Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


6 Comments

Serba-Serbi Jurusan Teknik Industri

Life at the Nano Technology Factory

Sumber: http://www.jantoo.com/cartoon/68138688, diakses 12 Maret 2016.

Teknik Industri (TI) adalah salah satu jurusan kuliah yang paling diminati siswa SMA di Indonesia. Waktu lulus SPMB (sekarang SBMPTN) tahun 2004, kabarnya passing grade jurusan TI ITB ketika itu sekitar 55-57%. Lebih dari satu dekade kemudian, saat saya sudah menjadi dosen di tempat yang sama, dimana mahasiswa baru diterima di fakultas dulu baru kemudian dijuruskan di semester 3, Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB tetap memiliki passing grade yang tinggi.

Di perguruan-perguruan tinggi yang lain, fenomenanya kurang lebih sama. Biasanya syarat masuk TI hanya kalah tinggi dari Kedokteran, Teknik Informatika, Teknik Elektro, atau Teknik Kimia.

Banyaknya peminat TI kadang tidak diimbangi dengan informasi yang memadai. Hal ini mungkin disebabkan karena TI yang agak “berbeda” dengan jurusan teknik yang lain. Continue reading


2 Comments

Mengelola dan merencanakan keuangan pribadi

Menjelang akhir tahun 2009, saya berkumpul bersama keluarga di Jember untuk merayakan Idul Adha. Suatu momen yang langka, karena selama kuliah S-1 dari bulan Agustus 2004 sampai wisuda bulan April 2009, saya tidak pernah pulang saat lebaran kurban. Selain pertimbangan ongkos transportasi, biasanya juga tidak ada libur panjang di kampus. Namun, ketika itu saya sudah memulai program S-2. Selain itu, saya juga sudah mempunyai penghasilan sendiri dari hasil kerja sebagai asisten peneliti dan pengajar di sebuah bimbingan belajar. Kombinasi adanya uang dan program magister yang tidak terlalu sibuk membuat saya ketika itu memutuskan untuk pulang di saat lebaran haji yang ketika itu jatuh di bulan Nopember. Continue reading


7 Comments

Desain rumah memanjang ke samping, cerita rumah pertama

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. Sejak dua bulan yang lalu pembangunan rumah kami di Bandung telah dimulai. Ini adalah rumah pertama kami. Sebetulnya rencana awal adalah kami baru mulai menyicil rumah nanti setelah selesai S-3 dan kembali ke tanah air, berarti sekitar awal 2017. Sebelum berangkat ke Belanda di akhir tahun 2012, saya dan Intan menggunakan tabungan yang kami miliki untuk membeli dua unit angkutan kota (angkot). Angkot jurusan Ciwastra – Gasibu (no. 09) tersebut dikelola oleh Ibu mertua di Bandung yang memang sudah berpengalaman dalam bisnis ini. Daripada menyimpan uang di bank dan termakan inflasi, mending uang diinvestasikan. Bisa menghasilkan uang per bulan dengan jumlah lumayan, selain itu, angkot nanti juga bisa dijual kembali. Continue reading


Leave a comment

Solusi optimal dari cinta

Dalam metode optimisasi, solusi optimal itu bisa didapatkan dengan memperbesar ruang solusi. Dalam uji hipotesis, kesalahan tipe I (false positive) dan tipe II (false negative) itu bisa direduksi dengan memperbesar ukuran sampel.

Kaidah ini berlaku untuk hampir semua hal dalam kehidupan. Artinya, jika ingin mendapatkan hasil yang lebih baik, maka teruslah mencoba. Perbesar kemungkinan mendapatkan hasil terbaik dengan selalu mengeksplor ruang solusi yang lebih besar. Seperti prinsip di Teknik Industri: there is no a best way, there is always a better way.

Namun, ada satu pengecualian dimana prinsip ini tidak bisa diterapkan, yaitu Cinta. Dalam cinta, menurut saya kita tidak boleh coba-coba. Kalau selalu ingin memperbesar sampel, sampai kapan pun tidak akan pernah puas. Kalau selalu ingin dapat yang lebih baik, Anda tidak akan pernah jadi orang yang punya komitmen. Eventually, you will end up losing every thing.

Because love is not to find someone perfect, but to find someone who understands your imperfections perfectly.

Groningen, 24 Desember 2014, jam 09;30 CET


8 Comments

Mengapa kuliah di luar negeri?

Sudah hampir dua tahun ini saya ada di Groningen, Belanda. Sejak bulan Desember 2012, saya ada di negeri yang dingin ini untuk menempuh pendidikan S-3. Tentu saya tidak membayar sendiri untuk pendidikan ini, orang tua saya juga tidak mungkin membiayai. Lha wong jika selesai sesuai rencana (4 tahun), biaya yang dihabiskan selama studi di Belanda minimal sebesar 1 miliar rupiah. Tidak mungkin saya maupun orang tua mempunyai uang nganggur sebesar itu, hehehe. Continue reading


Leave a comment

Italia: Eloknya kota Florence

Florence dari Piazzale Michelangelo

Florence dari Piazzale Michelangelo

Kami sengaja berangkat dari Bologna agak pagi supaya mempunyai waktu yang banyak di Florence, kota tujuan selanjutnya. Kereta sampai di kota kelahiran Renaissance ini jam 10:40, setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam. Kereta yang kami pakai adalah Frecciargento, kelas kedua dari kereta cepat di Italia. Kereta jenis ini mampu berjalan dengan kecepatan 250 km/jam. Tiketnya cukup mahal untuk jarak sedekat itu, 13 Euro per orang.

Dari stasiun Firenze Santa Maria Novella kami menuju ke penginapan menggunakan bis. Sempat agak bingung mencari halte bisnya, karena ternyata banyak platform. Continue reading


Leave a comment

Italia: Mencari obyek wisata di Bologna

Via Del' Indipendenza

Via Del’ Indipendenza

Setelah berkemas-kemas, kami berangkat dari Stasiun Milano Centrale dengan kereta pukul 12:35 pada hari Sabtu, 16 Agustus 2014. Perjalanan sejauh 245 km ditempuh selama 2 jam. Kami menggunakan kereta FrecciaBianca yang dikelola oleh Trenitalia, perusahaan kereta api di negeri pasta. FrecciaBianca adalah jenis kereta yang digunakan untuk jarak jauh dengan kecepatan terkecil dari jenis lain, yaitu sekitar 200 km/jam. Kereta di Italia bagus, lebih bagus dari NS-Belanda. Untuk perjalanan ini, harga tiket yang kami bayar adalah sebesar Euro 19/orang. Tentu tiket sudah kami pesan dari jauh-jauh hari. Continue reading