Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB


Leave a comment

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Di kampung halaman saya, setiap kali Lebaran tiba, kami punya sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan, mungkin ratusan tahun. Setelah sholat Idul Fitri, alih-alih berlebaran ke saudara-saudaranya, orang-orang mengunjungi tetangga-tetangga terdekatnya terlebih dahulu. Saya yakin, ritual yang semacam ini tidak hanya di Semboro, Jember. Melainkan pastilah banyak juga dipraktikkan di berbagai kampung di seluruh penjuru tanah air.

Begitu pula dengan keluarga saya. Sepulangnya dari sholat sunnah, biasanya kami makan lagi, karena yang dimakan sebelum berangkat sholat tidaklah terlalu mengenyangkan. Setelah itu, lengkap dengan seluruh anggota keluarga, kami berkeliling ke sekitar 15 sampai 20 rumah tetangga. Bersalam-salaman, bermaaf-maafan, dan duduk mencicipi kue yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Setelah usai, barulah kami menuju rumah saudara-saudara yang jaraknya jauh dari rumah untuk bersilaturahmi.

Continue reading


Leave a comment

Pelajaran dari Utara

Photo 08-06-2017, 4 48 17 pmMungkin warna kulit kita tidaklah sama, norma yang kita anut beraneka rupa, bahkan Tuhan yang kita sembah pun berbeda. Namun, negara ini tidak berdiri atas dasar kesamaan lahiriah. Indonesia dilahirkan atas perasaan sebangsa, senasib dan sepenanggungan. Identifikasi itu sudah jelas terdefinisi sejak jaman Majapahit, Sriwijaya, yang kemudian ditegaskan dalam Sumpah Pemuda, hampir seratus tahun yang lalu.

***

Di saat tidak sampai seperlima pemuda-pemudi tanah air yang berkesempatan untuk mencicipi sehari pun bangku kuliah, saya cukup beruntung untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi lebih dari satu dekade. Namun, itu tidak boleh membuat saya besar kepala, merasa tahu segalanya, serta menganggap diri ini paling bijaksana. Terkadang, masyarakat akar rumput memiliki kearifannya sendiri yang tidak pernah diajarkan di kelas oleh guru-guru sekolah.

Continue reading


Leave a comment

Mensyukuri Persatuan

Persatuan bangsa Indonesia mungkin tidak terlalu sering kita syukuri. Lahir sebagai generasi yang jauh dari masa perang kemerdekaan, dan jarang membuka sejarah, membuat persatuan kita anggap sebagai hal yang datang dengan cuma-cuma.

Selama jalan-jalan di Eropa, saya sering berpikir. Benua Eropa ini luasnya tidak beda jauh dengan Indonesia, tapi terbagi ke dalam lebih dari 50 negara.

Austria dan Hungaria hanya terpisah 4 jam perjalanan darat. Ceko dan Slovakia malah cukup ditempuh selama 3 jam. Beda bahasa, beda budaya, dan beda orientasi politik membuat empat negara yang dahulu pernah bersatu-padu itu sekarang berdiri sendiri-sendiri, dan bubarlah Kekaisaran Austria-Hungaria yang dulu megah.

Bahkan yang bahasanya sama, juga berdiri sendiri sebagai dua negara terpisah. Contohnya adalah Belanda dan Belgia yang jaraknya hanya setengah perjalanan dari Yogya ke Bandung.

Continue reading


Leave a comment

Meng-Tionghoa-kan Kaum Pribumi

Beberapa waktu yang lalu saya dibuat kesal oleh bangsa saya sendiri, atau dalam bahasa sehari-hari kita sebut sebagai “kaum pribumi”. Perkaranya terjadi saat transaksi pembelian barang, dimana saya merasa kualitas sikap (attitude) dari pribumi kalah jauh dari saudara sebangsa dan setanah air, yang sering kita sebut sebagai “Cina/Tionghoa”.

Kejadian pertama adalah saat saya perlu membeli plastik pembungkus makanan. Di Bandung, pedagang-pedagang plastik banyak ditemui di Cibadak, dekat dengan alun-alun. Walaupun dari dulu Bapak saya bilang, “kalau beli sesuatu, belilah ke toko orang Cina, karena umumnya mereka tidak nggedabrus (Jawa: membual/berbohong)”, selama ini saya tidak punya preferensi. Begitu pula waktu itu, saya menuju ke sembarang toko yang parkir motornya cukup lega.

Tiba di toko, yang ternyata pemilik dan pegawainya adalah pribumi, saya bertanya apakah mereka punya plastik vacuum, dijawab ada, tapi untuk menutup plastiknya perlu mesin vacuum yang harganya paling murah dua juta rupiah. Karena memang tidak ada niat untuk membeli mesin semahal itu, spontan saya nyeletuk, “wah, mahal ya”.

