Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB


Leave a comment

Membuat rencana perjalanan liburan

Mengirim kartu pos. Salah satu rutinitas setiap kali liburan.

Mengirim kartu pos. Salah satu rutinitas setiap kali liburan.

Membuat rencana perjalanan (itinerary) liburan itu mudah. Bisa dikerjakan oleh siapapun, asalkan mengerti caranya. Dalam artikel kali ini, saya akan membagikan tips dan trik membuat itinerary berdasarkan pengalaman kami jalan-jalan di Eropa selama tiga tahun terakhir. Di akhir tulisan, saya telah menyertakan beberapa tautan untuk mengunduh beberapa contoh rencana perjalanan.

Pertanyaan paling mendasar? Mengapa harus membuat itinerary? Bukankah lebih menyenangkan kalau langsung datang ke destinasi wisata, duduk santai, dan menikmati liburan?

Ya, memang betul. Tapi kalau Anda liburannya ikut tur. Tinggal bayar kemudian mengikuti petunjuk. Kalau tidak mampu bayar tur, semua harus direncanakan sendiri. Mulai dari pesawat, jalur transportasi dalam kota, sampai beli makan, semua sendiri. Repot? Iya. Tapi menyenangkan. Kita pun bisa menyesuaikan rencana liburan sesuai keinginan dan minat kita tanpa tergantung ke orang lain.

Continue reading


4 Comments

Mencoba Serumah.com

Serumah

Kalau ada yang bertanya, apa itu serumah.com, maka saya akan balik bertanya, sudahkah pernah mencoba Airbnb? Sebagai seorang mahasiswa yang gemar jalan-jalan, mencari penginapan adalah hal yang penting. Karena saya sudah punya seorang isteri dan anak yang masih berumur setahun, penginapan yang berkualitas namun dengan harga terjangkau bahkan lebih penting dibandingkan dengan tiket pesawat yang sedang promo. Dalam hal ini, apartemen penting buat kami, karena ada dapur, kalau ingin memasak makanan buat Kinan tidak terlalu repot.

Continue reading


5 Comments

ITB atau STAN?

Ada yang mengirim surel ke saya, menanyakan mana yang sebaiknya dipilih, ITB atau STAN. Saya yakin lulusan-lulusan SMA dari daerah, banyak yang memiliki kegalauan seperti ini. Untuk itu, mungkin ada baiknya jika saya bagikan di blog ini percakapan saya dengan si penanya. Pendapat saya ini tentu tidak selalu harus diikuti, dan tidak selalu benar. Setiap orang bebas berpendapat masing-masing. Semoga bermanfaat!

***

Wa’alaikum salam wr. wb.,

Sdr. XXX,

Saya senang sekali mendapat email semacam ini. Pertama, saya ucapkan selamat untuk Anda. Anda bisa diterima di ITB, Jepang, Turki, dan STAN, sudah jelas kalau Anda adalah siswa yang memiliki cukup kecerdasan. Janganlah terlalu merendah. Menjadi rendah hati itu harus, tetapi Anda juga perlu untuk percaya diri dengan kemampuan sendiri.

Kalau bisa saya simpulkan, Anda saat ini mempunyai problematika memilih antara ITB dan STAN, dimana ada tiga faktor utama yang mengganjal, yaitu finansial, apa yang dipelajari, dan pekerjaan setelah lulus. Baiknya saya bahas satu per satu.

Finansial

Tidak bisa dimungkiri, kuliah di ITB saat ini tidak murah. Saat ini ITB menerapkan kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp 10 juta/semester. Selain itu, meskipun Anda tinggal di Bandung XXX, sepertinya tidak memungkinkan bagi Anda untuk pulang pergi rumah-kampus setiap hari. Maka, Anda perlu kos. Untuk biaya kos dan makan di sekitar ITB, setidaknya Anda butuh Rp 1-1,5 juta/bulan.

Continue reading


Leave a comment

Tetap Prima Melayani Negeri Walau Terpisah 14.000 km

Rumah yang bisa terbangun berkat pelayanan BNI yang prima.

Rumah yang bisa terbangun berkat pelayanan BNI yang prima.

Rasanya hampir putus asa saat itu. Impian sejak dulu untuk memiliki rumah sendiri kelihatannya bakal sirna seketika. Di saat kontraktor sudah sepakat dengan harga, saya terkendala untuk mengirim dananya. Uang sebesar 250 juta rupiah sudah tersedia di rekening. Namun, saat itu banyak hambatan teknis yang membuat dana tersebut sulit untuk terkirim. Padahal, tanpa adanya uang, kontraktor bisa membatalkan kesepakatan. Bukan cuma kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kontraktor berkualitas dengan harga borongan yang murah, saya pun bisa dianggap telah mempermainkan mereka, sehingga kelak sulit untuk mendapatkan kepercayaan lagi.

