Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


4 Comments

Generasi Muda, Ayo Bertanggung Jawab!

Irama musik kendang kempul terus menghentak. Penyanyi yang bajunya tampak terlalu sempit itu tidak kenal lelah terus bergoyang, walaupun dengan suara yang tidak bagus-bagus amat. Di bawah panggung, ratusan penonton seolah tersihir untuk ikut berjoget dan berdesak-desakan. Sudah bisa dipastikan, keesokan harinya anak-anak kampung tidak bisa bermain bola. Lapangan menjadi lautan sampah, rumputnya pun tercerabut amburadul.

Di ujung sana, tampak seorang remaja pria mendekap pacarnya dengan mesra. Kena sorot temaram lampu petromaks dari gerobak tukang kacang goreng, wajah si perempuan tersipu malu. Setelah saling berbisik, keduanya bergandengan tangan menuju gedung temaram di seberang.

Gedung itu rupanya bekas sarana olahraga. Bekas kolam renang dengan menara loncat yang hampir ambruk ada di sisi kiri. Di sayap kanan, garis-garis samar menunjukkan kalau di situ dulu mestinya orang bermain bulutangkis. Mereka menuju ruang tengah yang bersekat-sekat. Mungkin bekas tempat tidur atau kamar mandi atlet. Makin mendekati tujuan, suara-suara yang bisa membuat jantung berdesir menandakan kalau bangunan itu tidaklah sepi. Bekas bungkus Durex, Fiesta, dan macam-macam merk lain berserakan di lantai. Kaki si pemuda tidak sengaja menendang sesuatu, rupanya bekas botol minuman. Suara botol kaca yang bergelontangan membuat ada yang melongok. Tampak jelas dari ekspresi wajahnya kalau ia sedang berada dalam pengaruh alkohol. Di belakangnya terlihat kaki seorang perempuan. Dua orang pemuda itu hanya saling tersenyum setelah bersitatap, seolah telah paham maksud masing-masing.

***

Continue reading


6 Comments

Generasi Membaca untuk Indonesia Jaya

Sumber: [1]

Sumber gambar: [1]

Tahukah Anda berapa rata-rata jumlah buku yang dibaca orang Indonesia? Hanya tiga judul saja per tahun, jauh di bawah negara-negara maju yang mencapai 20-30 judul. Demikian berdasarkan rilis dari Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Masih berdasarkan hasil penelitian dari PNRI, diperoleh fakta bahwa masyarakat tanah air berusia di atas sepuluh tahun yang gemar membaca hanya sebesar sepuluh persen. Sembilan puluh persen sisanya, atau lebih dari seratus lima puluh juta jiwa lebih suka menonton televisi.

Apakah Anda juga tahu, dulu di masa kolonial, berapakah rata-rata buku yang dibaca oleh seorang siswa? Menurut sastrawan Taufiq Ismail, lulusan sekolah menengah atas sebelum tahun 1930-an diwajibkan untuk membaca minimal dua puluh lima novel dan menulis seratus delapan puluh artikel selama tiga tahun masa pendidikannya. Dengan kurikulum yang menekankan budaya literasi yang tinggi, tidak mengherankan jika para pendiri bangsa memiliki kemampuan budi bahasa yang mumpuni.

Continue reading


Leave a comment

Antara Baik dan Buruk

Sengsara cover

“Sengsara Membawa Nikmat” terbit pada tahun 1929, dan merupakan karya Tulis Sutan Sati yang paling terkenal. Cukup banyak orang yang mengetahui karya sastra ini, salah satu alasannya adalah karena diangkatnya novel ini ke layar kaca di tahun 1991. Ketika itu masyarakat mengenal serial “Si Midun” di TVRI, dimana Sandy Nayoan dan Desy Ratnasari didapuk sebagai protagonis utama.

Mengambil latar cerita yang sebagian besar terjadi di Sumatera Barat, SMN mengetengahkan permasalahan klasik yang berulangkali terjadi di dalam dunia ini, pertentangan antara baik dan buruk. Midun, seorang pemuda alim, mulia akhlaknya, dan pandai silat, harus menderita hidupnya karena Kacak, yang dengki dan iri hati.

Kacak merasa Midun telah menyerobot perhatian orang kampung yang seharusnya ditumpahkan kepadanya. Anak peladang seperti Midun tidak seharusnya menjadi bintang. Kacak adalah kemenakan Tuanku Laras, pembesar di kampung mereka. Dalam adat Minangkau yang matrilineal, penanggung jawab dari seseorang adalah paman dari pihak ibunya. Maka, Kacak pongah dan merasa bisa berbuat semaunya.

Continue reading


1 Comment

Pendidikan Tanpa Mendidik

Menemukan artikel bagus di Opini Kompas (cetak) hari ini, 4 Agustus 2016. Tulisan ini panjang, tapi layak untuk dibaca dan diselami kedalaman maknanya, terutama bagi para orangtua serta penggiat dan pemerhati pendidikan. Selamat menikmati!

***

Dunia pendidikan kita sudah melenceng jauh dari orbit hakikat pendidikan sesungguhnya. Menteri silih berganti, tetapi pusat perhatiannya sama: administrasi pendidikan (anggaran, bantuan operasional sekolah, rancang bangun kurikulum, standar formal kompetensi guru, ujian nasional, dan sejenisnya).

Esensi pendidikan nyaris tak tersentuh. Paling jauh, yang dikembangkan dalam sistem persekolahan kita hanyalah “pengajaran” (onderwijs), yakni pemberian materi berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan. Mata pelajaran sarat muatan kognitif. Sukses pendidikan diukur oleh pencapaian anak dalam bidang penalaran seperti itu, seperti tecermin dalam muatan ujian nasional. Tak heran, banyak orangtua menambah jam pelajaran anaknya dengan mengikuti sejumlah kursus dalam/luar sekolah.