Continue reading


Leave a comment

Makanan dan Tata Krama

Makanan dan tata krama itu mirip-mirip. Tergantung selera dan daerah. Tidak bisa dipukul rata harus sama untuk semua orang. Serba relatif.

Orang Jogja berpendapat kalau gudeg yang manis itu nikmat. Buat orang Madura, belum tentu sama. Apakah salah kalau orang Madura tidak suka gudeg? Jelas tidak. Orang Madura, makan soto pun kadang masih ditambahi garam. Mereka suka asin, itulah yang mereka biasa dari kecil. Asin adalah bagian dari hidup mereka yang tidak terpisahkan.

Begitu juga dalam hal bertata-krama. Ada yang cium tangan sebagai bentuk penghormatan ke yang lebih tua. Tetapi ada juga yang hanya berjabat tangan. Bukannya tidak hormat, tetapi karena mereka terbiasa dengan budaya yang egaliter (sama rata). Ada bangsa yang suka berterus terang. Ada juga yang menganggap bahwa dibicarakan nanti setelah pertemuan resmi usai itu lebih bijak. Ada suku yang perempuan-perempuannya kalau ingin mobil langsung bilang ke suaminya, namun ada juga yang mintanya muter-muter dulu, walaupun intinya juga tetap ingin punya mobil.

Continue reading


4 Comments

Generasi Muda, Ayo Bertanggung Jawab!

Irama musik kendang kempul terus menghentak. Penyanyi yang bajunya tampak terlalu sempit itu tidak kenal lelah terus bergoyang, walaupun dengan suara yang tidak bagus-bagus amat. Di bawah panggung, ratusan penonton seolah tersihir untuk ikut berjoget dan berdesak-desakan. Sudah bisa dipastikan, keesokan harinya anak-anak kampung tidak bisa bermain bola. Lapangan menjadi lautan sampah, rumputnya pun tercerabut amburadul.

Di ujung sana, tampak seorang remaja pria mendekap pacarnya dengan mesra. Kena sorot temaram lampu petromaks dari gerobak tukang kacang goreng, wajah si perempuan tersipu malu. Setelah saling berbisik, keduanya bergandengan tangan menuju gedung temaram di seberang.

Gedung itu rupanya bekas sarana olahraga. Bekas kolam renang dengan menara loncat yang hampir ambruk ada di sisi kiri. Di sayap kanan, garis-garis samar menunjukkan kalau di situ dulu mestinya orang bermain bulutangkis. Mereka menuju ruang tengah yang bersekat-sekat. Mungkin bekas tempat tidur atau kamar mandi atlet. Makin mendekati tujuan, suara-suara yang bisa membuat jantung berdesir menandakan kalau bangunan itu tidaklah sepi. Bekas bungkus Durex, Fiesta, dan macam-macam merk lain berserakan di lantai. Kaki si pemuda tidak sengaja menendang sesuatu, rupanya bekas botol minuman. Suara botol kaca yang bergelontangan membuat ada yang melongok. Tampak jelas dari ekspresi wajahnya kalau ia sedang berada dalam pengaruh alkohol. Di belakangnya terlihat kaki seorang perempuan. Dua orang pemuda itu hanya saling tersenyum setelah bersitatap, seolah telah paham maksud masing-masing.

***

Continue reading


6 Comments

Generasi Membaca untuk Indonesia Jaya

Sumber: [1]

Sumber gambar: [1]

Tahukah Anda berapa rata-rata jumlah buku yang dibaca orang Indonesia? Hanya tiga judul saja per tahun, jauh di bawah negara-negara maju yang mencapai 20-30 judul. Demikian berdasarkan rilis dari Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Masih berdasarkan hasil penelitian dari PNRI, diperoleh fakta bahwa masyarakat tanah air berusia di atas sepuluh tahun yang gemar membaca hanya sebesar sepuluh persen. Sembilan puluh persen sisanya, atau lebih dari seratus lima puluh juta jiwa lebih suka menonton televisi.

Apakah Anda juga tahu, dulu di masa kolonial, berapakah rata-rata buku yang dibaca oleh seorang siswa? Menurut sastrawan Taufiq Ismail, lulusan sekolah menengah atas sebelum tahun 1930-an diwajibkan untuk membaca minimal dua puluh lima novel dan menulis seratus delapan puluh artikel selama tiga tahun masa pendidikannya. Dengan kurikulum yang menekankan budaya literasi yang tinggi, tidak mengherankan jika para pendiri bangsa memiliki kemampuan budi bahasa yang mumpuni.

Continue reading