Kendala jarak

Saat itu, di bulan Mei 2015, saya memang sedang berada di Belanda. Sejak akhir tahun 2012 saya bersama istri tinggal di negeri kincir angin, tepatnya di kota Groningen. Saya dikirim oleh perguruan tinggi tempat saya bekerja untuk tugas belajar program doktoral. Selama itu, rekening BNI saya tetap aktif, karena sebagai seorang PNS, saya tetap mendapatkan kiriman gaji setiap bulannya.

Bukannya bermaksud untuk menyombongkan diri, sejak awal bekerja di tahun 2011, saya jarang sekali mengurus rekening di BNI. Pasalnya, gaji dan berbagai honor dosen yang terkirim kesitu selama ini sengaja saya perlakukan sebagai “uang mati”. Bukannya tidak perlu uang, justru dana di BNI saya persiapkan sebagai tabungan, yang hanya boleh dipakai kalau keadaan amat mendesak. Artinya, saya harus bisa disiplin untuk mencukupkan kebutuhan dari sumber pendapatan yang lain, misalnya dari proyek konsultansi, investasi, atau honor menulis di media.

Continue reading


Leave a comment

Perpustakaan Keluarga dan Budaya Literasi

Beberapa waktu yang lalu saya membuat basis data kecil-kecilan untuk mencatat buku saya, Intan, dan Kinan. Sebetulnya ini sudah dirintis sejak 2 tahunan yang lalu. Latar belakang proyek kecil ini cukup sederhana. Dulu waktu kecil, banyak buku dan komik saya yang hilang setelah dipinjam teman-teman. Jika tercatat dengan baik, hilangnya buku dapat diminimasi.

Basis data ini sederhana saja. Hanya berupa catatan menggunakan Google Spreadsheet. Berikut tautan dan contohnya.

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1RtkgDB8Z1q9y7lq11Im_PAVfliObQMM3swGQKhuWFrw/edit#gid=846508825

Basis data perpustakaan.

Basis data perpustakaan.

Continue reading


2 Comments

Kapan sebaiknya lanjut S-2/S-3?

“Apakah setelah lulus S-1 sebaiknya saya bekerja dulu atau lanjut kuliah S-2?”

“Kapan waktu yang paling baik untuk kuliah lagi?”

“Apakah saya perlu untuk kuliah sampai S-3?”

Saya cukup sering menerima pertanyaan semacam ini. Biasanya dari teman, junior waktu kuliah, maupun mahasiswa. Saya yakin tidak ada jawaban yang baku, karena perbedaan kondisi setiap orang bisa amat beragam. Tetapi, saya selalu berusaha menjawab dengan rule of thumb yang saya bikin sendiri. Untuk menemukan jawabannya, Anda harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Q1: Apakah berencana untuk jadi dosen/peneliti?

Jika sudah yakin ingin berkarir menjadi dosen atau peneliti (researcher), sebaiknya Anda segera sekolah lagi begitu lulus S-1. Tidak hanya lanjut S-2. Niatkan dalam hati untuk langsung meneruskan ke jenjang S-3 begitu dapat gelar magister. Untuk menjadi seorang dosen atau peneliti, Anda harus memiliki kemampuan untuk melakukan riset independen. Kemampuan itu didapatkan dari pendidikan doktoral.

Jika Anda menjawab tidak, lanjut ke pertanyaan kedua. Continue reading


Leave a comment

Serba-Serbi Jurusan Teknik Industri

Life at the Nano Technology Factory

Sumber: http://www.jantoo.com/cartoon/68138688, diakses 12 Maret 2016.

Teknik Industri (TI) adalah salah satu jurusan kuliah yang paling diminati siswa SMA di Indonesia. Waktu lulus SPMB (sekarang SBMPTN) tahun 2004, kabarnya passing grade jurusan TI ITB ketika itu sekitar 55-57%. Lebih dari satu dekade kemudian, saat saya sudah menjadi dosen di tempat yang sama, dimana mahasiswa baru diterima di fakultas dulu baru kemudian dijuruskan di semester 3, Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB tetap memiliki passing grade yang tinggi.

Di perguruan-perguruan tinggi yang lain, fenomenanya kurang lebih sama. Biasanya syarat masuk TI hanya kalah tinggi dari Kedokteran, Teknik Informatika, Teknik Elektro, atau Teknik Kimia.

Banyaknya peminat TI kadang tidak diimbangi dengan informasi yang memadai. Hal ini mungkin disebabkan karena TI yang agak “berbeda” dengan jurusan teknik yang lain. Continue reading