Bias pengajaran membuat dunia pendidikan pada umumnya mengabaikan tugas mendidik: memberikan tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Suhu pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, mengingatkan bahwa “pendidikan” (opvoeding) merupakan sesuatu yang lebih luas dan esensial daripada pengajaran. Pendidikan bermaksud “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- setingginya”.

Continue reading


Leave a comment

Potret Sosial dalam Novel “Atheis”

Atheis cover

Sungguh tragis riwayat Hasan. Maksud mulia hendak mengislamkan kembali Rusli dan Kartini, dua orang yang disebutnya sebagai kafir-kafir modern, malah dirinya terjebak ke dalam pusaran hidup yang sungguh berlawanan arah. Tidak hanya gagal, Hasan justru terbawa hidup materialistis seperti dua kawannya yang atheis itu.

Rajin beribadah, namun tidak alim, karena sesungguhnya Hasan memang kurang berilmu agama. Dia adalah penganut tarekat yang taat. Hasan pernah mandi di sungai Cikapundung selama empat puluh kali dalam semalam. Pernah juga dia mengunci diri di kamar selama tiga hari dan tiga malam, tanpa makan, minum, dan tidur. Namun, amalan-amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad itu tidak pernah membangkitkan gairahnya untuk bertanya. Walaupun di masa itu termasuk sebagai golongan langka yang bisa mengenyam pendidikan Belanda, Hasan bukanlah seorang intelektual yang gemar mencari tahu jawaban akan alasan terjadinya suatu peristiwa. “Apa artinya kata-kata ”Arab” (?) itu sampai kini aku tidak tahu.” (Bagian Ketiga) Bahkan untuk hal yang mendasar seperti memahami makna dari bacaan doa yang dipanjatkannya setiap saat, sikapnya apatis.

Hasan beragama hanya karena terbiasa. Selain itu, ketakutan akan neraka mendorongnya untuk sangat patuh dalam menjalankan tarekatnya. Namun lagi-lagi pemahamannya akan neraka itu didapatkan hanya dari potongan-potongan dongeng masa kecil. Maka tidak heran, pondasi keimanannya itu seperti kaca. Tampak indah dan menyilaukan mata orang awam, namun sesungguhnya amat rentan dan tidak mampu menopang permasalahan hidupnya.

Continue reading


Leave a comment

Orang Minangkabau di Masa Pergerakan Nasional

Dengan jumlah penduduknya yang tidak sampai 5% dari penduduk Indonesia, peranan orang Minangkabau dari Sumatera Barat sangat signifikan dalam masa pergerakan nasional. Kita semua pasti akrab dengan tokoh-tokoh nasional seperti Agus Salim, M. Hatta, Sutan Syahrir, M. Natsir, M. Yamin, dan Tan Malaka. Belum lagi para intelektual yang tidak begitu terkenal seperti Datuk Djamin, Nazir Dt. Pamoentjak, Assaat, M. Djosan, dan M. Padang.

Dalam kabinet dan parlemen di jaman Orde Lama, jumlah politisi dari Minangkabau berimbang dengan orang Jawa, yang notabene populasinya 10-15 kali lipat lebih banyak.

Di bidang sastra, para pujangga dari Minangkabau malah hampir tidak terlawan. Terhitung dari Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Hamka, Roestam Effendi, Chairil Anwar, Idrus dan Asrul Sani, semua mendominasi dunia kepenulisan tanah air di jaman Balai Pustaka sampai angkatan 45. Tercatat hanya Achdiat K. Mihardja sebagai orang non-Minang yang cukup punya nama di masa itu.

Kenapa suku Minangkabau bisa melahirkan banyak cendekiawan? Mestinya ini menarik untuk dipelajari, dan kemudian diaplikasikan untuk dunia pendidikan di tanah air, sehingga kelak Indonesia bisa melahirkan generasi-generasi yang intelek.

Continue reading


Leave a comment

Kartu Nama (cerpen)

Tidak pernah kuduga kedatanganku ke kampung halaman kali ini bakal mempertemukanku dengan kejadian yang cukup luar biasa. Awalnya aku hanya mampir untuk menjenguk Ibu, setelah kebetulan kantor menugaskanku untuk menjalin kerjasama dengan universitas di J. Ibu yang setelah jadi janda bersikeras tidak mau ikut tinggal dengan anak-anaknya, sore itu tidak menyambutku dengan keriangannya yang biasa ia tunjukkan ketika bertemu dengan anak dan cucunya.

Aku khawatir isteriku sudah lapor ke Ibu perihal pertengkaran hebat kami beberapa hari yang lalu. Dengan raut muka yang tidak bisa kutebak maknanya, Ibu bilang,

“Melayatlah ke Widi. Dhuhur tadi dia meninggal setelah minggu lalu ditembak polisi. Kau masih ingat bukan rumahnya dimana?”

Tidak perlu dijelaskan kekagetanku. Tentang Widi, Ibu sudah sering menyampaikan salam dari teman masa kecil itu. Setiap kali datang ke Desa S, Ibu tidak kenal bosan menegurku supaya menemuinya. Sebuah anjuran yang tidak pernah aku laksanakan, dengan alasan rasa lelah setelah perjalanan dari B, atau waktu yang habis untuk memenuhi rengekan anak-anak yang minta diantar jalan-jalan di J.

Telanjur malu dan menyesal karena tidak pernah sempat bertemu, aku bergegas pergi tanpa minta penjelasan lebih lanjut ke Ibu tentang tertembaknya Widi. Lagipula, aku tidak ingin mendengar lanjutan berita yang lebih mengguncangkan hati.

Continue reading