholat sunnah, biasanya kami makan lagi, karena yang dimakan sebelum berangkat sholat tidaklah terlalu mengenyangkan. Setelah itu, lengkap dengan seluruh anggota keluarga, kami berkeliling ke sekitar 15 sampai 20 rumah tetangga. Bersalam-salaman, bermaaf-maafan, dan duduk mencicipi kue yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Setelah usai, barulah kami menuju rumah saudara-saudara yang jaraknya jauh dari rumah untuk bersilaturahmi.

Continue reading


Leave a comment

Pelajaran dari Utara

Photo 08-06-2017, 4 48 17 pmMungkin warna kulit kita tidaklah sama, norma yang kita anut beraneka rupa, bahkan Tuhan yang kita sembah pun berbeda. Namun, negara ini tidak berdiri atas dasar kesamaan lahiriah. Indonesia dilahirkan atas perasaan sebangsa, senasib dan sepenanggungan. Identifikasi itu sudah jelas terdefinisi sejak jaman Majapahit, Sriwijaya, yang kemudian ditegaskan dalam Sumpah Pemuda, hampir seratus tahun yang lalu.

***

Di saat tidak sampai seperlima pemuda-pemudi tanah air yang berkesempatan untuk mencicipi sehari pun bangku kuliah, saya cukup beruntung untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi lebih dari satu dekade. Namun, itu tidak boleh membuat saya besar kepala, merasa tahu segalanya, serta menganggap diri ini paling bijaksana. Terkadang, masyarakat akar rumput memiliki kearifannya sendiri yang tidak pernah diajarkan di kelas oleh guru-guru sekolah.

Continue reading


Leave a comment

Mensyukuri Persatuan

Persatuan bangsa Indonesia mungkin tidak terlalu sering kita syukuri. Lahir sebagai generasi yang jauh dari masa perang kemerdekaan, dan jarang membuka sejarah, membuat persatuan kita anggap sebagai hal yang datang dengan cuma-cuma.

Selama jalan-jalan di Eropa, saya sering berpikir. Benua Eropa ini luasnya tidak beda jauh dengan Indonesia, tapi terbagi ke dalam lebih dari 50 negara.

Austria dan Hungaria hanya terpisah 4 jam perjalanan darat. Ceko dan Slovakia malah cukup ditempuh selama 3 jam. Beda bahasa, beda budaya, dan beda orientasi politik membuat empat negara yang dahulu pernah bersatu-padu itu sekarang berdiri sendiri-sendiri, dan bubarlah Kekaisaran Austria-Hungaria yang dulu megah.

Bahkan yang bahasanya sama, juga berdiri sendiri sebagai dua negara terpisah. Contohnya adalah Belanda dan Belgia yang jaraknya hanya setengah perjalanan dari Yogya ke Bandung.

Continue reading